Citas sana

Hoy hemos seleccionado estas citas sobre la salud y lo que significa estar saludable para inspirarte y animarte a realizar tu viaje personal hacia una vida más equilibrada. Citas célebres de vida sana. La mente tiene una gran influencia sobre el cuerpo, y las enfermedades a menudo tienen su origen allí. Jean Baptiste Molière Grupo Mentesana es una clínica de salud mental en Cali. Atención en psiquiatría, psicología y tratamiento de adicciones. Calle María Barrientos, 15 VILLAVERDE BAJO (Metro: Villaverde-El Cruce. Bus: 23 - 130. ) Sana Citas whether women really need it's? Liked Oranges Protect Women from Stroke. Posted by Criz at 3:22 AM Sunday, February 26, 2012 Fruits and vegetables contain many antioxidants that are proven to effectively counteract the free radicals that are harmful to the body. But what kind of fruit can ward off stroke is still unknown. Condiciones de citas online. Si necesitas reservar una: (1) Cita adicional, (2) Cita para Chequeo preventivo ó (3) Cita en SANNA \ Clínica Sánchez Ferrer y SANNA \ Clínica Belén, llama a la Central de Atención SANNA Ver Teléfonos. Recuerda, las citas online aplican sólo para Médicos Asociados a SANNA, no médicos de reemplazo ni médicos particulares. INGRESO SISTEMA CITAS EN LINEA SEDE SANTA ANA Usuario Contraseña 'Señor usuario si para esta cita presenta fiebre, tos, dificultad respiratoria, no se presente a la cita y coordine su atención llamando a su respectivo EBAIS para descartar Covid 19.' ...

Komodos, what was your childhood dream? What happened to it?

2020.08.11 14:17 blooregardo Komodos, what was your childhood dream? What happened to it?

Apa mimpi / cita-cita kalian di waktu kecil?
Bagaimana dengan realitas sekarang? Tercapai kah? Lagi proses menuju ke sana? Atau banting setir kerja di bidang lain?
Are you happy now? Atau masih berusaha meraih cita-cita terpendam tersebut?
submitted by blooregardo to indonesia [link] [comments]


2020.08.04 06:01 bot_painani FOTOS: Con cita previa, solo para entrega de credencial y sana distancia, reabren módulos del INE

FOTOS: Con cita previa, solo para entrega de credencial y sana distancia, reabren módulos del INE submitted by bot_painani to Mexico_News [link] [comments]


2020.08.04 06:01 bot_painani FOTOS: Con cita previa, solo para entrega de credencial y sana distancia, reabren módulos del INE

FOTOS: Con cita previa, solo para entrega de credencial y sana distancia, reabren módulos del INE submitted by bot_painani to mexico_politics [link] [comments]


2020.07.25 03:22 Bosanpacaran Wawancara - [Arczre]

Cerpen

​ ​
Tahun 1965 merupakan tahun yang kelam bagi perjalanan republik ini. Sesuatu yang besar terjadi di tahun itu. Sesuatu peristiwa yang akan dikenang dengan dua macam cara. Cara pertama akan dikenang sebagai sebuah peristiwa besar yang akan mengakarkan kebencian membabi buta hingga beranak cucu. Cara kedua akan menjadi trauma terbesar bagi republik ini. Semuanya adalah bencana.
[](https://i.postimg.cc/tT6YStHP/68d3c5472150684.png)*
Kereta api yang mengantarkanku pun tiba. Hari sudah pagi ketika itu. Stasiun Kota Kediri menyambutku dengan embun tipis yang menempel di kaca kios-kios penjual makanan. Kulihat anak-anak kecil pemungut minyak yang tumpah di sepur tanki milik pertamina sudah mulai memasang tas kresek hitam besar. Mereka adalah para penjarah cilik. Rupanya kebiasaanku dulu waktu kecil yang melakukan hal itu masih menurun hingga sekarang.
Saat aku mulai melangkah keluar dari stasiun para tukang becak langsung berebutan untuk menawarkan jasa mereka. Masih pukul 6 pagi. Kereta Matarmaja memang datang lebih awal dari biasanya. Terlebih jemputanku belum datang sekarang. Aku terpaksa menolak bapak-bapak tukang becak tersebut saat aku melihat warung nasi pecel tumpang yang tak jauh dari sana. Sudah lama, kurang lebih 15 tahun lamanya aku tidak pernah merasakan lagi sajian kuliner sambel tumpang. Belum memakannya saja aku sudah bisa memikirkan bagaimana rasanya. Ah, kangen sekali mengingat masa-masa itu.
Sepincuk nasi pecel dan sambel tumpang sudah aku pesan. Aku nikmati sarapan pagi itu setelah semalaman tidak menjamah makanan apapun di dalam kereta. Aku terlibat perbincangan dengan beberapa orang yang ikut menjadi langganan di warung ini. Mereka menceritakan tentang kota Kediri yang sudah aku tinggalkan cukup lama. Mulai dari mal-mal baru yang dibangun. Pembangunan jalan, pertokoan, dan masih banyak yang lainnya. Aku sampai berpikir bahwa kota ini sudah menjadi kota konsumtif.
Adapun tujuanku rela jauh-jauh dari Jakarta ke Kediri adalah karena satu hal. Aku sedang mencari narasumber tentang pembantaian yang terjadi saat peristiwa 1965. Menurut Andika sepupuku yang tinggal di kota ini ada saksi hidup dari peristiwa mengerikan tersebut. Andika bisa mengantarkanku ke tempat orang itu. Aku rela melakukan ini juga tuntutanku sebagai seorang wartawan media elektronik yang terkemuka di negeri ini. Menguak luka lama memang tidak mudah, tapi aku tetap berharap aku bisa mewawancarai tokoh tersebut.
Tak terasa sarapan yang aku pesan tadi sudah habis. Segelas teh hangat pun meluncur memasahi kerongkonganku. Perutku kenyang sekarang. Tinggal menunggu sepupuku itu. Kuberitahu kepada dia kalau aku sedang sarapan di warung dekat stasiun. Dia pun kemudian datang.
“Udah lama mas Kim?” sapa Andika.
“Eh, An? Iya sampe habis dua piring,” jawabku.
“Hahahaha, sepurane mas. Tadi harus bantu-bantu ibu dulu,” ujarnya.
“Yowis, ayuk! Langsung wae,” kataku.
Singkat cerita dengan diantar Andika, aku pun menuju ke rumah tempat saksi sejarah itu. Mobil yang kami tumpangi berjalan dengan santai melintasi kota kecil ini. Setelah melewati jalanan besar, kami berbelok ke sebuah jalan kampung.
“Orangnya tinggal di daerah pedesaan mas. Dulu sampeyan kan pernah main juga ke tempat ini,” terang Andika.
“Iya, tapi sudah lama An. Semenjak ibu meninggal aku sudah tidak di sini lagi. Bagaimana kabar keluargamu?” tanyaku.
“Baik koq. Ibu sehat, adik juga sehat. Sekarang aku bekerja di sebuah perusahaan travel mas,” jawabnya. “Semenjak bapak nggak ada, aku yang satu-satunya jadi tulang punggung keluarga. Mas, sendiri bagaimana kabarnya di Jakarta?”
“Yah, beginilah An. Dinikmati saja. Apalagi menjadi wartawan memang sudah jadi cita-citaku sejak dulu. Untungnya istriku pengertian. Kami satu profesi sama-sama mengejar berita, walaupun beda kantor. Hahahaha,” gelakku.
“Koq bisa? Saingan gitu ceritanya?” tanya Andika keheranan.
“Iya, tapi kami sama-sama pengertian koq. Yang seru itu kalau mengambil berita dari sumber yang sama. Kami sering berebut gitu. Tapi menyenangkan. Kalau sudah pulang ke rumah ya sudah melupakan semuanya. Di lapangan aja kami seperti musuhan. Kalau udah di rumah ya udah selesai. Urusan kerjaan ya urusan kerjaan, urusan rumah ya urusan rumah,” jelasku.
Setelah mengemudi selama satu jam, kami sampai di sebuah jalanan yang tidak beraspal. Sebuah pedesaan yang agak jauh dari jalan raya. Mobil melaju pelan melewati pemakaman yang ditumbuhi pepohonan besar yang menjorok ke tepi jalan. Pemandangan mobil masuk desa merupakan pemandangan yang tidak biasa di sana tentu saja. Berapa banyak orang yang punya mobil di desa seperti ini?
Mobil berbelok ke sebuah rumah yang mempunyai halaman yang cukup luas. Setelah mematikan mesin kami pun keluar. Andika langsung menuju ke pintu dan mengetuknya.
“Assalaamu'alaykum?” sapa Andika.
“Wa'alaykum salam,” sahut orang yang ada di dalam rumah. Seorang perempuan paruh baya dengan baju daster bercorak merah kehitaman keluar dari dalam. Melihat kami berdua sepertinya perempuan itu sudah mengetahui siapa kami. “Oh, ini yang mau mewawancarai mbah Malik?”
“Inggih bu, mbah dateng pundi (iya bu, mbah ada di mana)?” tanya Andika.
Tiba-tiba seseorang datang dari arah lain. “Weilah dalah, ini mas A'an ya?”
Kami berdua membalikkan badan melihat seorang lelaki tua yang membawa kelewang. Tampak kayu bakar ada di punggungnya pun diletakkan di halaman rumahnya.
“Sri, tulung beberen kayu iki yo nduk. Ben ora melempem pas digawe masak (Sri, tolong jemur kayu ini. Biar tidak melempem ketika digunak untuk memasak)!” perintah kakek tua ini.
Singkat cerita kami kemudian duduk di bale-bale sementara Sri perempuan tadi membuatkan kami kopi. Setelah itu dia membeber kayu-kayu yang dibawa oleh kakek ini di halaman rumahnya. Dua pak rokok Dji Sam Soe tergeletak di atas bale-bale. Di dekatnya ada sebuah asbak dan sebuah korek api.
Mbah Malik ini tinggal bersama anak dan cucunya. Sri adalah anaknya paling muda dan sudah punya empat orang anak. Sementara suaminya menjadi buruh tani yang sekarang masih macul belum balik.
“Jadi, saya ke sini ingin bertanya tentang peristiwa Gestapu yang sebenarnya mbah. Karena menurut kabar, mbah ini satu-satunya orang saksi sejarah yang masih hidup dan mengalami langsung apa yang terjadi waktu itu,” ucapku. Aku kemudian mempersiapkan ponselku untuk merekam pembicaraan kami.
Lelaki tua yang bernama asli Abdul Malik ini menghela nafas. Kerutan-kerutan di dahinya bertambah. Ia seperti konsentrasi memikirkan sesuatu, memilah-milah memori yang tersimpan di dalam otaknya selama ini.
“Jaman itu negara dalam kondisi genting. Setidaknya itu yang dikatakan oleh para petinggi. Jam malam diberlakukan. Anak-anak tidur lebih awal. Perempuan-perempuan dipingit di dalam rumah agar tidak sembarangan keluar. Orang-orang waktu itu ketakutan,” ujarnya. Tangannya mulai bergerak mengambil sebatang rokok. Kemudian dengan lihainya menyalakan korek api dan membakar ujung benda 10 cm tersebut. Asap mulai mengepul lalu ia melanjutkan ceritanya.
“Dulu saya masih tinggal di Burengan. Jaman itu ketika kami menerima kabar dari pemerintah bahwa PKI telah melakukan kudeta segera saja para kyai waktu itu memberikan fatwa jihad fi sabilillah. Saat itu saya menjadi ketua kelompok. Kami semua berkumpul di alun-alun kota untuk melakukan apel siaga terlebih dulu. Di sini semuanya diberi arahan oleh dua kyai. Saya masih ingat bagaimana Kyai Syafi'i Sulaiman berkata seperti ini, 'PKI telah menginjak-injak agama Islam dan hendak menumpas kaum muslimin di Indonesia. Atas dasar ini maka tugas kita hanya satu TUMPAS PKI!'”
Aku menelan ludah mendengar ceritanya. Seakan-akan seluruh bulu kudukku merinding waktu itu. Namun tenyata kengerian cerita ini tidak berhenti di situ saja.
“Sebenarnya sebelum dilakukan apel di alun-alun beberapa saat sebelumnya ada kelompok komando militer yang berada di rumah Haji Sopingi. Di sana mereka menerima perintah yang lebih tinggi agar segera dilakukan apel lebih awal. Saya kurang tahu siapa orang yang memberikan komando itu. Hanya saja yang jelas bagi kami para santri hanya patuh dan tunduk kepada apa yang diucapkan oleh Kyai,” sambung Mbah Malik.
“Perintah penumpasan PKI itu didukung oleh militer. Dalam hal ini ABRI beserta para kyai dan santri telah berupaya untuk benar-benar melakukan hal ini. Ketua Ansor waktu itu saja diberi bedil untuk latihan tembak di Gunung Klotok. Setelah apel besar itu, dimulailah apa yang kalian sebut pembantaian terbesar sepanjang sejarah. Anak-anak kami waktu itu dihantui dengan pemandangan yang mengerikan. Kalau beruntung mereka akan menemukan kepala mengapung di Kali Brantas atau usus yang mengapung di sana,” Mbah Malik menatap ke mataku melihat apa reaksiku atas ceritanya ini.
“Trus bagaimana kronologisnya mbah?” tanyaku.
“Tiap malam, mereka akan memberikan kami daftar-daftar orang yang diduga sebagai anggota PKI. Dari daftar itu para prajurit ABRI kemudian mengangkut mereka semua ke atas truk. Tua muda, laki atau pun perempuan. Kami tak pernah tahu bagaimana wajah mereka, siapa mereka. Hanya orang-orang tentara saja yang tahu siapa saja mereka. Bahkan waktu itu ada seseorang yang tidak suka dengan tetangganya saja langsung dicap PKI, maka pada waktu itu semua orang menjaga sikap mereka masing-masing takut diciduk,” ujar Mbah Malik. Matanya menoleh ke arah kelewang yang teronggok di atas bale-bale.
“Pada malam hari aku diberitahu bahwa sudah saatnya bekerja. Satu-satunya senjata yang aku punya waktu itu adalah ini!” Mbah Malik menunjukkan kelewang yang tadi dia bawa. Kelewang itu panjangnya kurang lebih 70cm.
Kembali lagi-lagi aku menelan ludah. Aku tak bisa membayangkan bahwa kelewang yang ada di atas bale-bale itu adalah yang pernah dipakai oleh beliau.
“Saat itu ada dua macam orang-orang PKI. Yang melawan dan yang tidak. Yang melawan maka mereka pasti punya kekuatan. Kami bahkan sempat terjadi perang dengan mereka. Tepatnya di Desa Batuaji. Saat itu di sana masa PKI lebih besar dari pasukan kami, sehingga dengan bantuan tentara kami pun bisa mengalahkan mereka semuanya. Anggota ABRI yang menangkap mereka pun melempar mereka ke atas truk.
“Truk-truk itu kemudian mengantarkan mereka semua ke tempat eksekusi. Tentara-tentara itu hanya menangkap mereka, namun yang jadi pengeksekusinya adalah kami. Tiap malam beragam jumlahnya. Ada empat sampai dua puluh orang. Mereka sebelumnya ditampung di mana pun kami tak tahu. Kebanyakan korban tidak ada yang melawan. Sebagaimana yang tadi saya ceritakan, kalau mereka disekap mata mereka sehingga tidak melihat kami.
“Kondisi para tawanan diikat tangannya di belakang. Mereka kemudian berlutut. Kebanyakan mereka tak bicara, entah takut atau apa. Yang jelas para santri yang sudah membawa golok, parang, kelewang sudah siap menebas leher-leher mereka. Saya sendiri mengeksekusi mereka sekali tebas. DES!” Mbah Malik memeragakan bagaimana cara dia menebas.
Aku agak tersentak melihat tingkahnya. Terlalu menghayati? Bisa saja. Karena berhadapan dengan orang yang rela membunuh demi sebuah perintah dari kyainya merupakan hal yang baru pertama kali aku alami. Apakah mereka psikopat? Bukan, mereka bukan psikopat. Mereka melakukan itu karena kecintaan mereka terhadap tanah air mereka waktu itu. Walaupun mungkin ada berbagai konspirasi dan tetek bengek lainnya. Aku tetap tak bisa mempercayainya hal ini ada dan terjadi di negara tempatku hidup.
Andika sendiri sampai menarik nafas berat ketika melihat Mbah Malik tadi memperagakan bagaimana cara dia menebas orang. Namun yang lebih menarik apa yang diceritakannya setelah ini.
“Ada satu orang yang waktu itu saya tebas nggak mempan. Mungkin dia punya pengasihan atau ilmu kebal. Lehernya saya tebas tapi kelewang malah mental. Teman saya pun menebas, mental lagi. Sampai akhirnya saya dinasehati oleh salah seorang yang ilmu kesaktiannya lebih tinggi untuk memukulnya dengan rotan yang sudah diberi asma. Akhirnya manjur. Tubuh PKI itu tersungkur, selanjutnya kami beramai-ramai membacoknya.
“Setelah itu kami beramai-ramai melemparkan mayat mereka ke atas Kali Brantas. Selama berhari-hari warna airnya merah karena darah orang-orang yang kami bantai. Itu tidak mengherankan kami ada beberapa tempat pembantaian, kemudian mayatnya dilemparkan ke atas sungai. Anak-anak dan para perempuan ketakutan waktu itu. Mereka sampai trauma,” terang Mbah Malik.
Aku beristirahat sejenak untuk menyeruput kopi yang sudah tersaji. Agaknya mentalku harus benar-benar siap untuk mendengar cerita dari Mbah Malik ini.
“Lalu apa yang terjadi mbah? Katanya ada perang antara PKI dan para santri waktu itu?” tanyaku.
“Iya, memang ada. Kami mendapatkan petunjuk dari para kyai bahwa ada sejumlah besar pasukan PKI akan menyerang Kediri. Akhirnya kami dan para santri lainnya berkumpul. Para pembesar Kyai dari Lirboyo pun kemudian berkumpul ikut serta. Bahkan dengan semangat para kyai maka kami pun yakin perbuatan kami benar yaitu kami sedang berjihad melawan PKI,” jawabnya. “Yang namanya Jihad, maka kalau saya mati maka saya mati Syahid.”
Wawancara itu pun kami hentikan setelah satu jam kemudian. Ini gila, pikirku. Aku tak pernah melihat yang seperti ini sebelumnya. Bagaimana bisa para santri tidak merasa berdosa sama sekali ketika membantai orang-orang seperti itu? Namun seperti yang dikatakan oleh Mbah Malik tadi, semuanya karena menganggap sedang dalam jihad fi sabilillah. Oleh sebab itulah maka apapun yang mereka lakukan akan dianggap berpahala.
Tepatnya aku dan Andika pulang seusai shalat dzuhur. Kami sempat dijamu makan siang di rumah Mbah Malik. Makanannya sederhana, sayur lodeh dan tempe goreng. Sekali pun telah menceritakan kengerian tentang masa lalunya, ternyata Mbah Malik itu orang yang menyenangkan. Beliau memang sudah tua tapi tenaganya masih perkasa. Aku diberikan sebuah foto tua berwarna hitam putih. Foto itu menunjukkan bagaimana Mbah Malik memegang kelewang. Ternyata beliau juga orangnya humoris dan ramah, sangat kontras dengan apa yang menjadi dugaanku bahwa seseorang yang pernah membunuh orang akan berbeda sikapnya.
*
*
*
Orang kedua yang aku temui adalah Masdoeqi Muslim. Sekarang dia tinggal di Kras, Kediri. Kras merupakan sebuah daerah dataran tinggi. Letaknya ada di sebelah barat kota Kediri, di kaki Gunung Wilis. Sekali lagi mobil kami melewati jalanan yang kini mulai panas. Untunglah AC mobil MPV yang kami kendarai cukup mengusir panasnya hari itu.
“Kediri makin panas mas, apalagi sekarang banyak mal di mana-mana,” ujar Andika. “Ibaratnya Kediri sekarang ini lebih kepada kota tempat orang-orang belanja. Lihat aja mal makin banyak bukannya makin sepi tapi makin ramai. Bahkan di alun-alun tadi sudah lihat bukan? Sebelahnya aja ada mal.”
“Aku masih ingat bagaimana dulu di alun-alun sering terjadi banjir ketika hujan sampai Kali Brantas meluap,” kenangku mengingat masa kecilku.
“Hahaha, iya mas. Tapi aku belum lahir,” kata Andika.
“Hahahaha, iya. Kamu belum lahir,” ucapku setuju.
Di radio terdengar musik pop yang mengalun. Hiburan itu cukup membuatku rileks selama perjalanan. Begitu kami memasuki gapura yang menunjukkan SELAMAT DATANG DI KRAS ponselku seketika itu berbunyi. Dari istriku. Ah, aku lupa ngasih kabar.
“Halo?” sapaku.
“Mas, sudah nyampe?” tanyanya.
“Iya, sudah. Maaf lupa ngasih kabar,” jawabku.
“Oh ya udah. Ini sama Si A'an?” tanya istriku.
“Iya nih, dia jadi sopir pribadiku sekarang,” jawabku lagi.
“Mbak, ingat lho ya ini dibayar. Kalau nggak dibayar aku nggak bakal mau nganterin,” kelakarnya.
Aku dan istriku tertawa mendengarnya. Setidaknya kami ada hiburan sebelum pergi ke orang yang perlu kami wawancarai setelah ini.
Rumah tempat Masdoeqi Moeslim ini tidak begitu besar. Paling tidak itulah pandanganku kalau dibandingkan dengan rumah-rumah sebelahnya. Di depan halaman rumahnya ada buah pepaya dan beberapa bunga yang ada di pot. Sebuah pohon mangga ada di pinggir halamannya dan dedaunannya sampai menjorok ke tempat tetangganya. Buah-buahnya berwarna merah kekuningan. Khas buah Mangga Podang yang mana bentuknya kecil-kecil.
“Assalaamu'alaykum?” sapa Andika.
“Wa'alaykum salam,” jawab seseorang dari dalam rumah.
Seorang lelaki menyambut kami. Dia kira-kira berusia kisaran 40 tahun. Begitu melihat kami dia langsung mengerti siapa kami.
“Ini pasti mas-mas yang mau mewawancarai,” tebaknya.
“Iya pak,” kataku.
“Masuk aja! Maaf lho ya, panas,” ujarnya.
“Nggak apa-apa koq pak,” ucapku.
“Mbah, ada tamu!” kata bapak-bapak ini.
Dari dalam rumah, muncullah seseorang lelaki tua. Dia memakai sarung dan kaos singlet. Mungkin karena cuaca panas. Aku bisa mengerti. Dia tersenyum ketika melihat kami berdua. Kemudian kami pun dipersilakan duduk.
Setelah berbasa-basi sebentar, beliau pun mulai menceritakan kronologis peristiwa yang dialaminya.
“Yang saya ingat waktu itu ya ngger sebelum Gestapu PKI emang bikin rusuh duluan. Mereka dan para santri bahkan punya dendam pribadi sejak lama. Dendam itu makin besar ketika adanya Gestapu. Tepatnya saya masih hafal tanggalnya. Tanggal 13 Januari 1965 di Kanigoro, saat itu saya beserta peserta pelajaran Pelatihan Mental Pelajar Islam Indonesia sedang membaca Al-Qur'an dan bersiap shalat subuh. Saat itulah kegaduhan terjadi. Kira-kira ada seribu orang anggota PKI datang, menghambur ke dalam masjid membawa berbagai macam senjata. Mereka dengan paksa mengambil Al-Qur'an kemudian measukkanya ke dalam karung, lalu dilempar ke halaman masjid dan menginjak-injaknya.
“Alasan mereka melakukan itu adalah karena apa yang terjadi pada akhir tahun 1964 ketika terjadi pembunuhan atas kader PKI yang ada di Jombang dan Madiun yang dilakukan oleh kader NU. Kata mereka, 'Utang Jombang dan Madiun dibayar di sini saja.'” jelas Masdoeqi sambil menirukan cara bicara mereka waktu itu.
Kemudian beliau melanjutkan, “Para santri pelatihan termasuk Kyai Jauhari ditodong senjata dan digiring ke kantor polisi. Mereka diancam dibunuh sambil dicaci maki. Sebenarnya antara PKI dan santri tidak pernah ada yang sampai konflik terbuka. Memang ketika berpapasan kami saling melotot, saling ejek. Tapi tidak sampai bentrok. Seperti api dalam sekam. Peristiwa di Kanigoro itulah yang menjadi puncaknya, yang membuat para santri dan anggota Anshor Kediri membantai anggota PKI. Terlebih setelah pemerintah mengatakan bahwa PKI adalah organisasi terlarang. Kami semakin yakin bahwa tindakan kami benar.”
“Anda kenal Pak Abdul Malik?” tanyaku.
“Iya, tentu saja. Kami waktu itu pernah dalam satu tempat untuk menjagal anggota PKI yang dieksekusi,” jawabnya.
“Anda juga ikut berperan di sana sebagai penjagal?” tanyaku lagi.
“Iya. Dan sebenarnya ada peristiwa yang sedikit membuat saya trenyuh. Dia membunuh saudaranya sendiri. Ironis sekali,” ujar Masdoeqi.
“Lho? Beliau tak pernah cerita tentang hal itu,” kataku.
“Tentu saja, siapa yang tega membunuh saudara sendiri? Tapi dia pun melakukannya. Dia tidak cerita mungkin ia tak ingin orang lain mengetahui apa yang dilakukannya,” jelas Masdoeqi. “Sebab dia masih punya hati dan menganggap perbuatannya sebagai dosa yang besar.”
“Bagaimana kejadiannya?”
“Waktu itu, ketika orang-orang diturunkan dari truk. Wajah mereka ditutup sehingga tak bisa melihat. Para tentara menyuruh mereka untuk diam. Mereka sudah seperti sapi-sapi yang siap untuk disembelih. Ada satu tawanan yang waktu itu bersuara. Kemudian Abdul Malik mengenali suaranya. Seketika itu juga Abdul Malik galau karena ternyata yang ada di situ adalah saudaranya sendiri. Tapi kemudian dengan tekad bulat ia pun menebas leher saudaranya sendiri lalu membuang mayatnya di Kali Brantas. Saat itu Abdul Malik memang sempat ragu sampai kemudian saudaranya sendiri bilang, 'Lakukan saja aku sudah siap!' Aku sendiri saat itu merinding, takut kalau-kalau anak atau saudaraku sendiri yang aku tebas lehernya.”
Mendadak suasana menjadi hening. Aku mengerti situasi seperti ini. Mungkin bagiku peristiwa seperti ini adalah peristiwa yang mau tak mau harus terjadi pada masa itu. Saat itu kondisi negara sedang dalam suasana kacau. Di mana orang-orang tak bisa menahan diri. Orang-orang yang tidak bersalah pun jadi korban.
Menurut data, korban dari penjagalan PKI mencapai lebih dari 1 juta jiwa. Itu yang baru bisa dihitung, padahal menurut laporan, banyak kuburan-kuburan masal yang tidak terhitung jumlahnya dari Sabang Sampai Marauke. Sebuah harga yang mahal untuk sebuah revolusi waktu itu.
Menemui dua orang narasumber membuatku mulai mencari tahu apa yang sebenarnya dicari oleh bangsa ini? Mereka sudah melewati berbagai pertumpahan darah dengan melawan penjajah hingga kemudian menjadi tumbal oleh segelintir orang yang haus akan kekuasaan.
Benar kata Pak Soekarno bahwa kita harus waspada kepada penjajahan gaya baru. Penjajahan yang tidak lagi menggunakan senjata untuk menguasai, namun menggunakan pemikiran. Perang pemikiran ini sangat halus, sekolah-sekolah bisa saja mengajarkan hal itu, kalau kita tak punya pondasi yang kuat, kita akan terjerumus ke sana.
Sayangnya waktuku tak banyak di Kediri ini. Aku masih ingin mencari tahu sebenarnya apa yang terjadi waktu itu. Setelah kunjungan terakhir ke rumah Masdoeqi aku menuju ke sebuah masjid yang disebut di ceritanya. Masjid itu dulunya sebuah mushola kecil. Sekarang bentuknya sudah lebih baik dari waktu dulu mungkin. Bangunannya bercat kuning dengan sebuah kubah terbuat dari aluminium tampak membuatnya cukup indah. Aku sempatkan untuk shalat di sini setelah itu aku pulang ke rumah Andika.
*
*
*
Istirahat yang cukup di rumahnya Andika membuka kenanganku masa lalu ketika aku masih tinggal di kota tempat pabrik rokok terbesar di Indonesia ini berada. Dulu aku sering bermain di sawah tepat di depan rumah. Sekarang tak ada lagi. Dulu aku sering menarik tebu dari truk pengangkut tebu, sekarang kurasa anak-anak kecil sudah tidak melakukan itu lagi. Hanya beberapa anak kecil saja kulihat bermain layang-layang. Aku sempat ijin kepada budhe untuk kemudian pergi ke Jombang, tempat aku bertemu dengan narasumber terakhir.
Catatanku sudah lengkap. Kurangkum apa yang aku dengar kemarin dari dua narasumber. Sedangkan narasumber terakhir ini konon katanya menjadi saksi bahwa ia melihat sendiri bagaimana ratusan orang yang dituduh sebagai PKI dibunuh.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di rumah Dasuki di desa Mlancu. Desa ini berada di perbatasan Kediri-Jombang. Kenapa aku ke sini? Karena aku ingin membuktikan sendiri tulisan yang aku baca dari buku Palu Arit di Ladang Tebu. Dan narasumberku sendiri sudah pas.
Wajah Dasuki tampak sumringah melihat kami berdua. Setelah berbasa basi dan memperkenalkan diri kemudian dia mengajak kami ke sebuah tempat.
Ada sebuah tugu berwarna merah putih. Tugu peringatan. Kalau orang luar daerah yang melihat tugu tersebut akan menganggap tugu itu adalah tugu biasa. Namun, di balik dibangunnya tugu itu ada sesuatu peristiwa yang tersembunyi.
“Saat itu saya masih kecil. Sama seperti anak-anak lainnya mas. Di sini ada kejadian yang mengerikan. Waktu itu malam hari banyak yang ribut-ribut. Puluhan orang sudah bersiaga di sini beserta para tentara waktu itu. Sementara itu truk-truk terus berdatangan. Aku yang waktu siang hari bermain di luar rumah segera disuruh masuk oleh kedua orangtuaku. Orang-orang dewasa yang sudah terpilih mempersenjatai diri mereka dengan pedang, golong, kelewang. Aku tak tahu waktu itu apa yang mereka lakukan, hanya saja aku disuruh untuk tidak banyak bertanya. Pikiran anak kecil sepertiku yang ingin tahu tentu saja membuatku penasaran.
“Akhirnya malam itu saya mengendap-endap pergi dari rumah untuk mencari tahu apa sih yang terjadi. Dan di sini saya mengetahuinya. Orang-orang memakai penutup wajah dengan membawa senjata tajam. Sedangkan di depan mereka orang-orang terikat dengan kepala ditutup. Di antara mereka ada wanita juga ada lelaki. Saat itu saya terlalu gaduh sehingga segera ketahuan.
“Salah seorang dari mereka kemudian menyuruh saya untuk pulang. Akhirnya saya pun dipulangkan dari tempat ini. Orangtua saya marah besar waktu itu. Kalau saja saya tak ketahuan saya akan tahu apa yang terjadi malam itu. Yang saya lihat dengan penutup wajah seperti ninja adalah para algojo. Mereka yang bertugas menggorok leher orang-orang PKI. Paginya karena rasa penasaran saya pun keluar dari rumah dan pergi ke tempat itu.
“Bau anyir darah serta kolam darah tergenang di sana. Bahkan kaki kecil saya sampai tenggelam. Mayat tergeletak begitu saja dengan kepala mereka sudah terpisah dari badannya. Seketika itu kengerian langsung menyeruak ke dalam dada saya. Mengerikan.” jelasnya.
“Apa mayat-mayat itu tidak dikubur atau diambil keluarganya?” tanyaku.
“Nggak ada yang berani mas. Siapa yang mau berani mengambil mayat-mayat itu? Kalau ada yang berani maka mereka akan dicap sebagai keluarga PKI, bahkan mungkin akan jadi korban berikutnya. Alhasil selama beberapa hari bau busuk menyengat dari tempat ini. Kemudian atas inisiatif penduduk desa tempat ini pun dijadikan kuburan masal. Lubang tempat dikubur pun dibentuk dan mayat-mayat ditumpuk begitu saja. Untuk menandai lokasinya kemudian di sini dibangun tugu merah putih ini,” jelasnya lagi.
Tiba-tiba saja membayangkan hal itu perutku sedikit mual. Aku seolah bisa merasakan bagaimana rasanya jadi anak kecil pada waktu itu. Melihat kakinya tenggelam dalam darah. Aku jadi penasaran berapa orang-orang yang jadi korban waktu itu.
“Ada berapa orang yang dieksekusi waktu itu pak?” tanyaku.
“Ada 700-an, bahkan para algojo waktu itu mengaku kecapekan memenggal leher-leher mereka,” jawabnya. “Namun sekarang kuburan itu sudah dipindah. Kerangka mereka sudah dipindahkan ke sumur tua di hutan kakao di dekat sini.” Pak Dasuki menunjuk ke sebuah arah tempat hutan tersebut.
Jangan coba-coba, aku tak berani untuk melihat sumur itu. Andika kulihat sampai mengelus-elus tengkuknya, merinding. Kalau dulu aku pernah membaca berita tentang kuburan masal yang ada di Serbia, maka sekarang aku melihat sendiri peristiwa kuburan masal di negaraku.
*
*
*
Setelah tiga hari berada di Kediri akhirnya aku pun berangkat kembali ke Jakarta. Aku sudah mengirimkan artikelku ke redaksi. Permasalahannya sekarang adalah bagaimana orang-orang akan bereaksi terhadap artikel yang aku tulis. Apakah reaksi mereka terkejut? Menghujat? Atau bagaimana?
Kepada siapakah kesalahan ini akan ditujukan? Apakah kepada rezim waktu itu? Ataukah kepada sempitnya pemikiran masyarakat waktu itu? Kita sudah dijajah berabad-abad oleh para kolonial. Waktu itu mungkin masih sedikit masyarakat yang mendalami pendidikan hingga tinggi. Kedua orangtuaku sendiri saja nggak sampai tamat SMP. Keadaan negara waktu itu juga sangat memungkinkan hal ini terjadi.
Sekarang yang menjadi PR bagi bangsa ini mungkin adalah bagaimana kejadian seperti ini tak akan terulang lagi? Pertumpahan darah seperti ini. Di negara yang dikenal sebagai negara seribu pulau yang mana kekayaan alamnya tak terbatas. Haruskah keindahan alamnya dicemari oleh darah anak bangsa sendiri?
Kitalah yang memutuskan dan menggerakkan bangsa ini mau dibawa kemana. Jakarta, 30 September 2011. Abdul Hakim. Laporanku selesai.
​ ​
The End~
submitted by Bosanpacaran to Sastrakita [link] [comments]


2020.07.18 02:43 odioeldolar Vacunarme por primera vez

Hola, crecí en una familia anti vacunas, por suerte crecí sana pero me gustaría aplicarme el esquema de vacunación de adultos. Pero no tengo ni idea de dónde empezar. Como saco mi cartilla de adulto? Debo hacer cita para la vacuna? Había escuchado que en cualquier clínica los mexicanos tenemos derecho a vacunarnos. Porfavor ayuda 😭😭
submitted by odioeldolar to MexicoCity [link] [comments]


2020.06.05 00:11 Lightnight799 Karen me grita porque mi compañera no la trata tan bien como yo a mis pacientes

Esta es mi primera publicación, así que intentaré ser clara dando un poco el contexto de toda la situación. Así que será largo.
Actualmente estoy trabajando en una clínica (no poseo estudios médicos ni de enfermería, entré bajo una beca). Actualmente, por el tema de la pandemia, ninguno de los derechohabientes tiene permitido ingresar al edificio, lo que hacemos es hacerles hacer dos filas (una para la gente con cita medica agendada , y la otra para aquellos que NO tengan cita agendada. El protocolo es el mismo: hacen fila, se revisa el carnet, se les pone un sticker de color para diferenciarlos [si vienen por faltantes, si tienen cita, si van a vacunas, si van a realizar algún trámite, etc.], los pasamos a una fila de 10 personas (aquí los que no tienen cita suben con un médico para que les haga recetas y actualice el expediente y ya después baja y se une a la carpa de abajo), después los pasamos a una carpa (para protegerlos del sol) donde deben esperar otro rato y de ahí los pasamos a la segunda carpa donde se les recogen los carnets, de ahí llevamos los carnets a las listas de los consultorios para buscar al paciente y sus recetas, después los agendamos para el mes que sigue, llevamos los carnets y las recetas a farmacia para que surtan el medicamento y ya después lo llevamos al dueño). La verdad es un proceso largo y tedioso para ambas partes.
Casi todos los corredores (los que recojemos carnets, re-agendamos y surtimos) tenemos la misma rutina:
Corredor: ¡[inserte nombre genérico aquí]! -el paciente se levanta de la banca y camina a una mesa que está a medio camino entre los dos- buenos días, aquí está su siguiente cita -abre el carnet en la página, señala con el dedo la fecha y la hora-, su siguiente cita es el [inserte día, hora y consultorio genéricos], le faltaron: [inserte numero y nombre de los medicamentos faltantes mientras le muestras las recetas selladas]. No señ[email protected], no sé cuando llegue el medicamento, lo que puede hacer es llamar al numero de farmacia la próxima semana [se le entrega un papelito con el número de la farmacia] y preguntar por su medicamento o puede venir y preguntar en la entrada (aquí la conversación se divide, o te dan las gracias por atenderlos aunque no haya habido medicamento o te empiezan a mentar la madre y a gritar. Si ocurre lo primero nos sale una sonrisa sincera debajo del cubrebocas porque pocas veces nos dicen palabras amables y les deseamos un bello día y hasta tenemos una pequeña conversación, si ocurre lo segundo los dejamos gritar o nos ponemos a pelear con ellos, dependiendo de tu humor y de cómo se esté comportando la persona frente a ti).
Ahora si, mi historia.
Hace un par de días estaba surtiendo y habían dos Karens en la mesa, esperando sus medicamentos faltantes y se me ocurrió preguntar si ya las habían atendido (porque a veces se acercan para preguntar algo, decir que les faltó algo, que si podían ir con el médico, que la cita, o alguna duda sencilla de responder). Grave error.
La Karen uno me contestó que si, que le estaban resolviendo de su medicamento faltante y le dije que muy bien y la otra Karen se quedó callada. Ya me disponía a retirarme por el siguiente surtido de medicamentos cuando la Karen de 50 años me comenzó a increpar que porqué mi compañera que la estaba atendiendo (que tiene la delicadeza y amabilidad de un ladrillazo en la nariz) no la trataba tan bonito como yo que trataba bonito a las personas que me tocaban surtir (ella llega, deja el medicamento en la mesa, llega en paciente y le entrega todo con mala actitud y se va. Yo llego y hago toda la rutina que ya describí con mi mejor voz de recepcionista, me quedo hasta que la persona se va y resuelvo dudas de otras personas); que por qué no hay medicamentos entre otras cosas.
Yo: mire señora, el medicamento está faltando desde la capital del país, no es culpa nuestra que no nos manden todo lo que ustedes necesitan; no sabría decirle por qué no le agendaron cita a su padre, generalmente cuando nosotros les entregamos el medicamento les decimos el día y la hora de su cita, si no, de todos modos les entregamos todo y ustedes tienen el deber de revisar su siguiente cita para que nosotros se las re-agendemos.
Karen: ¿Y COMO LE HAGO ENTONCES, EH?, ¡MI PADRE TIENE CÁNCER Y ESTÁ MUY ADOLORIDO Y USTEDES NO LE AGENDARON NUEVA CITA Y SU MEDICAMENTO ES MUY CARO!
A media alegata azotó la mesa con sus manos y me miraba furiosa, yo simplemente la veía con aburrimiento, hacía menos de una hora un sujeto me gritó mil veces peor, el cual estoy segura de que si no hubiera habido un policía ahí, habría intentado agredirme físicamente [al cual también mandé a la chingada], así que su pequeño berrinche no iba a hacer mella en mí.
Sí podemos agendar cita si no tiene, lo hacemos seguido con aquellos pacientes que son amables y lo piden de por favor o que vemos muy preocupados o urgidos de cita, pero esa perr* no se ganó mi favor y consideración tras comenzar a gritarme y tratarme de esa manera.
Yo: puede formarse a las 6 de la mañana aquí afuera y hacer fila para cita presencial. No se si haya citas aún para que pase de una vez, así que, cuando salga puede ir a preguntar. (Ya no habían cupos, se acaban en las primeras dos horas de trabajo y ya iba a ser medio día, pero su actitud solo me ponía de mal humor porque yo no tenía la culpa de nada y ella había decidido que yo iba a ser el chivo expiatorio y como ella me estaba tratando con la punta del pie, no merecía mis consideraciones).
Se veía lo suficientemente sana, fuerte y cuerda para madrugar y hacer fila como todos los demás.
Karen: ¡¿LAS SEIS DE LA MAÑANA?!, ¡ES MUY TEMPRANO!, ¡SE SUPONE QUE NO DEBEMOS SALIR POR EL VIRUS Y USTEDES NOS OBLIGAN A SALIR CON SU INEPTITUD!, ¡ADEMÁS, ES SU TRABAJO RE-AGENDAR Y DECIRNOS NUESTRA CITA, NO TENGO POR QUÉ REVISAR YO, SI TU DEBER ES INFORMARME!
Yo: señora, estamos llenos de trabajo, no estamos todos al pendiente de todo, se nos pasan las cosas también y, usted puede decirnos si ve que le falta algo.
Karen: ¡ES TU TRABAJO!
Karen 2: Si, ustedes deberían de estar al pendiente de todo y decirnos todo, no tenemos por qué ver si ustedes deben de hacerlo. Para eso les pagan.
Simplemente resoplé, con ellas no iba a poder dialogar como personas civilizadas así que tapé mis oídos (tengo la habilidad de tapar mis oídos y dejar de escuchar cualquier cosa que me molesta, todo se queda en silencio a mi alrededor) y solo veo como mueve los labios. Me retiro y llego por el siguiente paquete de medicamentos mientras veo como esa compañera de la que se quejaban manda a la chingada a la Karen 1 tras darle sus medicamentos (no le faltaba nada, todo lo de sus recetas era lo que se le da mes con mes), así que se esperó cerca de 40 minutos extras y no recibió nada de lo que exigía.
Un pequeño fragmento de su conversación:
Karen: ¿Y esta crema? -gritando, mirando la crema con desprecio.
Compañera: -en su mismo tono y volumen- se la recetó su ginecóloga.
Karen: -bajándole chingos de huevos a su voz- que extraño. -Tomó todos sus medicamentos y se fue.
Paréntesis: atendemos a un promedio de 250 personas físicas en 6 horas, la mayoría de ellos llevan de uno a cuatro carnets cada uno, de los cuales debemos buscar las recetas o llevarlas al médico para que las haga, re-agendar, surtir y entregar, y luego lidiar con aquellos que se inventaron alguna dolencia en el momento y nos exigen medicamentos que no tienen en su expediente y hablar con el médico a ver si se les puede dar, irnos a farmacia a preguntar y luego ver si se repite lo de ir a farmacia y luego entregar. Ten por seguro que tu carnet, al momento de volver a ti, ya pasó por, al menos, ocho manos diferentes y ninguna de ellas está al pendiente de tus cosas. Si tú haces una escena por un medicamento que no te dimos porque no viene en tu receta, ni en el sistema, ni anotado en tu expediente como medicamento de uso prolongado (como insulinas o psicotropicos relajantes) nos quitas tiempo que pudimos usar para atender a alguien más necesitado que tú. Si ves que te faltó medicamento (que si utilizas) o que te falto cita, dinos y te atenderemos con gusto, pero no nos hagas perder el tiempo.
submitted by Lightnight799 to padresconderecho [link] [comments]


2020.05.28 21:54 Misat0 Madre con derechos me llama para que castigue a mi hijo

Contexto: Mi hijo sufrio de Bullyin por parte de su maestra en Kinder y cuando lo cambie en la primaria la escuela fue negligente y dejo que los alumnos actuaran sin control, por lo que el carácter de mi hijo se volvió defensivo y un poco huraño, nos ha costado sacarlo de su caparazón.
Esto paso en el cuarto año de primaria (ya lo habíamos cambiado de escuela y también se le detecto a mi hijo parámetros de asperger), la escuela estaba preparado para casos especiales y asi la recomendaban, en el grupo de mi hijo (llamemolo H) había 4 niños con TDA con hiperactividad, y mi hijo con asperger se sentía un poco incomodo con todos esos niños hiperactivos, asi que tenia discusiones con sus compañeros, la escuela tenia un departamento psicopedagógico muy bueno que atendía esas discusiones y le daba una sana resolución, lo que hacia sentir comodo a mi hijo y a muchos de sus alumnos.
Un día H discutio con un compañerito (digámosle L) y me comento que no soportaba a ese niño, que siempre lo molestaba, le ponia el pie o le hacia bromas que no le gustaban.
Le dije que no le hiciera caso a L que se cansaría, pero mi hijo siempre llegaba quejándose de L y decía que cuando mas mal se portaba la escuela tomaba cartas en el asunto y le llamaban a atención a los dos por que mi hijo tampoco era una blanca paloma, después de un tiempo de que lo molestaran comenzó a defenderse, pero su propio asperger le limita su actuar.
Paso como un año de esta pelea campal entre H y L, tenia conocimiento de esto, pero también sabia de las consecuencias que la escuela le había impuesto a ambos, asi que solo le llamaba leve la atención, el dia que comento, iba un poco tarde a recoger a mi hijo (solia recogerlo tarde para que el pueda jugar un poco con sus amigos) y recibo la llamada, no reconoci el numero, pero aun asi conteste.
Yo: ¿Bueno?
Madre con derechos (MD): ¿La mama de H? soy MD madre de L
Yo: Hola mucho gusto, soy "YO"
MD, mire le hablo por teléfono por que mi hijo fue atacado por H y la verdad esta conducta es reiterativa y quiero saber que es lo que va a hacer al respecto
Yo: Aun no llego a la escuela para saber lo ultimo que paso entre mi hijo H y su hijo L, pero me parece que tiene la información equivocada, primera, mi hijo no ataca a su hijo por que si, el reacciona a las acciones de los demás, nunca ha iniciado un ataque, segundo, esto paso en la escuela y hasta donde la autoridad es la de la escuela y es ella quien debe tomar cartas en el asunto.
MD: Yo le hablo por que mi hijo siempre se queja de su hijo y hoy llego y fue sancionado por la escuela y no es justo que su hijo salga libre de castigo si el ataco a mi hijo.
Yo (un poco molesta): Mire señora, lo que su hijo le dice a usted, el mio me lo dice a mi, conozco a mi hijo, y la escuela conoce a los dos, deje llego a la escuela y averiguo que paso.
MD, No , quiero saber como actura en relación a el bulling que su hijo hace con el mio.
Yo: Ya casi llego a la escuela, pero lo mas seguro es que ya hallan tomado cartas en el asunto y hayan recibido una sanción, por lo que usted me esta diciendo, yo solo le llamare la atención.
MD: Pero, mi hijo ha sido acosado por el suyo.
Yo: Señora, hasta donde se, el acosador es su hijo, la escuela ha actuado en consecuencia y yo respetare su decisión, deje llego a la escuela y me entero, e incluso podemos pedir una cita con la escuela para poder resolver este conflicto.
MD: muy bien, pediré una cita para que usted le ponga una sanción a su abusivo hijo.
Yo (muy molesta): ok, nos vemos pronto.
Cuando llegue a la escuela, pedí hablar con la encargada de conducta (EC) sobre la llamada que acaba de recibir, y saber cual había sido el problema entre H y L, me explicaron que L molesto a mi hijo en la ultima clase y que mi hijo salio de la clase y pidió ver a EC, por lo que L fue suspendido ya que H estaba actuando de la mejor manera posible, le comente lo de la cita y la maestra molesta me dijo que MD no debio de haberme llamado y que tomara cartas en el asunto.
Nunca nos citaron, su hijo fue cambiado hasta donde se a una escuela que se especializaba en niños con TDA con hiperactividad (la escuela de mi hijo solo estaba capacitada)
submitted by Misat0 to PadresConDerechos [link] [comments]


2020.04.01 08:27 slotspulsa200 judi slot bisa depo pakai pulsa

judi slot bisa depo pakai pulsa
Tata laksana Bankroll Bagi Memainkan Slot Online

Selagi bertahun-tahun, anggota di seluruh dunia siap berusaha mengadakan cara untuk meningkatkan harapan mereka kerjakan menang saat bermain alat slot beserta slot online. Namun, pertumbuhan teknologi digital dan generator angka arbitrer telah mencegah pemain mengembangkan strategi nang mengakali instrumen game elektronik. Alih-alih berpusat pada manuver untuk meningkatkan peluang membuat untuk menang, para profesional game mencalonkan agar jumlah pemain seharusnya bekerja hendak manajemen bankroll. Ini ialah cara yang dijamin bikin memastikan alkisah mereka kerap pergi setelah mendapat langkah kanan.

https://preview.redd.it/2azup1wch5q41.png?width=530&format=png&auto=webp&s=478282fec579d8d79fe24a9954145a4469c3c226
Pendekatan ini disarankan oleh para ahli game, karena tidak ada cara pasti kerjakan menjamin sesi kemenangan saat bermain slot online ataupun secara baka. Hasil bermula permainan ini sepenuhnya awur, sehingga aktor tidak ahli memprediksi dengan jalan apa putaran tertentu akan berlanjur. Inilah sebabnya mengapa sana bermanfaat kerjakan bekerja memajukan dan memikul uang Awak di akan merancang rancangan dan apalagi menggunakan aturan taruhan demi bermain online dan slot berbasis darat.

Untuk kontestan sederhana, disarankan anggaran $ 20 datang $ 50 per tunggal. Untuk aktor dengan bankroll lebih besar, mereka becus menghabiskan dari $ 100 hingga $ 500 lampu busur minggu untuk permainan slot. Kami menyarankan pemain kerjakan tidak mengambil lebih berbagai macam uang bersama mereka tinimbang yang cita-cita mereka habiskan dalam esa sesi, mudah-mudahan tidak melangkahi batas pemancaran mereka. Kerjakan pemain dan semua juluran bankroll, gubah harus mengantongi setengah dari kemenangan menazamkan dan sisanya harus pulang ke slot bankroll menazamkan.
http://206.189.94.14/
Hal ini memungkinkan aktor dengan nilaian yang lebih kecil bikin membangun bankroll mereka sehingga mereka dapat beralih bermain di celengan yang lebih tinggi. Strategi serupa diadopsi oleh kaum pemain poker, yang cita-cita meningkatkan anugerah mereka kerjakan bermain game berisiko adi- tanpa mengambil risiko mencelupkan ke dalam abuan mereka sendiri. Jenis tadbir bankroll ini telah kelihatan populer oleh beberapa kontestan poker berpengalaman, dan itu pasti mau berguna bakal mereka nang tertarik berbobot membangun slot bankroll gubah.

Apakah berlagak slot online di kasino internet alias berjudi di tempat-tempat berbasis darat di seluruh angkasa, juga memesona bagi anggota untuk mematut-matut jumlah arta yang menazamkan pertaruhkan bohlam putaran. Bankroll kecil tidak memungkinkan banyak fleksibilitas, cuma pemain ahli memanfaatkannya dan menemukan keseimbangan antara membangun taruhan nang menguntungkan bersama yang tercapai. Sementara berbagai macam mesin memasarkan opsi memberi taruhan serendah $ 0, 01, ana sarankan bertaruh sedikit makin (mungkin $ 0, 05) per baris bayar untuk menjamin dominasi yang kian besar. Biarpun ini berfaedah para pemain akan memperoleh lebih kecil putaran lebih dahulu, itu ada menjamin faedah yang kian tinggi berisi jangka lancip.

Manajemen bankroll adalah buku untuk memperoleh sesi beraga slot nang sukses. Pemain dijamin bukan akan membiarkan sesi cela dan desain ini sering mendorong gubah untuk memajukan jenis dekrit game nang menghasilkan buatan yang profitabel pada alhasil.
submitted by slotspulsa200 to u/slotspulsa200 [link] [comments]


2020.02.05 16:52 Heterostory ¿Qué es lo que quiero en mi vida sexual?

Hola, soy un chavo de 26 años, recien cumplidos. Estoy casado con un excelente esposa y estamos esperando un bebé. Para iniciar mis preguntas y puedan apoyarme con sus experiencias y cómo han resuelto esto en sus vidas, les platicaré unos aspectos importantes en mi vida...
.- Mi padre de sangre me rechazo al saber que mi madre estaba embarazada de mi. Me parezco tanto a él que una vez facebock me relaciono con su perfil en el etiquetado.
.- Crecí con un padre que nos adopto a mi hermano y a mi.
.- Mi hermano crecio odiandome porque el no tenia el apellido de nuestro padre adoptivo y yo si.
.-La religión Cristiana recibio a mis padres y mi padre dejo de golpearme y ser duro conmigo.
.- Yo lloraba por todo y a mis 7 años me iba mal en la primaria, por lo que decidieron cambiarme de primaria terminando mi 2do año de primaria.
.- En tercero de primaria ya estaba aplicandome en la escuela y estaba sobresaliendo un poco en matematicas.
.- Mi maestro de matematicas abusó sexualmente de mi aprovechandoce de mi vulnerabilidad y de la gran confianza de mis padres hacia los maestros y que yo debia aprender de la vida y dejar de llorar por todo.
.- Mi maestro de matematicas invitó a otros 2 maestros a que me violaran. Esto durante mas de 3 meses en distintas ocasiones... Redactare en otro post este tema...
.- Mi hermano tambien abusaba de mi de forma indirecta haciendome tocamientos y humillandome sexualmente, el mayor que yo por 3 años. ya lo perdoné pero sigue grabado en mi memoria.
.-Para cuando cumpli 14 años experimente por "primera vez" mi sexualidad cuando mi primo me obligo a que lo penetrara por el ano despues de chantajearme con decirle a mi madre que me masturbaba en la regadera. No fue nada placentero ni me gustó hacerlo.
.- Por medio de una aplicacion de citas, contacté a un niño, mayor que yo en ese entonces para yo darle por el culo, nos citamos en el monte y termine dandole... no se sintio nada placentero ni me agradó en lo absoluto.
.- Para mis 16 años mi madre me pregunta si yo soy Gay, a lo que yo le respondo que no... ella me dice que su sueño en la vida es verme casado, con hijos una esposa y verme prosperar con mi patrimonio, que ser gay no es normal y que dios no estaria de acuerdo con ello porque el ano no fue hecho para eso... pero que si fuera asi ella me aceptaria, pero debia decírselo en ese momento. Le repeti que no soy gay.
.- Para cuando cumpli 17 busque a un señor que me enseñara a tener relaciones sexuales, el me cojio por primera vez (yo buscandolo) y me lo coji tambien en varias ocasiones... en ese entonces mi placer solo era momentaneo, no lo disfrutaba y tenia mas miedo que placer.
.- Segui en la busqueda de mi satisfaccion cuando tenia los 18 hasta los 22, en ese entonces solo habia tenido sexo con hombres y casi siempre como activo. Mi momentos variaban de entre una hora o 3 horas sin parar, pero solo terminaba si yo me masturbaba.
.-Conoci a un chavo, estudiante en la universidad, por medio de otros que ya habia conocido, en ese entonces mantenia muchas relaciones sexuales con diferentes personas. si es que 3 veces a la semana y 3 personas distintas en esas mismas. El chavo del cual hablo me dio pie a que podia yo ser gay, pero dentro de mi yo decia que era heterosexual, solo que estaba experimentando.
.- Luego, conoci en el 2014 a una chava, yo le correspondi a sus afectos e intenciones de formalizar una relacion estable y duradera. Mantuve relaciones sexuales con ella durante mas de un año 5 meses sin buscar a nadie mas fiel 100%. Despues me entere que ella buscaba en conversaciones a quien le habia quitado su virginidad, un señor, poco mayor que ella, ya casado y con hijos. Su esposa fue quien me advirtio que habia conversaciones fuertes con imagenes de ellos desnudos y que ella era quien le insistia que se vieran. La enfrente y lo nego, nos separamos por un mes.
.- Durante ese mes en mi mente volvio la idea de querer satisfacerme y busque por medio de una app de citas y resulto que me encontre con un compañero de clases de ella. Mi esposa en ese entonces mi novia y yo esudiamos la misma carrera. Con este chavo solo fue platica y una supuesta videollamada que nunca se efectuo. pero quedo grabado en las conversacion de skype.
.- Regreso con mi novia, ella me insiste en volver y la perdono. pero con los meses ella encuentra mi conversacion de facebook y de skype y las conecta y me reclama por haber buscado a alguien cuando nos separamos y que era un hombre. Le explique que tenia la curiosidad de experimentar algo, pero que no se dio y lo acepto. Para ella yo le habia contado que era un don juan con las mujeres y me la pasaba cojiendo con muchas pero no me satisfacian.
.-Con el tiempo, ella seguia revisando mis mensajes y yo le era fiel, pero quise molestarla y finji una conversacion que se subio de tono en el momento que mi amigo mando imagenes de un chavo y un pene enorme, muy real para creer que se habia tomado una foto casera. Mi en ese momento novia (si, la misma) vio mi conversacion mientras yo me bañaba... muy rapida para ser verdad... y me encaro... le repeti que me gustaria experimentar que era curiosidad y que ella entenderia el porque mi inquietud de buscar algo asi (ya le habia platicado que mis maestros me habian violado de niño, solo esa parte de la historia) ella lo entendio y me hizo prometer que jamas la engañaria, lo le prometi que nunca la engañaria con ninguna mujer. Aqui ya viviamos juntos, llevabamos 3 años de novios y un año de union libre.
.-Pasa un poco mas el tiempo, ya a los 5 años de relacion (2 de vivir juntos) y le pido matrimonio. Yo me sentia muy feliz con ella a mi lado y sentia que ella me apoyaba en cada aspecto de mi vida.
.- Deje de buscar sexo, por mas de 8 meses, pero algo en mi me desperto la hormona y volvi a buscar a un tipo por medio de un aplicacion, le conte una parte de mi historia y el me dijo que me entendia y que podia ayudarme. Me ofrecio que podia ser un poco rudo conmigo en el sexo y que con eso yo iba a liberarme.
.- Este tipo, ya estando en su departamento, me inyecto la droga llamada cristal en el ano y con la euforia yo dije muchas cosas que no olvidare jamas... entre ellas me di cuenta que no amaba a mi prometida, que solo estaba con ella por las apariencias y que no era feliz realmente. Este tipo me metio el pene de forma violenta que me hizo sangrar y doler muchisimo .. esa noche no volvi a casa, tenia marcas de una tabla marcada en mi nalga, marcas de un cinturon, estaba jadeando y sudando como loco y sobre todo me dolia mucho mi cuerpo, me habia humillado de una forma muy fuerte y tenia marcas del piso en mis puños, rodillas y en general todo mi cuerpo estaba marcado. Mi piel es clara asi que era muy notorio que algo habia pasado. Jueves en la noche paso todo esto
.- El viernes llegue al trabajo y finji que alguien me habia tirado por unas escaleras, todos me creyeron y me crei ya historia.
.- Regrese al departamento de este chavo y me volvio a maltratar de la misma forma otra vez, pero me negue y me resisti a la droga y me dijo que solo funcionaria si me drogaba asi que decidi volver a casa.
.-Ya en casa nadie noto mis marcas, por suerte mi piel sana rapido. Sino que hasta el sabado en la noche le pido a mi prometida que me compre una pomada para las hemorroides, me dolia de una forma tan fuerte que no podia caminar. Ella me obligo a mostrarle mi ano y se asusto de la forma en que estaba maltratado.
.-El domingo resuto que termine convenciendome de ir a consultar por que queria analgesicos, me operaron y termine internado por 2 semanas.
.-Termino mi recuperacion de un mes sin nada de sexo y vuelvo al trabajo.
.- Un viejo conocido con el cual nunca tuve sexo anteriormente, me contacta y accedo a verle, le di oral y el a mi y me gusto el trato amable de un hombre.
.-Al dia siguiente tuve sexo intenso con mi prometida y me gusto tanto que me senti realmente enamorado de ella y decidi que deberiamos casarnos sin lujos, que fuera por amor y no apariencias.
.-Planeamos comprar una casa, para comprar la casa que nos gusto ocupabamos casarnos. Nos casamos en una boda express por el civil.
.-Mi ahora esposa, me dice que estamos embarazados y me cae la noticia feliz y triste a la vez, yo presintiendo que es niño recuerdo lo infeliz que fui de niño y me sumerjo en un mar de anecdotas.
.-Busco la comprension de un adulto que me aconseje, pero con este terminamos teniendo sexo y resulta ser un pedofilo que quiere le presente a mi hijo para ir moldeandolo a su gusto y placer...
.-Me alejo de este señor, pero me sigue atrayendo su imagen... se parece tanto a mi maestro de matematicas...
.-Busco refugio a mis emociones en alguien de mi edad y resulta que tambien terminamos teniendo sexo fuerte pero muy emocional...( con fuerte me refiero a no tan lento a como lo hice con el señor, les recuerdo que me operaron el ano ya 8 meses atras)
.- Tenemos tantos ideales en comun este chavo y yo que termina atrayendome tanto, su voz me hace sonreir, platicar con el me hace suspirar, me siento relajado y tranquilo a su lado, siento que todo es posible y que realmente puedo ser feliz.
.- Regreso a casa y mi esposa me espera (aun embarazada, ya 5 meses) y se me acurruca y me dice que se habia preocupado por mi la noche anterior que no llegue a casa por estar con mis amigos, resulta que mi cuñada la asusto llegando golpeada a casa y mi esposa creyo que yo llegaria igual o peor por tratarse de una fiesta... Yo llegue peor, porque en mi mente ahora se nublaba con la idea de que queria el divorcio para estar con ese chavo que me hacia suspirar.
.-Pero mi esposa saca un as de la manga y me propone que me puede estimular, porque encontro un pequeño dildo que tenia para rehabilitacion por la cirugia y ella entendio completamente mi situacion. Le prospuse que yo trambien le compraria uno del tamaño de mi pene o menor para que se sintiera comoda cuando yo no estuviera y acepto (aun no los compramos).
.- La idea de que tengo a una esposa que me ha comprendido en cada etapa, que esta a mi lado, que va a ser la madre de mi hijo, que me ama de una forma tan apasionada me hace entender que yo a ella tambien la amo, porque le correspondo de muchas maneras. Solo que sexualmente estoy inseguro. No habia sentido un sentimiento hacia nadie como el que senti por ese chavo y por mi esposa anteriormente. Y me doy cuenta que es muy probable sea gay o bisexual, por mi historia, pero me siento hetero porque amo a mi esposa y la idea de no separarme de ella me hace feliz.
.- Con este chavo que me enamore de una forma fugaz, le indico que si tuviera que dejar a alguien seria a el, ya que aun no estoy seguro con mis sentimientos... y el me entiende, pero regresa al tema de querer tener sexo porque le gusto mucho... ahi entiendo que fisicamente soy atractivo, pero que nadie se ha interesado por lo que digo o pienso ni por lo que yo creo que es corrrecto mas que mi esposa.
.-Ahora estoy confundido porque apesar de haber alejado a este chavo, sigo enamorado de el, pero a la vez enamorado de mi esposa y enormemente entiernecido por mi hijo que aun viene en camino.
.- No me siento haber sido infiel antes de este chavo, con el realmente me siento culpable porque le correspondi en mente y alma a dos personas cuando siempre, atras, solo era sexo.
.- Entre las platicas que tuve con el, me hizo que me preguntara ¿Qué decisión debo tomar para ser realmente feliz?.
.- Decidi seguir con mi esposa y mi familia, el rumbo que llevo hasta el momento, pero sé que dentro de mi seguire buscando el placer de estar con un hombre y que me trate de una forma entre salvaje y dulce.
.- Con mi esposa el sexo es muy rutinario y hasta tedioso, solo una postura, si se pone interesante son dos. El sexo oral no es para nada bueno, y cuando me masturba siento que lo hace de forma brusca pero sin tacto hasta llegar a molestar. Con un hombre, me gusta que me hagan sexo oral, siento un gran placer, cuando soy activo siento que puedo ser tan rudo o suave como a mi me plazca y siento que el otro se revuelca de placer por mi. cuando penetro a mi esposa ella se pone muy caliente y le encanta mucho, pero si quiero ser mas rudo me pide que pare y solo es en una posicion, la del misionero. por lo cual me cansa la monotonia y termina por quitarme la calentura. Cuando me penetrar, siento que no hay nada mejor en el mundo (hablado de sexo), que con un movimiento certero que haga el otro puedo alcanzar el climax, pero igual, en ambos casos, con hombre o con mujer casi siempre termino masturbandome porque duro mucho o porque el otro o ella ya se cansaron.
.-Mi placer sexual llega al punto en que quisiera que ella fuese mas abierta a experimentar el placer sexual, a como un hombre me hace sentir. Y con un hombre siento que le falta el sentimiento que a mi me gustaria en la relacion.
.- Estoy realmente confundido porque siento que si pido que mi esposa me penetre la podria perder, pero si no lo hago siento que igual la podria perder si me encuentra que sigo buscando sexo con un hombre
submitted by Heterostory to NoStupidQuestions [link] [comments]


2020.02.05 01:00 Heterostory ¿Qué es lo que quiero en mi vida sexual?

Hola, soy un chavo de 26 años, recien cumplidos. Estoy casado con un excelente esposa y estamos esperando un bebé. Para iniciar mis preguntas y puedan apoyarme con sus experiencias y cómo han resuelto esto en sus vidas, les platicaré unos aspectos importantes en mi vida...
.- Mi padre de sangre me rechazo al saber que mi madre estaba embarazada de mi. Me parezco tanto a él que una vez facebock me relaciono con su perfil en el etiquetado.
.- Crecí con un padre que nos adopto a mi hermano y a mi.
.- Mi hermano crecio odiandome porque el no tenia el apellido de nuestro padre adoptivo y yo si.
.-La religión Cristiana recibio a mis padres y mi padre dejo de golpearme y ser duro conmigo.
.- Yo lloraba por todo y a mis 7 años me iba mal en la primaria, por lo que decidieron cambiarme de primaria terminando mi 2do año de primaria.
.- En tercero de primaria ya estaba aplicandome en la escuela y estaba sobresaliendo un poco en matematicas.
.- Mi maestro de matematicas abusó sexualmente de mi aprovechandoce de mi vulnerabilidad y de la gran confianza de mis padres hacia los maestros y que yo debia aprender de la vida y dejar de llorar por todo.
.- Mi maestro de matematicas invitó a otros 2 maestros a que me violaran. Esto durante mas de 3 meses en distintas ocasiones... Redactare en otro post este tema...
.- Mi hermano tambien abusaba de mi de forma indirecta haciendome tocamientos y humillandome sexualmente, el mayor que yo por 3 años. ya lo perdoné pero sigue grabado en mi memoria.
.-Para cuando cumpli 14 años experimente por "primera vez" mi sexualidad cuando mi primo me obligo a que lo penetrara por el ano despues de chantajearme con decirle a mi madre que me masturbaba en la regadera. No fue nada placentero ni me gustó hacerlo.
.- Por medio de una aplicacion de citas, contacté a un niño, mayor que yo en ese entonces para yo darle por el culo, nos citamos en el monte y termine dandole... no se sintio nada placentero ni me agradó en lo absoluto.
.- Para mis 16 años mi madre me pregunta si yo soy Gay, a lo que yo le respondo que no... ella me dice que su sueño en la vida es verme casado, con hijos una esposa y verme prosperar con mi patrimonio, que ser gay no es normal y que dios no estaria de acuerdo con ello porque el ano no fue hecho para eso... pero que si fuera asi ella me aceptaria, pero debia decírselo en ese momento. Le repeti que no soy gay.
.- Para cuando cumpli 17 busque a un señor que me enseñara a tener relaciones sexuales, el me cojio por primera vez (yo buscandolo) y me lo coji tambien en varias ocasiones... en ese entonces mi placer solo era momentaneo, no lo disfrutaba y tenia mas miedo que placer.
.- Segui en la busqueda de mi satisfaccion cuando tenia los 18 hasta los 22, en ese entonces solo habia tenido sexo con hombres y casi siempre como activo. Mi momentos variaban de entre una hora o 3 horas sin parar, pero solo terminaba si yo me masturbaba.
.-Conoci a un chavo, estudiante en la universidad, por medio de otros que ya habia conocido, en ese entonces mantenia muchas relaciones sexuales con diferentes personas. si es que 3 veces a la semana y 3 personas distintas en esas mismas. El chavo del cual hablo me dio pie a que podia yo ser gay, pero dentro de mi yo decia que era heterosexual, solo que estaba experimentando.
.- Luego, conoci en el 2014 a una chava, yo le correspondi a sus afectos e intenciones de formalizar una relacion estable y duradera. Mantuve relaciones sexuales con ella durante mas de un año 5 meses sin buscar a nadie mas fiel 100%. Despues me entere que ella buscaba en conversaciones a quien le habia quitado su virginidad, un señor, poco mayor que ella, ya casado y con hijos. Su esposa fue quien me advirtio que habia conversaciones fuertes con imagenes de ellos desnudos y que ella era quien le insistia que se vieran. La enfrente y lo nego, nos separamos por un mes.
.- Durante ese mes en mi mente volvio la idea de querer satisfacerme y busque por medio de una app de citas y resulto que me encontre con un compañero de clases de ella. Mi esposa en ese entonces mi novia y yo esudiamos la misma carrera. Con este chavo solo fue platica y una supuesta videollamada que nunca se efectuo. pero quedo grabado en las conversacion de skype.
.- Regreso con mi novia, ella me insiste en volver y la perdono. pero con los meses ella encuentra mi conversacion de facebook y de skype y las conecta y me reclama por haber buscado a alguien cuando nos separamos y que era un hombre. Le explique que tenia la curiosidad de experimentar algo, pero que no se dio y lo acepto. Para ella yo le habia contado que era un don juan con las mujeres y me la pasaba cojiendo con muchas pero no me satisfacian.
.-Con el tiempo, ella seguia revisando mis mensajes y yo le era fiel, pero quise molestarla y finji una conversacion que se subio de tono en el momento que mi amigo mando imagenes de un chavo y un pene enorme, muy real para creer que se habia tomado una foto casera. Mi en ese momento novia (si, la misma) vio mi conversacion mientras yo me bañaba... muy rapida para ser verdad... y me encaro... le repeti que me gustaria experimentar que era curiosidad y que ella entenderia el porque mi inquietud de buscar algo asi (ya le habia platicado que mis maestros me habian violado de niño, solo esa parte de la historia) ella lo entendio y me hizo prometer que jamas la engañaria, lo le prometi que nunca la engañaria con ninguna mujer. Aqui ya viviamos juntos, llevabamos 3 años de novios y un año de union libre.
.-Pasa un poco mas el tiempo, ya a los 5 años de relacion (2 de vivir juntos) y le pido matrimonio. Yo me sentia muy feliz con ella a mi lado y sentia que ella me apoyaba en cada aspecto de mi vida.
.- Deje de buscar sexo, por mas de 8 meses, pero algo en mi me desperto la hormona y volvi a buscar a un tipo por medio de un aplicacion, le conte una parte de mi historia y el me dijo que me entendia y que podia ayudarme. Me ofrecio que podia ser un poco rudo conmigo en el sexo y que con eso yo iba a liberarme.
.- Este tipo, ya estando en su departamento, me inyecto la droga llamada cristal en el ano y con la euforia yo dije muchas cosas que no olvidare jamas... entre ellas me di cuenta que no amaba a mi prometida, que solo estaba con ella por las apariencias y que no era feliz realmente. Este tipo me metio el pene de forma violenta que me hizo sangrar y doler muchisimo .. esa noche no volvi a casa, tenia marcas de una tabla marcada en mi nalga, marcas de un cinturon, estaba jadeando y sudando como loco y sobre todo me dolia mucho mi cuerpo, me habia humillado de una forma muy fuerte y tenia marcas del piso en mis puños, rodillas y en general todo mi cuerpo estaba marcado. Mi piel es clara asi que era muy notorio que algo habia pasado. Jueves en la noche paso todo esto
.- El viernes llegue al trabajo y finji que alguien me habia tirado por unas escaleras, todos me creyeron y me crei ya historia.
.- Regrese al departamento de este chavo y me volvio a maltratar de la misma forma otra vez, pero me negue y me resisti a la droga y me dijo que solo funcionaria si me drogaba asi que decidi volver a casa.
.-Ya en casa nadie noto mis marcas, por suerte mi piel sana rapido. Sino que hasta el sabado en la noche le pido a mi prometida que me compre una pomada para las hemorroides, me dolia de una forma tan fuerte que no podia caminar. Ella me obligo a mostrarle mi ano y se asusto de la forma en que estaba maltratado.
.-El domingo resuto que termine convenciendome de ir a consultar por que queria analgesicos, me operaron y termine internado por 2 semanas.
.-Termino mi recuperacion de un mes sin nada de sexo y vuelvo al trabajo.
.- Un viejo conocido con el cual nunca tuve sexo anteriormente, me contacta y accedo a verle, le di oral y el a mi y me gusto el trato amable de un hombre.
.-Al dia siguiente tuve sexo intenso con mi prometida y me gusto tanto que me senti realmente enamorado de ella y decidi que deberiamos casarnos sin lujos, que fuera por amor y no apariencias.
.-Planeamos comprar una casa, para comprar la casa que nos gusto ocupabamos casarnos. Nos casamos en una boda express por el civil.
.-Mi ahora esposa, me dice que estamos embarazados y me cae la noticia feliz y triste a la vez, yo presintiendo que es niño recuerdo lo infeliz que fui de niño y me sumerjo en un mar de anecdotas.
.-Busco la comprension de un adulto que me aconseje, pero con este terminamos teniendo sexo y resulta ser un pedofilo que quiere le presente a mi hijo para ir moldeandolo a su gusto y placer...
.-Me alejo de este señor, pero me sigue atrayendo su imagen... se parece tanto a mi maestro de matematicas...
.-Busco refugio a mis emociones en alguien de mi edad y resulta que tambien terminamos teniendo sexo fuerte pero muy emocional...( con fuerte me refiero a no tan lento a como lo hice con el señor, les recuerdo que me operaron el ano ya 8 meses atras)
.- Tenemos tantos ideales en comun este chavo y yo que termina atrayendome tanto, su voz me hace sonreir, platicar con el me hace suspirar, me siento relajado y tranquilo a su lado, siento que todo es posible y que realmente puedo ser feliz.
.- Regreso a casa y mi esposa me espera (aun embarazada, ya 5 meses) y se me acurruca y me dice que se habia preocupado por mi la noche anterior que no llegue a casa por estar con mis amigos, resulta que mi cuñada la asusto llegando golpeada a casa y mi esposa creyo que yo llegaria igual o peor por tratarse de una fiesta... Yo llegue peor, porque en mi mente ahora se nublaba con la idea de que queria el divorcio para estar con ese chavo que me hacia suspirar.
.-Pero mi esposa saca un as de la manga y me propone que me puede estimular, porque encontro un pequeño dildo que tenia para rehabilitacion por la cirugia y ella entendio completamente mi situacion. Le prospuse que yo trambien le compraria uno del tamaño de mi pene o menor para que se sintiera comoda cuando yo no estuviera y acepto (aun no los compramos).
.- La idea de que tengo a una esposa que me ha comprendido en cada etapa, que esta a mi lado, que va a ser la madre de mi hijo, que me ama de una forma tan apasionada me hace entender que yo a ella tambien la amo, porque le correspondo de muchas maneras. Solo que sexualmente estoy inseguro. No habia sentido un sentimiento hacia nadie como el que senti por ese chavo y por mi esposa anteriormente. Y me doy cuenta que es muy probable sea gay o bisexual, por mi historia, pero me siento hetero porque amo a mi esposa y la idea de no separarme de ella me hace feliz.
.- Con este chavo que me enamore de una forma fugaz, le indico que si tuviera que dejar a alguien seria a el, ya que aun no estoy seguro con mis sentimientos... y el me entiende, pero regresa al tema de querer tener sexo porque le gusto mucho... ahi entiendo que fisicamente soy atractivo, pero que nadie se ha interesado por lo que digo o pienso ni por lo que yo creo que es corrrecto mas que mi esposa.
.-Ahora estoy confundido porque apesar de haber alejado a este chavo, sigo enamorado de el, pero a la vez enamorado de mi esposa y enormemente entiernecido por mi hijo que aun viene en camino.
.- No me siento haber sido infiel antes de este chavo, con el realmente me siento culpable porque le correspondi en mente y alma a dos personas cuando siempre, atras, solo era sexo.
.- Entre las platicas que tuve con el, me hizo que me preguntara ¿Qué decisión debo tomar para ser realmente feliz?.
.- Decidi seguir con mi esposa y mi familia, el rumbo que llevo hasta el momento, pero sé que dentro de mi seguire buscando el placer de estar con un hombre y que me trate de una forma entre salvaje y dulce.
.- Con mi esposa el sexo es muy rutinario y hasta tedioso, solo una postura, si se pone interesante son dos. El sexo oral no es para nada bueno, y cuando me masturba siento que lo hace de forma brusca pero sin tacto hasta llegar a molestar. Con un hombre, me gusta que me hagan sexo oral, siento un gran placer, cuando soy activo siento que puedo ser tan rudo o suave como a mi me plazca y siento que el otro se revuelca de placer por mi. cuando penetro a mi esposa ella se pone muy caliente y le encanta mucho, pero si quiero ser mas rudo me pide que pare y solo es en una posicion, la del misionero. por lo cual me cansa la monotonia y termina por quitarme la calentura. Cuando me penetrar, siento que no hay nada mejor en el mundo (hablado de sexo), que con un movimiento certero que haga el otro puedo alcanzar el climax, pero igual, en ambos casos, con hombre o con mujer casi siempre termino masturbandome porque duro mucho o porque el otro o ella ya se cansaron.
.-Mi placer sexual llega al punto en que quisiera que ella fuese mas abierta a experimentar el placer sexual, a como un hombre me hace sentir. Y con un hombre siento que le falta el sentimiento que a mi me gustaria en la relacion.
.- Estoy realmente confundido porque siento que si pido que mi esposa me penetre la podria perder, pero si no lo hago siento que igual la podria perder si me encuentra que sigo buscando sexo con un hombre
submitted by Heterostory to sexualhealth [link] [comments]


2020.01.20 17:11 MacCohen Le fonti del Libro di Mormon

Crescendo in chiesa ho sempre sentito e letto che il libro di Mormon era un esempio di letteratura ebraica e che sarebbe stato impossibile per Joseph Smith scriverlo. Con lo studio e il tempo sono però giunto alla conclusione che queste rivendicazioni avrebbero potuto essere vere solo se lui non avesse letto la Bibbia (da cui trae tutta la sua influenza ebraica) e che anzi il Libro di Mormon dimostra in molti modi come sia nato in una cultura ed un’epoca riconducibili agli Stati Uniti della prima metà del 1800.
Mark Twain ebbe l’occasione di leggere il Libro di Mormon durante un viaggio attraverso lo Utah nel 1861 e scrisse nel suo stile caustico che “Il libro non sembra altro che una prolissa cronaca immaginaria sulla falsariga del Vecchio Testamento, seguita da un tedioso plagio del Nuovo. L’autore si è dato una gran pena per infondere al suo linguaggio gli echi remoti e il ritmo inconfondibile della traduzione di Re Giacomo, e il risultato è un ibrido: una prosa per metà moderna e spigliata, e per metà scarna, arcaica e solenne. La prima è più spontanea, ma il contrasto con la seconda, faticosa e innaturale, le dà un che di grottesco. Ogni volta che Smith trovava il proprio stile troppo attuale – più o meno ogni due frasi – ci ficcava dentro un paio di locuzioni biblicheggianti come “Or avvenne che” o “In capo di alquanto tempo”, e sistemava tutto. Senza gli “Or avvenne che”, il suo intercalare preferito, questa Bibbia sarebbe rimasta un comunissimo pamphlet.” (In cerca di guai, 1872)
Oltre a far notare il linguaggio ispirato alla Bibbia del re Giacomo, che riprende uno stile letterario popolare negli Stati Uniti dal 1770 al 1830 (cfr. First Book of Napoleon e The Late War Between the United States and Great Britain, che presentano diverse espressioni identiche a quelle contenute nel Libro di Mormon che non ci sono nella Bibbia), Mark Twain rimarca che anche la trama ha elementi comuni alla Bibbia.
Fra le somiglianze c'è qualche episodio che mi ha sempre dato da pensare:
Ether 8 Marco 6
11 Ed ora, Omer era amico di Achish; pertanto, quando Giared ebbe mandato a chiamare Achish, la figlia di Giared danzò dinanzi a lui, cosicché gli piacque, tanto che egli la volle in moglie. E avvenne che egli disse a Giared: Dammela in moglie. 12 E Giared gli disse: Te la darò se mi porterai la testa di mio padre, il re. 22 La figliuola della stessa Erodiada essendo entrata, ballò e piacque ad Erode ed ai commensali. E il re disse alla fanciulla: Chiedimi quello che vuoi e te lo darò. 23 E le giurò: Ti darò quel che mi chiederai; fino alla metà del mio regno. 24 Costei, uscita, domandò a sua madre: «Che chiederò?» E quella le disse: «La testa di Giovanni Battista».
Alma 18 Giovanni 1
13 E uno dei servi del re gli disse: Rabbana, che interpretato significa potente o grande re; pensando che i re debbano essere potenti; e gli disse così: Rabbana, il re desidera che tu rimanga 38 E Gesù, voltatosi, e osservando che lo seguivano, domandò loro: Che cercate? Ed essi gli dissero: Rabbì (che, interpretato, vuol dire: Maestro), ove dimori?
Nonostante il Libro di Mormon dica di essere stato scritto dal VI secolo a.C., è costellato di passaggi biblici scritti dopo la conquista babilonese del regno di Giuda, che quindi non erano nelle tavole di Labano: il solo Nefi per esempio cita frequentemente nei suoi due libri il Deutero-Isaia (i capitoli di Isaia a partire dal 40 sono scritti dall’esilio babilonese in poi), Malachia (scritto dopo il ritorno dall’esilio), i quattro Vangeli, Atti, Apocalisse, metà delle lettere paoline (Romani, 1 e 2 Corinzi, Galati, Efesini, 1 Timoteo), Ebrei e 2 Pietro. I successori di Nefi citeranno oltre a questi anche Filippesi, Colossesi, 1 Tessalonicesi, Giacomo, 1 Pietro e 1 Giovanni prima che questi fossero scritti.
Il Libro di Mormon contiene versetti di Marco 16:9-20, un testo non presente nei manoscritti più antichi del Nuovo Testamento ma citato in 2 Nefi 31:14, 3 Nefi 11:33-34, Mormon 9:22-24 ed Ether 4:18. Poi 3 Nefi 13 riprende Matteo 6, ma al versetto 13 conclude la preghiera del Padre Nostro con la frase “Poiché tuo è il regno, e il potere, e la gloria, per sempre. Amen.” Questa si trova nella Bibbia del re Giacomo ma è in realtà un’aggiunta tarda e infatti non la troverete nella vostra Bibbia. Ci sono altri casi in cui il libro di Mormon cita testi spuri dalla re Giacomo, ma voglio restare conciso.
Le citazioni bibliche sono copiate tali e quali dalla Bibbia del re Giacomo, anche quando alcune di queste verranno poi modificate da Smith stesso nella sua Versione Ispirata (per esempio 3 Nefi 13:12, 25-27 e 14:6 sono identici a Matteo 6:13, 25-27 e 7:6 ma nella Versione Ispirata sono diversi). Una traduzione scorretta della Bibbia del re Giacomo porta Smith a parer mio a parlare dell’arco d’acciaio spezzato da Nefi (1 Nefi 16:18), tratta da Salmi 18:34 “He teacheth my hands to war, so that a bow of steel is broken by mine arms”. La traduzione più aggiornata di Luzzi lo rende in “ammaestra le mie mani alla battaglia e le mie braccia tendono un arco di rame” perché il termine originale nehushah in ebraico significa rame o bronzo, ma non acciaio.
I nomi ebraici sono copiati dalla Bibbia (abbiamo addirittura un Timoteo in 3 Nefi 19:4, che però è greco) e Smith arriva a imitare i nomi teoforici ebraici per darsi credibilità (Geremia, Isaia, Elia, Malachia o Zaccaria, composti col suffisso -iah, che indica Geova, ispirano Moroniha, Nefiha, Mathonia, Ammoniha, Cumeniha nel Libro di Mormon). I nomi non biblici invece sono inventati di sana pianta e non seguono l'onomastica ebraica o di qualche popolo precolombiano. I Giarediti, nonostante vivessero molti secoli prima della cultura ebraica, avevano stranamente anche nomi ebraici (Efraim è una collina in Ether 7:9, mentre personaggi chiamati Levi e Aaronne sono presenti nella genealogia di Ether 1:15, 20). La stessa collina di Cumora è secondo me ispirata al nome di Gomorra, che in inglese si pronuncia in modo molto simile.
Il Libro di Mormon è anche pieno di discorsi simili a quelli dei predicatori del secondo grande risveglio. Alexander Campbell, uno dei fondatori del restaurazionismo a cui era legato personalmente Sidney Rigdon, disse dopo aver letto il Libro di Mormon: “Questo profeta Smith, attraverso i suoi occhiali di pietra, ha scritto sulle tavole di Nefi, nel suo Libro di Mormon, ogni errore e quasi tutte le verità discusse nello Stato di New York negli ultimi dieci anni. Egli decide riguardo tutte le grandi controversie -battesimo di bambini, ordinazione, la trinità, rigenerazione, pentimento, giustificazione, la caduta dell’uomo, l’espiazione, transustanziazione, digiuno, penitenza, governo della chiesa, esperienza religiosa, la vocazione al ministero, la resurrezione generale, la punizione eterna, chi può battezzare e perfino la questione della massoneria, del governo repubblicano e i diritti dell’uomo. Ci sono riferimenti ripetuti a tutti questi argomenti. Quanto è benevolo ed intelligente questo apostolo americano, più dei santi dodici, anche aiutati da Paolo! Ha profetizzato su tutti questi argomenti e sull’apostasia e decide, in modo infallibile, con la propria autorità, ogni questione. Com’è facile profetizzare sul passato o sul tempo presente!” (An Analysis of the Book of Mormon, 1832, p. 13) Campbell fa anche notare alle pagine 9-10 dello stesso testo che nel Libro di Mormon ci sono discorsi religiosi antimassonici riguardo alle società segrete (come i ladroni di Gadianton), anch'essi molto comuni all'epoca per via del complottismo di alcune figure religiose e il caso nato dopo la misteriosa scomparsa di William Morgan, nonostante diversi membri della famiglia Smith fossero massoni. Lo stesso Martin Harris riteneva che il Libro di Mormon fosse "la Bibbia antimassonica e che tutti coloro che non ci credono saranno dannati" (Geauga Gazette, 15 marzo 1831)
Lo storico mormone Richard Bushman in un AMA su Reddit del 2015 scrive che “[…] leggendo Alma nel Libro di Mormon, ho iniziato a cercare su Google lunghe frasi dai sermoni e queste apparivano in sermoni nello stesso identico contesto dottrinale. Tutti i discorsi su Gesù nel Libro di Mormon, la sua gloria diremmo, hanno un certo non so che del XIX secolo. Secondo me dovremmo diventare gli esperti di questo materiale e capire cosa ci dice sulla traduzione e la natura del testo." Anche lo scrittore mormone Blake Ostler sostiene che "molte dottrine del Libro di Mormon si spiegano meglio in un contesto teologico del XIX secolo."
Lo stesso re Beniamino che si fa costruire una torre per predicare al popolo che si è disposto in tende rivolte verso di lui (Mosia 2:6-7), riprende i camp meetings del secondo grande risveglio, dove i viaggiatori disponevano l'ingresso delle loro tende davanti alla piattaforma da cui il predicatore parlava.
Che i nativi americani fossero discendenti degli ebrei era un’opinione condivisa da molti nordamericani nel XIX secolo: era in voga il mito dei Moundbuilders (costruttori di tumuli), per cui si sosteneva che i nativi americani non fossero abbastanza avanzati da aver potuto erigere i notevoli tumuli che costellano gli Stati uniti come quelli di Cahokia (Illinois) o Serpent Mound (Ohio), ma che doveva essere stato qualche popolo originario del Vecchio Mondo, magari discendenti delle tribù perdute di Israele, poi caduto nella barbarie o sterminato dagli antenati dei nativi americani. Per fortuna l'archeologia ha smentito da tempo questa leggenda degradante e razzista nei confronti dei nativi. Il concetto è importante anche per View of the Hebrews, un libro del 1823 che secondo il Settanta e assistente storico della Chiesa B. H. Roberts avrebbe potuto ispirare Joseph Smith nella stesura del Libro di Mormon. View of the Hebrews inizia parlando dell’assedio di Gerusalemme da parte di Tito, poi racconta di un gruppo di ebrei che fugge e arriva in America; qui si separano in due fazioni, una civilizzata e repubblicana e una barbarica dedita alla caccia che finirà per distruggere il primo. Si racconta anche di un nativo americano che dice che i suoi antenati avevano sepolto un loro antico libro perché non erano più in grado di leggerlo. View of the Hebrews ha la finalità di spiegare che i nativi americani sono discendenti degli ebrei e che invece di essere sterminati dagli Statunitensi dovrebbero essere convertiti per compiere il raduno di Israele, invocato con molte citazioni tratte da Isaia. (Studies of the Book of Mormon, redatto negli anni ’20 ma pubblicato solo nel 1985)
Il Libro di Mormon e in seguito Joseph Smith in numerose occasioni fanno riferimento alla lingua, alla conoscenza oppure all’astronomia egiziana (Nefi 1:2, Mormon 9:32). La spedizione archeologica sotto Napoleone in Egitto (1799-1801) diede inizio all’egittomania sia in Europa che negli Stati Uniti e Smith dimostrerà molto interesse anche quando comprerà le mummie con i papiri che daranno origine al Libro di Abrahamo e in vari testi in cui sosterrà di conoscere l’egiziano.
Altri eventi del Libro di Mormon vengono dalle esperienze personali di Smith e famiglia, per esempio il sogno di Lehi è ispirato a uno praticamente identico fatto da Joseph Smith Sr:
“Credevo di star viaggiando in un campo aperto e desolato che appariva molto brullo. […] La mia guida, che era al mio fianco come l’altra volta, disse: “Questo è il mondo desolato, ma prosegui.” […] Camminando per un altro breve tratto, giunsi a un sentiero stretto. Imboccai questo sentiero e, dopo averlo percorso per un po’, vidi un bel corso d’acqua che scorreva da est a ovest. Non potevo vedere né la fonte né la fine; ma ovunque arrivassero i miei occhi potevo vedere una fune che correva lungo la sua riva, posta a un’altezza che un uomo poteva raggiungere, e oltre c’era una vallata bassa ma molto piacevole nella quale sorgeva un albero come non ne avevo mai visti prima. Era estremamente bello, tanto che lo contemplai con stupore e meraviglia. I suoi bei rami si allargavano un po’ come un ombrello e reggeva certi frutti molto simili a un riccio di castagno e bianchi come la neve o anche più, se possibile. […] Mi avvicinai e cominciai a mangiarne e lo trovai delizioso oltre ogni descrizione. Mentre mangiavo dissi nel mio cuore: “Non posso mangiarne da solo, devo portare mia moglie e i figli perché possano prenderne parte con me.” Pertanto andai e portai la mia famiglia […] Nel mentre, vidi un edificio spazioso che si ergeva dalla parte opposta della valle nella quale eravamo e sembrava raggiungere il cielo stesso. Era pieno di porte e finestre ed esse erano tutte piene di persone vestite molto lussuosamente. Quando quelle persone ci videro in basso nella pianura, ci puntarono con dita di scherno e ci trattarono in ogni modo irrispettoso e disprezzante. Ma noi ci infischiammo completamente dei loro oltraggi. Poi mi volsi verso la mia guida e gli chiesi il significato del frutto che era tanto delizioso. Egli mi disse che era il puro amore di Dio, riversato nei cuori di tutti coloro che lo amano e osservano i suoi comandamenti. […] chiesi alla mia guida quale fosse il significato dell’edificio spazioso che avevo visto. Rispose “È Babilonia, è Babilonia, e deve cadere. Le persone alle porte e alle finestre sono i suoi abitanti, che scherniscono e disprezzano i Santi di Dio a causa della loro umiltà.” (Lucy Mack Smith, History, 1845, pp. 53-55).
I tesori che sprofondano nella terra e non si riescono più a recuperare, come in Helaman 13:35 e Mormon 1:18, sono la stessa scusa usata da Smith quando cercava tesori nascosti con le sue pietre divinatorie (come testimoniano negli affidavit di Hurlbut molte persone che lo frequentavano). Allo stesso modo, Moroni che protegge le tavole d'oro e che Smith trova con le pietre divinatorie riprende le storie dei cercatori di tesori dell'epoca.
I discorsi di eccezionalismo americano (1 Nefi 2, 13, 22; 2 Nefi 1, 10, Ether 2, 13 e così via) che parlano di come gli USA siano una terra speciale e scelta da Dio su cui non ci saranno re sono significativi, visto che Joseph Smith era nato una generazione dopo la guerra d’indipendenza americana: fa un po’ come Cuore, che era stato scritto per infondere l’amor di patria e la morale nella nuova generazione dell’unità d’Italia. Solomon Mack, nonno materno di Joseph, era un veterano della guerra d'indipendenza. Amici statunitensi, incensando il loro Paese e la sua origine divina, mi fecero realizzare quante somiglianze ci sono fra la versione idealizzata di George Washington (che dichiarò nel 1775 “Abbiamo imbracciato le armi in difesa della nostra libertà, delle nostre proprietà, delle nostre mogli e dei nostri bambini: siamo determinati a conservarle o a morire”, cfr. con Alma 46:12) e il capitano Moroni, che combattono contro gli uomini del re per la propria libertà e i diritti religiosi, idee che appaiono anche in lunghi discorsi politici sia in Nefi che in Alma e che gli Americani più patriottici amano ricordare e citare occasionalmente.
Nel libro sono presenti anche vari vaticinia ex eventu, descrizioni “profetiche” dettagliate di Giovanni Battista (1 Nefi 10:7), Maria (Alma 7:10), apostoli (1 Nefi 11:34), Cristoforo Colombo (1 Nefi 13:12), i Tre Testimoni (Ether 5:4) e anche Joseph Smith stesso (2 Nefi 3:15) incredibilmente specifiche quando si parla di eventi fino a Smith, ma parecchio vaghe quando si parla di avvenimenti successivi.
Si sostiene spesso che Joseph Smith fosse troppo ignorante per aver potuto dettare il Libro di Mormon, ma come si può vedere si era portato avanti grazie alla Bibbia, alla cultura dell’epoca e a esperienze personali che vennero inserite in svariate occasioni nel libro. La prima edizione del Libro di Mormon è poi ricchissima di errori grammaticali. David Whitmer, uno dei Tre Testimoni, dice che “Joseph Smith metteva la pietra divinatoria in un cappello e metteva la faccia nel cappello […] Appariva un pezzo di qualcosa che somigliava a pergamena e su quello appariva la scritta. Appariva un carattere alla volta e sotto questo c'era l'interpretazione in inglese. Il fratello Joseph leggeva l'inglese a Oliver Cowdery, che era il suo scrivano principale, e quando era trascritto e ripetuto al fratello Joseph per vedere se fosse corretto, allora scompariva ed appariva un altro carattere con la sua interpretazione” (An Address to All Believers in Christ, 1887, p. 12). Eppure, nonostante tutta questa precisione, erano presenti discrepanze, contraddizioni, errori gravi nella coniugazione di verbi, un uso sbagliato del pronome thou nelle sue varie forme (poco familiare agli anglofoni oggi, ma anche a Smith), di much e many, di preposizioni e anche una scelta di lessico impropria: errori provenienti da ciò che Smith stesso dettava e non da sbagli di Cowdery, come racconta David Whitmer. Molti di questi errori vengono in seguito corretti, ma mostrano un vocabolario e una costruzione testuale che mi sembrano provenienti proprio da Smith e dal suo stile più che da un dio infallibile.
Insomma, se il Libro di Mormon sembra molto moderno su certe tematiche non è perché è stato scritto “per i nostri giorni”, ma più semplicemente ai nostri giorni.
submitted by MacCohen to Exmormoni [link] [comments]


2020.01.19 23:38 Gevana FIESTRANS

Fiesta 18 de Enero
Este día como siempre llegamos desde muy temprano a la locación, me encontré con los otros dos anfitriones en la entrada saludándonos con mucha efusividad, pasamos a la locación y procedimos a dejar absolutamente todo sanitizado y ordenado para la llegada de todos nuestros invitados, el día pintaba un poco frío ya que el clima empezó a cambiar a partir de las 12 del día. Algunas de las chicas confirmaron a llegar posterior a las 2 de la tarde, nuestro primer invitado llegó alrededor de las 2:30 PM, un poco sorprendido porque aún no había alguien más, se dispuso a conocer todo el espacio y a fumarse un cigarrillo en el área creado para esto, dentro de la plática muy amena nos empezó a contar desde cuándo le nació la inquietud por las mujeres trans, dejándonos ver que era alguien totalmente seguro y entendido de lo que estaba buscando como primera experiencia, minutos después llegó otro invitado el cual se sumó a la plática y aunque tenía 23 años y con una experiencia casi nula, también tenía perfectamente entendido Cuál era la situación que buscaba vivir en la FIESTRANS, nosotros como anfitriones muy gustosos de tenerlos con nosotros, les platicábamos que regularmente el cuántas personas acuden y en qué horario va cambiando dependiendo de las actividades de cada quien, ninguna persona va obligada a asistir en ningún momento, tampoco para la interacción entre cada uno de los invitados pues es una fiesta y como todo en una fiesta cada quien decide con quién bailar, platicar o compartir la copa o si se suscitan otras situaciones, de igual manera es totalmente consensuado por las partes que participan en ello. Luego de un rato empezaron a llegar más invitados y dentro de ellos se encontraba nuestra preciosa debutante a quién bautizamos con el nombre de Karlita; Karlita es una chica joven de hermosas piernas torneada la cual estaba muy tímida a cambiarse porque no tiene casi la experiencia en transformarse y solamente había vivido algunas malas experiencias y buenas dentro de lugares como las famosas cabinas, nos expresó que no fue grata experiencia en este lugar y que ahora al ver las fiestas anunciada le llamó mucho la atención el poder visitarnos y explayar un poquito más el gusto que está empezando a nacer en ella, los chicos junto con los anfitriones la animamos a que se cambiará de ropa y se sintiera totalmente a gusto ya que el lugar está creado para que todos nos sintamos cómodos de la manera que prefiramos estar vestidos. Cuando salió de cambiarse, portaba una cabellera negra lacia casi a la cintura junto con un atuendo muy coqueto que era una pequeña falda tipo escolar y un poco de vuelo, calcetas ala rodilla, unos converse y una blusa de tirantes, era exactamente toda una colegiala, una chiquilla Qué quería juguetear y experimentar por primera vez lo que era estar en la fiesta, animándola un poquito le ofrecí darle un toque de maquillaje para suavizar un poco, realmente venía con un rasurado perfecto y con lo lampiño qué es su cuerpo, lucía simplemente exquisita. Nos fuimos para el área de fumar en donde yo le proporcione algunos toquecitos nada más de maquillaje sin pestañas ni sombras porque realmente su cara angelical hacia verla tan fresca como eso, una chiquilla, platicando con ella me decía que se sentía muy nerviosa, yo le expresé que se sintiera muy segura de estar en la fiesta porque nadie está obligado a nada y lo más padre es que podía sentirse lo más femenina y también que se sintiera muy cortejada por parte de nuestros invitados. Pasado un momento llegaron una pareja con los cuales platicamos y nos expresaban su gusto por la dominación y el arte de las cuerdas o BDSM, la fiesta estaba muy amena, empezamos con algunos juegos, y llegaban más invitados. Iniciamos a Karlita con un juego donde pasaban todos los invitados y podían toquetearla por arriba, por abajo y por enmedio ya que el juego se trataba de romper el hielo y de que ella se sintiera alegre y sensual con cada uno de los invitados, posterior a esto cada uno pasó a tener un pequeño faje con ella tocando sus hermosísimas piernas redondas totalmente torneadas juveniles y con un trasero redondito y levanta, tú te podrás imaginar la escena de una chamaquita de 15 a 16 años en comparación, obviamente nuestra sistente era mayor de edad, pero el juego de ilusión saben perfectamente que es válido en este tipo de situaciones, después pasó otra de las chicas a la cual también le metieron mano todos y cada uno de nuestros invitados, ella siendo una mujer Tans está más habituada y más familiarizada con el jugueteo de los hombres, cada una de ellas nos expresó que se sentía muy a gusto y los participantes fueron desfilando para convivir de una manera muy amena, la pareja invitada nos informó que querían estar de espectadores por lo cual ellos no participaron en ningún momento, ellos trataban de encontrar una chica trans que fuera bisexual para poder realizar la Fantasía que la esposa venía buscando, hay ocasiones que nos acompañan chicas trans que son bisexuales, pero realmente no es la regla, también en otras ocasiones nos acompañan chicas travestis que son bisexuales y Karlita es una de ellas, nada más que la interacción no se dio porque ella Aún es muy tímida y como Lo acabamos de mencionar este día fue su iniciación. Dentro del jugueteo las cosas se prendieron y se retiraron al cuarto oscuro junto con un asistente sorpresa que llegó y se puso un negligé de animal print unas medias con liguero tacones negros y su delgada figura se fue directo a lo que es el cuarto oscuro. Dentro del cuarto oscuro empezaron a fajar con un joven de cuerpo Atlético con una herramienta prominente, mientras una estaba besándolo la otra se daba gusto dándole sexo Oral, en su primera experiencia el exclamaba que era una Delicia, que era de lo más rico, que no se lo había podido imaginar de otra forma, después se fueron sumando algunos de los invitados y por ahí en el rincón empezaron a fajar nuestra querida Karlita, estaba asediada por los hombres los cuales no dejaban de tocar sus hermosas y torneadas piernas, ella expresaba que tenía miedo de ser pasiva por primera vez ya que se encontraba casi virgen a esta experiencia, Mientras tanto las otras chicas se dan gusto con los invitados dando sexo oral y las penetraban de manera efusiva, mientras a otros les daban una ayudada con la mano o con la boca los gemidos de Betty se escuchaban tan fuerte en el cucuarto que invitaba a los que estaban en la sala a echar una ojeada, la pareja que nos acompañó se mantenía al margen, solamente como voyerista y de vez en cuando él se acercaba para toquetear a las chicas pero manteniendo la línea sin participar, uno a uno fueron desfilando por el cuarto oscuro satisfaciendo las bocas y cavidades de las jóvenes que nos acompañaron el momento era tan candente que era difícil que alguno de ellos no se prendiera, algunos solamente se mantuvieron pegados a las paredes como observadores sin participar, cuando terminó el efusivo momento que duró más de dos horas, las chicas estaban totalmente saciadas, los chicos divertidos y cada uno de ellos se iban retirando, la mayoría llegaron un poquito tarde y por lo mismo ya no pudieron convivir más dentro de la plática y los juegos, llegaban y directamente pasaban al cuarto oscuro, fue una tarde súper divertida como siempre, con muchos de nuestros amigos acompañándonos y definitivamente esto se va poniendo mejor.
Como en toda fiesta hay algunos detalles, uno de ellos es que varias de las chicas que nos prometieron acompañar no asistieron por algunas situaciones familiares o laborales, debe de entenderse que dentro de la fiesta todo aquel que acude es por su propio pie y que nadie está obligado a acudir con nosotros, es de manera voluntaria, aunque las chicas no dan donativo, nosotros no podemos controlar sus compromisos, horarios y situaciones hagan que acudan de aquí, otro punto fue un invitado al margen de la situación, expresaba que deberíamos de contratar una masajista para que lo atendiera para que satisfaciera sus necesidades eróticas, de manera efusiva, nosotros les expresamos como fiesta en que este tipo de situaciones no se dan no se darán y no están permitidas, porque la temática de la fiesta no es un burdel, putero, casa de cita o lugar de mala nota, sino todo lo contrario, somos un lugar donde varios amigos nos reunimos para convivir de manera sana voluntaria y sin finalidad comercial, porque no es un establecimiento, es una fiesta, las chicas que brindan servicios sexuales se encuentran anunciadas en diferentes portales o se encuentran trabajando a ras de banqueta En dónde pueden contratarlas sin ningún problema, en nuestra FIESTA, Quien llegue asistir es por gusto propio. Otro punto es que llegó un invitado y alegando querer ver cómo estaba el ambiente ingresó a la fiesta y de manera inmediata nos dijo que prefería Regresar más tarde ya que esperaban Qué hubiera más chicas libres para poder convivir ; la asistencia es total y absolutamente variable, hay fiestas en donde hay más chicas que hombres y ellos se han dado el festín con cada una, finalmente si ustedes como caballeros tampoco publican que vienen muchas de las chicas no se animaran a participar y sobre todo ninguna chica está obligada a estar con una sola persona o con ninguno la decisión es muy personal y también debe de entenderse que los gustos particulares de cada quien se limitan a querer o no interactuar con alguien. Algunos chicos no participaron por falta de higiene, así que recuerden que esto es importante, están acudiendo a un punto de encuentro.
Se repite de manera muy clara Qué estamos en contra de la trata de personas.
Si tú estás gustoso de participar entendiendo la situación y que para ti no ha sido fácil contactar una mujer trans o una chica travesti o si eres un travesti o mujer trans que no te es fácil contactar por muchas situaciones o concretar alguna cita con algún chico, te invitamos a que vengas a la fiesta, te esperamos la próxima cita y recuerda invita a tus amigas y amigos, parejas son totalmente bienvenidas y respetadas al 100% así como las mujeres que acudan solas sientanse protegidas y seguras que nosotros siempre veremos porque todos nos divirtamos guardando el respeto que debe de existir en cualquier lugar, hasta la próxima y no dejes de seguirnos en nuestras redes sociales.
submitted by Gevana to u/Gevana [link] [comments]


2019.08.19 17:21 jrkf2233 Asking for help, or advise

Jadi gw sekarang merantau di jaksel daerah depan stasiun lenteng agung, coworker gw envy gitu karena gw baru masuk udah dipercaya ini itu sementara dia mau dipindah ke divisi lain. Udah keliatan doi mau doing something bad lah, sekarang doi ama temen temen (total 4) nya lagi pada di depan kantor (sekaligus tempat tinggal) ada kemungkinan gw malem ini dikeroyok. kalo ga malem ini mungkin kedepanya pasti dikeroyok juga, soalnya disini yang tinggal di kantor ada ber 5 dan gw satu satu nya yang bukan dari daerah mereka, guess i die
update : i tell my brother who came here because he work tommorow somewhere in south jakarta, bisa tenang untuk sementara waktu meski besok pasti dibully
update 12:39 tomorrow morning 2 atasan bakal kesini buat ngerundingin masalah ini. sementara abang gw berangkat ke lokasi suting jam 4 subuh. wish me luck
update 3:25 probably i will lock myself in this room until 7:00 am, will update later
update 4:03 am, i try to rest and wait til morning comes
update 7:23 am, masih nunggu orang kantor datang.
update 7:54 i think it's save from now. if anything happen i'll update
terima kasih buat semua yang sempet ngasih saran dan nanyain kabar dan kondisi gw
ps. kenapa gw ngotot kerja disini? gw cuma pengen kerja sambil cari pengalaman. gw yang lulusan SMA ini ga lebih dari fresh graduate umur 23 an yang cuma kerja di bidang freelance dari sebelum lulus SMA (ampir 7 taun). kemaren sempet masukin lamaran sana sini pas lagi ga ada kerjaan selama 4 bulan dan ga ada hasil, makanya ini jadi kesempatan terakhir gw ngejar cita cita bodoh gw menjadi seorang editor.
submitted by jrkf2233 to indonesia [link] [comments]


2019.06.24 16:16 PabloOlmos Razones de la caída de Podemos. Texto tercer: Causas organizativas.

Las razones de la caída de Podemos, 3 También se puede leer en: https://www.facebook.com/pablo.olmos.3192/posts/2282307905182444
Textos previos:
  1. Introducción: https://www.facebook.com/pablo.olmos.3192/posts/2245780338835201
  2. Las razones externas: https://www.facebook.com/pablo.olmos.3192/posts/2247294288683806
En este capítulo hablaré de las causas organizativas de la caída y para ello es necesario hacer una crónica de la evolución del Partido, que yo veo en 4 fases: De “Herramienta Democrática” a “Máquina de Guerra Electoral”, de ahí a la “Ruptura de la Hipótesis Podemos” para finalmente llegar a la “Centrifugadora de Talento”.
En 2014 se veía venir el agotamiento de los movimientos sociales a quienes, a pesar de su gran movilización, las instituciones dominadas por un “cartel” de partidos podían ignorar perfectamente en sus reivindicaciones. No hay que olvidar que durante el 15M se reformó la Constitución y se dió paso al gobierno del PP y los retrocesos que supuso en apenas unos años.
Más allá de las aspiraciones y estrategias de los promotores de Podemos durante el 2013 y principios de 2014 (que básicamente parece que aspiraban a forzar una refundación de IU), durante la campaña de las europeas y especialmente tras el sorprendente resultado de mayo de 2014, un enorme caudal de ilusión conectó con la propuesta de utilizar Podemos como un movimiento político cuyo centro era ser “herramienta democrática al servicio del Pueblo”. Esto, junto con un brillante comando mediático que apelaba al “nuevo sentido común” 15mayista abrió una ventana de oportunidad que se dió en llamar la “Hipótesis Podemos”: la posibilidad de acceder a las instituciones con una mayoría suficiente mediante un discurso transversal como forma de cambiar el país.
Pronto se generó una gran dualidad en el movimiento: por un lado el denominado “equipo promotor” (Pablo, Íñigo, Carolina, Juan Carlos, Luis Alegre, y la gente de anticapitalistas…) con sus redes de confianza previas, y por otro lado la multitud que acudía a los círculos tratando de organizarse mirando constantemente a ver qué decían “los chicos de la Complutense” para tratar de intuir una línea política. Había un comando mediático que funcionaba muy bien, y un montón de grupos de debate muy inoperantes que servíamos sobre todo como decorado.
Del Podemos “Herramienta democrática” a la “Máquina de guerra electoral”: Vistalegre 1.
Por no extenderme con lo que además todos ya sabemos, en la primera Asamblea estatal (Vistalegre I) proponíamos dotarnos de mayor claridad organizativa y de mayor consistencia. Sin embargo, se optó por dar un enorme cheque en blanco al equipo promotor para seguir manteniendo en suspenso la construcción democrática del partido en beneficio de la construcción acelerada de una maquinaria electoralista. La propuesta de trabajo era convertirnos en una organización leninista de tonos morados, con Gramsci y Laclau en mente, para afrontar las próximas citas electorales.
El partido-movimiento seguía con la enorme dualidad anterior. En la parte territorial, a la inoperancia llena de ilusión de los círculos pero sin competencias reales se sumaron los nuevos consejos ciudadanos un poco más operativos pero sin apenas poder real de decisión más allá de ser correa de transmisión de las decisiones de Estatal. Además, la elección de estos consejos llevó a encarnizadas batallas por ganar las primarias que abrieron grandes heridas en cada lugar.
La falta de claridad e interés de la Secretaría de Organización estatal en construir organización territorial, así como las purgas que hacían de las organizaciones territoriales que no se plegaban a la estrategia de la “máquina de guerra”, generó un goteo constante de gente que fue abandonando la organización, aunque al acercarse gente nueva ilusionada no se notara demasiado en los números y la capacidad de militancia. Además, hay que añadir la decisión de no presentarnos a las elecciones municipales con nuestro nombre, lo cual multiplicó candidaturas municipalistas con su propia autonomía. Todo esto supuso que la enorme y vibrante energía local se desperdiciara en una batalla permanente por la legitimidad, mientras que no se tenía acceso a censos, herramientas locales de decisión “oficiales” ni a recursos financieros.
Aparición de Ciudadanos y la ruptura de la “hipótesis” del “núcleo irradiador”.
La máquina de guerra electoral a nivel estatal estaba relativamente bien engrasada y hacia ella iban casi todos los recursos que se captaban, pero como dijimos en el anterior “capítulo”, el surgimiento de C’s generó que Íñigo y Pablo no vieran igual las perspectivas estratégicas del Partido. Esto a nivel organizativo se tradujo en que desde mediados del 2015 Pablo Iglesias generara toda una estructura paralela a la “oficial”, a través de la “oficina del Secretario General” y las redes de “Vamos” controladas por Rafa Mayoral. Hablando en plata, estas redes servían para que, de manera más o menos encubierta, se pudiera contratar a personas en cada territorio y movilizar una organización “pablista” dentro del partido. Con algunas excusas, se permitió que estas incipientes redes “pablistas” no se tuvieran que coordinar con las Secretarías de Organización o de Movimientos Sociales de los territorios. Así a menudo generaban ruido y colisión con las estrategias locales para círculos y movimientos sociales. Ejemplo paradigmático es el uso de “Vamos” para debilitar la estrategia de construir tejido social a traves de proyectos desde los círculos tal como planteaba la iniciativa “Hacemos”.
Tras las elecciones generales de diciembre de 2015, esta fractura interna ya fué evidente para el público general y Pablo Iglesias designó a Echenique como sustituto de Sergio Pascual en la Secretaría de Organización.
Tres semanas antes de que se nombrara a Echenique, éste había escrito un interesante artículo sobre los problemas organizativos internos, del cual podríamos destacar esta frase: “la única innovación de largo alcance y no coyuntural que PODEMOS puede encarnar es la organizativa”. Muchos estábamos de acuerdo con gran parte de lo que en ese artículo se planteaba y, ante el desolador panorama organizativo, quizá el hecho de que Echenique capitaneara el desmantelamiento de la “Máquina de Guerra” era un pequeño rayo de esperanza. Sin embargo, pronto pudimos ver que del dicho al hecho hay mucho trecho, y esa hipocresía, que se puede medir como la distancia que existe entre lo que se dice y lo que se hace, hizo un gran daño a Podemos.
A estas alturas, cualquiera que conociera bien la organización por dentro debía recibir con desasosiego o con grandes dosis de cinismo el oír los discursos de Podemos sobre la participación, diálogo y democracia. Los mítines y charlas que antes se llenaban de una energía que hacía llorar de ilusión pasaron a sonar totalmente huecos y vacíos.
La construcción del partido en los territorios seguía igual de entorpecida y la labor de la Secretaría de Organización seguía consistiendo en marear a los militantes con iniciativas burocráticas estériles (el atarse los cordones como ejemplo paradigmático) o purgar a los que se separaran demasiado de las directrices estatales y no tuvieran un capital mediático suficiente para resistir. Pero al menos se eliminó el botón “plancha” y se dejó de enviar buena parte de la financiación que se mandaba desde los territorios hacia la organización estatal.
Tras un año de bloqueo del trabajo normal del Consejo Ciudadano Estatal, una Comisión de Garantías en la que Gloria Elizo y su marido Pablo Fernández tomaban todas las decisiones a pesar de estar en minoría y tras un año de disputas en los medios de comunicación entre “errejonistas” y “pablistas”, este enfrentamiento se fue trasladando a los territorios. Se convocó por sorpresa y de forma apresurada Vistalegre 2.
Esta segunda Asamblea Estatal tuvo como gran resultado el control total del Pablismo de todos los órganos de decisión a nivel estatal excepto la comisión de garantías. Los dos líderes enfrentados llegaron a un acuerdo para que Íñigo y su equipo se centraran en ganar las elecciones en la Comunidad de Madrid y dejaran el campo libre a Pablo Iglesias y a Irene Montero para organizar el partido como quisieran a nivel estatal.
En el primer semestre del 2017 se generó una situación curiosa: los candidatos favorecidos por el pablismo en muchos territorios perdieron en las renovaciones de los Consejos Ciudadanos Autonómicos. Así pasó en Andalucía, Región de Murcia, Comunidad Valenciana, Cataluña, Aragón, La Rioja, Asturias, País Vasco y Canarias. Mientras que las dirección política en Baleares era de relativo consenso y en Galicia había una gran división entre su Consejo Ciudadano Autonómico y la Secretaría General. Quedaban como pablistas Cantabria (que luego volvería a disolverse), Navarra por un puñado de votos, las dos Castillas y Extremadura. Y en Madrid, como habíamos visto, en principio Errejón y su equipo irían ocupando el espacio.
El modelo organizativo ganador de Vistalegre 2 no supuso un gran avance, pero sí que se daba, al menos sobre el papel, cierto margen de federalismo y autonomía territorial. Esto, unido a una Comisión de Garantías independiente, generó la posibilidad de construir en algunos territorios un Podemos que matizara el proyecto Pablista a nivel estatal y que permitiera acoger la gran diversidad existente en Podemos.
Sin embargo, no fue posible porque lejos de ver estos “cabos sueltos” en los territorios como una oportunidad, el pablismo lo vió como una amenaza a su hegemonía. Las apelaciones a la unidad y a la humildad sonaban más huecas todavía que las antiguas apelaciones a la participación y la democracia que sustituyeron. En junio, la dirección estatal envió a la Comisión de Garantías el borrador de nuevos estatutos y, tras su evaluación se declaró que esta reforma de estatutos propuesta no cumplía con lo aprobado por la Asamblea Ciudadana de Vistalegre 2. Sin embargo, unos días más tarde la dirección estatal decidió desobedecer y registrar los estatutos en el Ministerio del Interior. La solución al grave conflicto que se abrió entre la dirección estatal y la Comisión de Garantías estatal y la mayoría de comisiones de garantías autonómicas llegó un més más tarde a purgar a los miembros no controlados de la Comisión de Garantías Estatal para conseguir nuevamente el control del esencial órgano “judicial” interno.
Con los nuevos estatutos convenientemente recortados de los avances federalistas y democratizantes, junto con la purga de la Comisión de Garantías estatal, se puso otro clavo al ataúd de la esperanza de un Podemos realmente democrático que pudiera aglutinar en su seno la diversidad y potencia del pueblo transformador. Por no extendernos más, en este comunicado de Profundización Democrática, en su punto 3 se puede leer un resumen de los recortes que realizaban los nuevos estatutos, sin pasar por la Asamblea: http://profundizaciondemocratica.org/COMUNICADO-Estatutos-2…
Y así hemos llegamos a 2019 con una organización extremadamente jerárquica, centralizada y arbitraria, cuyo poder real no reside en las bases sino en el liderazgo mediático que hace y deshace según considera. De forma gradual, pero con constante aceleración, hemos pasado a convertirnos en el Partido “centrifugadora de talento”, en el que cada vez más compañeros y compañeras valiosas abandonan un proyecto que se ha quedado en una mera regeneración de lo que fue IU.
Algunas notas extra sobre la organización de Podemos: * Desarticulación organizativa; * Permanente inseguridad jurídica y ausencia de resolución de conflictos; * Democracia plebiscitaria; * Mala gestión de la diversidad e inadecuados sistemas de votaciones; * La bunkerización de Podemos.
- Desarticulación organizativa. La extrema dualidad entre “el centro” y la “periferia” del partido nos ha hecho ser un gigante mediático con pies de barro. La apuesta desde Vistalegre 1 fue sujetar con pinzas una fortaleza mediática y luego más tarde construir la organización necesaria.
En un primer momento por la sensación de urgencia, y en un segundo momento por las guerras de camarillas en torno a los liderazgos mediáticos, se generó mucha desorganización, incluso a nivel estatal donde se acumulaban todos los recursos materiales y simbólicos.
Se podría hablar de muchas cosas concretas que muestran este desinterés por la articulación organizativa de los territorios, pero me limitaré a 3:
  1. Nunca se ha querido compartir la información de qué personas están inscritas en cada lugar, datos de vital importancia para construir organización local, movilizar recursos humanos y financieros y generar una democracia interna sana.
  2. Desde el centro se ha asfixiado económicamente a los territorios, en los primeros años obligando a que todos los recursos del partido fueran a financiar la organización estatal y, tras las elecciones autonómicas, obligando además a que buena parte de los recursos de los diputados autonómicos se envíen también a estatal. En este sentido, siempre se han puesto numerosas trabas a que se elaboraran estrategias descentralizadas de captación de fondos para la organización local desde la organización local. A partir de diciembre de 2015, debió de haber existido un torrente de dinero desde estatal para permitir la creación de locales y asociaciones vinculadas a la Fundación del partido. Por muy difícil de gestionar que fuera, el futuro dependía de construir tejido social a nivel local. Sin embargo, estatal fue muy firme en sus directrices financieras que no permitían esta estrategia y a finales de 2017 (últimas fechas donde tenemos datos del portal de transparencia) Podemos tenía ya paralizado en caja más de 19 millones de euros.
  3. Desde el centro emanaban normas burocráticas e iniciativas para aparentar que se avanzaba en organización, pero mayormente han servido para mantener entretenidas a las bases y militantes más activos corriendo en círculo. Una carrera en círculo persiguiendo completar protocolos y construir procesos organizativos que luego eran reinventados y vueltos a tener que construir permanentemente. Esto fue tarea de Echenique, quien pasó de ser la esperanza de evolución y regeneración organizativa de Podemos a ejecutar la prolongación hipócrita de la estructura cerrada y vertical de Vistalegre 1, lo que pudo ser legítimo en su momento pero ya no lo era tras Vistalegre 2.
- Permanente inseguridad jurídica y ausencia de mecanismos de resolución de conflictos.
a) Por la forma de ser elegidas, las Comisiones de Garantías no eran independientes, salvo la anomalía de la comisión salida de Vistalegre 2 (que no tardó apenas en ser purgada), porque las 3 principales corrientes renunciaron a presentar listas. Esto generó que las normas se aplicaran según interesara a las direcciones políticas, especialmente de la dirección estatal, y que no hubiera un “estado de derecho” en la organización sino más bien y en todo caso un estado en que los límites los ponían las consecuencias mediáticas que pudiera tener una arbitrariedad demasiado evidente.
b) Por otro lado, como no contaban con recursos para hacer sus funciones, y nunca fue interés desde el “centro” en que se generara una estructura territorial sana, los conflictos que surgían en los círculos y las batallas de legitimidades casi nunca fueron resueltos, generando en las bases la sensación de que no servía de nada utilizar las vías internas para solucionar las disputas.
Estas dos razones han llevado a que gran parte de los conflictos de cierta entidad hayan acabado estallando en los medios de comunicación, bien por frustración o bien como estrategia de “presión”.
- Democracia plebiscitaria. Mecanismos de democracia directa limitados a meros plebiscitos. Hacer consultas vinculantes puede ser algo clave que lo cambia todo, como sucede en Suiza, pero no tiene porqué ser un gran avance democrático tal como nos muestra la historia con Napoleón o Franco, que también hacían consultas que siempre ganaban.
En los referéndums de Podemos se carece de una gestión transparente del censo de votantes y hay en general bastantes deficiencias formales como ya explicó la auditora de las votaciones de Podemos Open Kratio antes de desistir de continuar trabajando con Podemos. Pero más allá de las insuficientes garantías contra el fraude (garantías que en varios aspectos han ido a menos con el tiempo), es muy importante también garantizar la libertad del votante de formarse su propia opinión. Y aquí fallamos también en plantear preguntas claras y concretas con espacio suficiente para la deliberación. En este sentido, la organización de las consultas (y de los Vistalegres) nunca ha sido neutral en las convocatorias, además de que a menudo no parecía votarse la pregunta sino la continuidad o no del apoyo a los líderes. Un constante “o conmigo o contra mí” que ensuciaba el escenario e impedía un debate auténtico.
Hubiera sido muy diferente si, además de corregir los problemas anteriores, se hubiera tenido la posibilidad de realizar convocatorias vinculantes desde la base, al estilo de Suiza, donde con un porcentaje razonable de firmas se convoca un referéndum (actualmente en Suiza hacen 3 ó 4 convocatorias de referéndums al año, en las que responden a un total aproximado de 10-12 preguntas en total). A día de hoy en Podemos sólo hay un ejemplo en el que los círculos de Asturias convocaron una consulta sobre el sistema de votación para su Consejo Ciudadano y Secretaría General, con grandes dificultades, obstáculos y sabotajes.
- Mala gestión de la diversidad, a la vez como causa y consecuencia de los malos sistemas electorales para seleccionar representantes internos o institucionales de Podemos.
Producto en un primer momento de esa dualidad “centro-periferia” del partido, al tener muy rápidamente todo el poder “el núcleo irradiador”, este siempre ha fomentado que los sistemas de decisión y de elección de cargos fueran lo más parecido a “ratificar” sus propuestas. Y en un segundo momento, el “búnker” del Pablismo se aplicó a consolidar la forma de entender una organización política que aprendieron de su época de las Juventudes Comunistas.
Sin embargo, las fuerzas transformadoras son diversas por definición, y más en nuestra época, lo que comporta que los procesos de decisión colectiva pueden conducir a diferentes resultados u opciones, mientras que para una fuerza conservadora lo que ya existe siempre es más sencillo de consensuar. Además, Podemos. como fuerza nacida del despertar de conciencias que fue el 15M. aglutinó en su seno todo tipo de ideas. Es por ello que los recurrentes intentos de generar la disciplina necesaria para que funcione bien el “centralismo democrático” repetidamente han fallado. Podemos necesitaba de una organización deliberativa, que complementara el uso de un populismo mediático para conseguir los votos, con una concreción pausada y en común de los detalles del proyecto político transformador.
Los sistemas electorales en Podemos siempre han tenido un sesgo mayoritario con una gran tendencia a distorsionar los resultados para beneficiar a las opciones más votadas, generando la tendencia a que los votantes se disciplinen y traten de localizar a las opciones más “relevantes” que son las únicas que tienen alguna opción de salir elegidas.
Este aprendizaje se extiende además a las personas más comprometidas que se deciden en un momento dado a dar ese paso y presentarse a cargos y responsabilidades en el partido. Pronto se descubre que, aunque las primarias sean abiertas, en realidad si no estás en la lista “adecuada” no tienes ninguna opción. El sistema fomenta que los militantes más activos deban “encuadrarse” en listas potentes, por lo que los equipos que configuran el orden de las listas “ganadoras” son los que realmente eligen quien será elegido o no.
Además, estos sistemas mayoritarios como el DesBorda (que es menos proporcional que D’hont para las elecciones generales), o mayoritarios puros supervitaminados como eran las listas plancha, generan la sensación de que los equipos que ganan, lo ganan todo, y los que pierden lo pierden todo, con lo que las batallas electorales han generado una gran polarización en todas partes y una gran pérdida de diversidad y falta de representatividad de los órganos.
La militancia se vió obligada a conformar equipos fuertes para tener alguna opción de influir en el resultado, equipos que luego fueron asociados (con mayor o menor justicia) a alguna de las 3 corrientes principales. El sistema de votaciones ha polarizado y distorsionado la organización, generándose un frentismo en todos los niveles. Nuevamente, ante la ausencia de espacios orgánicos diversos y proporcionales a las sensibilidades presentes en la organización, se generó una inevitable tendencia a llevar los debates y los conflictos a los medios de comunicación.
- La Bunkerización de Podemos.
Durante el año y medio previo a Vistalegre 2, pero consolidado con su resultado, se generó un “búnker” en el que se metió Pablo Iglesias acompañado de su entorno más cercano (Irene Montero, Rafa Mayoral, Juanma del Olmo…). El aislamiento de la dirección del partido respecto a las propuestas y a las críticas del resto de territorios, de las bases y de la sociedad en general probablemente fue un proceso gradual pero de tremendas consecuencias.
Los procesos de bunkerización son algo habitual para las personas poderosas, que se van aislando de lo que consideran amenazas. Por eso es tan importante la diversidad, la rotación y el depender de otros. Mi intuición me dice que este Bunker del Pablismo se construyó aceleradamente por cuatro factores: acoso mediático constante y sin piedad; ruptura Íñigo-Pablo y las batallas de la imposición del Pablismo contra el sentir del resto de la organización; cultura política de las juventudes comunistas y el centralismo democrático; control absoluto de los órganos estatales por parte del mismo grupo.
Desde Vistalegre 2, el pablismo tiene todo el poder orgánico a nivel estatal (en un partido, como ya hemos dicho, altamente centralizado y vertical), pero este apoyo a Pablo Iglesias no significa un apoyo a sus propuestas. Me explico con un ejemplo: en diciembre de 2016, Iglesias y Echenique convocaron a una consulta para elegir el sistema de votación que se usaría en Vistalegre 2. Desde la sede de Princesa, en rueda de prensa oficial, se hizo una propuesta orgánica, cuando se debió ser más neutral. No hubo ninǵun espacio de debate y deliberación oficial en igualdad de condiciones y, finalmente, se decidió usando una votación por mayoría simple que tuvo como ganadora la propuesta “oficialista”. Sin embargo, cuando vamos a la suma de votos que sacaron las propuestas que planteaban repartos proporcionales, resulta que fue mayor que la suma de votos que presentaban propuestas de reparto mayoritario, como el desBorda que ganó, y otras. La gente quería proporcionalidad frente a un sistema mayoritario. Lo que quiero decir es que, aunque en Podemos la gente vote a Pablo Iglesias, “el traje organizativo” que nos obliga a ponernos nos pica y nos molesta… y claro, nos quejamos. Y desde el “centralismo democrático” no se entienden estas quejas, porque “para eso hemos votado” y pretenden, a base de votaciones rápidas y mal planteadas, cerrar debates. Pero no funciona y los debates siguen abiertos, por lo que la “solución” es encerrarse en el Bunker y no escuchar las críticas y las propuestas, porque son propuestas de “enemigos internos” que no saben perder.
Las consecuencias de la bunkerización se materializan en que cada vez se cometen más errores. Desde los relativamente poco trascendentes como el cartel del “vuELve” en la semana del 8 de marzo o los más graves como pedir que no se vote a Carmena la víspera del cierre de campaña.
Y también tenemos errores tremendamente graves, como fue que Pablo e Irene se compraran un Chalet en Galapagar. Como ya dije en el anterior capítulo, supuso un error comunicativo enorme, que por sí solo es un síntoma de su bunkerización, del gran aislamiento que tienen Pablo e Irene con el resto del mundo. Dado el constante ataque mediático y nuestros discursos previos sobre políticos que no viven como el Pueblo al que representan, ¿no se dieron cuenta de que gran parte de su electorado no lo iba a entender? ¿Nadie les dijo que si estaban recibiendo tanta presión mediática y necesitaban un espacio más privado, quizá deberían alquilar algo por un tiempo hasta que abandonaran la política? Bien sea porque nadie del núcleo duro se atrevió a decírselo (síntoma de la enorme homogeneidad y formas organizativas del “conmigo o contra mí” características del pablismo) o bien porque se lo dijeron pero no quisieron escuchar, el chalet de los Iglesias-Montero se ha convertido en el mayor síntoma y consecuencia del Búnker pablista.
Para rematar el tema, decidieron plantear un plebiscito a la organización convirtiendo un asunto personal (esa era la mejor defensa) en un asunto político. Con los Iglesias-Montero, definitivamente lo personal es político, así que nos obligaron a ir a votar sin un debate posible (porque los partidarios del NO en redes eran considerados traidores que querían derribar a la líder pareja), y ningún líder territorial, aparte de Kichi, se atrevió a criticar públicamente el fallo estratégico que privadamente casi todos reconocían. Pero un error no se cura con otro error.
¿Queda mucho margen para más errores?
Mi próximo y último texto de la serie será para mostrar mis reflexiones sobre la situación actual, las perspectivas de las fuerzas del cambio, los distintos escenarios y líneas de acción que podríamos afrontar
submitted by PabloOlmos to PlazaRegionMurcia [link] [comments]


2019.06.24 16:15 PabloOlmos Razones de la caída de Podemos. Texto tercero: causas organizativas.

Las razones de la caída de Podemos, 3 También se puede leer en: https://www.facebook.com/pablo.olmos.3192/posts/2282307905182444
Textos previos: 1. Introducción: https://www.facebook.com/pablo.olmos.3192/posts/2245780338835201 2. Las razones externas: https://www.facebook.com/pablo.olmos.3192/posts/2247294288683806
En este capítulo hablaré de las causas organizativas de la caída y para ello es necesario hacer una crónica de la evolución del Partido, que yo veo en 4 fases: De “Herramienta Democrática” a “Máquina de Guerra Electoral”, de ahí a la “Ruptura de la Hipótesis Podemos” para finalmente llegar a la “Centrifugadora de Talento”.
En 2014 se veía venir el agotamiento de los movimientos sociales a quienes, a pesar de su gran movilización, las instituciones dominadas por un “cartel” de partidos podían ignorar perfectamente en sus reivindicaciones. No hay que olvidar que durante el 15M se reformó la Constitución y se dió paso al gobierno del PP y los retrocesos que supuso en apenas unos años.
Más allá de las aspiraciones y estrategias de los promotores de Podemos durante el 2013 y principios de 2014 (que básicamente parece que aspiraban a forzar una refundación de IU), durante la campaña de las europeas y especialmente tras el sorprendente resultado de mayo de 2014, un enorme caudal de ilusión conectó con la propuesta de utilizar Podemos como un movimiento político cuyo centro era ser “herramienta democrática al servicio del Pueblo”. Esto, junto con un brillante comando mediático que apelaba al “nuevo sentido común” 15mayista abrió una ventana de oportunidad que se dió en llamar la “Hipótesis Podemos”: la posibilidad de acceder a las instituciones con una mayoría suficiente mediante un discurso transversal como forma de cambiar el país.
Pronto se generó una gran dualidad en el movimiento: por un lado el denominado “equipo promotor” (Pablo, Íñigo, Carolina, Juan Carlos, Luis Alegre, y la gente de anticapitalistas…) con sus redes de confianza previas, y por otro lado la multitud que acudía a los círculos tratando de organizarse mirando constantemente a ver qué decían “los chicos de la Complutense” para tratar de intuir una línea política. Había un comando mediático que funcionaba muy bien, y un montón de grupos de debate muy inoperantes que servíamos sobre todo como decorado.
Del Podemos “Herramienta democrática” a la “Máquina de guerra electoral”: Vistalegre 1.
Por no extenderme con lo que además todos ya sabemos, en la primera Asamblea estatal (Vistalegre I) proponíamos dotarnos de mayor claridad organizativa y de mayor consistencia. Sin embargo, se optó por dar un enorme cheque en blanco al equipo promotor para seguir manteniendo en suspenso la construcción democrática del partido en beneficio de la construcción acelerada de una maquinaria electoralista. La propuesta de trabajo era convertirnos en una organización leninista de tonos morados, con Gramsci y Laclau en mente, para afrontar las próximas citas electorales.
El partido-movimiento seguía con la enorme dualidad anterior. En la parte territorial, a la inoperancia llena de ilusión de los círculos pero sin competencias reales se sumaron los nuevos consejos ciudadanos un poco más operativos pero sin apenas poder real de decisión más allá de ser correa de transmisión de las decisiones de Estatal. Además, la elección de estos consejos llevó a encarnizadas batallas por ganar las primarias que abrieron grandes heridas en cada lugar.
La falta de claridad e interés de la Secretaría de Organización estatal en construir organización territorial, así como las purgas que hacían de las organizaciones territoriales que no se plegaban a la estrategia de la “máquina de guerra”, generó un goteo constante de gente que fue abandonando la organización, aunque al acercarse gente nueva ilusionada no se notara demasiado en los números y la capacidad de militancia. Además, hay que añadir la decisión de no presentarnos a las elecciones municipales con nuestro nombre, lo cual multiplicó candidaturas municipalistas con su propia autonomía. Todo esto supuso que la enorme y vibrante energía local se desperdiciara en una batalla permanente por la legitimidad, mientras que no se tenía acceso a censos, herramientas locales de decisión “oficiales” ni a recursos financieros.
Aparición de Ciudadanos y la ruptura de la “hipótesis” del “núcleo irradiador”.
La máquina de guerra electoral a nivel estatal estaba relativamente bien engrasada y hacia ella iban casi todos los recursos que se captaban, pero como dijimos en el anterior “capítulo”, el surgimiento de C’s generó que Íñigo y Pablo no vieran igual las perspectivas estratégicas del Partido. Esto a nivel organizativo se tradujo en que desde mediados del 2015 Pablo Iglesias generara toda una estructura paralela a la “oficial”, a través de la “oficina del Secretario General” y las redes de “Vamos” controladas por Rafa Mayoral. Hablando en plata, estas redes servían para que, de manera más o menos encubierta, se pudiera contratar a personas en cada territorio y movilizar una organización “pablista” dentro del partido. Con algunas excusas, se permitió que estas incipientes redes “pablistas” no se tuvieran que coordinar con las Secretarías de Organización o de Movimientos Sociales de los territorios. Así a menudo generaban ruido y colisión con las estrategias locales para círculos y movimientos sociales. Ejemplo paradigmático es el uso de “Vamos” para debilitar la estrategia de construir tejido social a traves de proyectos desde los círculos tal como planteaba la iniciativa “Hacemos”.
Tras las elecciones generales de diciembre de 2015, esta fractura interna ya fué evidente para el público general y Pablo Iglesias designó a Echenique como sustituto de Sergio Pascual en la Secretaría de Organización.
Tres semanas antes de que se nombrara a Echenique, éste había escrito un interesante artículo sobre los problemas organizativos internos, del cual podríamos destacar esta frase: “la única innovación de largo alcance y no coyuntural que PODEMOS puede encarnar es la organizativa”. Muchos estábamos de acuerdo con gran parte de lo que en ese artículo se planteaba y, ante el desolador panorama organizativo, quizá el hecho de que Echenique capitaneara el desmantelamiento de la “Máquina de Guerra” era un pequeño rayo de esperanza. Sin embargo, pronto pudimos ver que del dicho al hecho hay mucho trecho, y esa hipocresía, que se puede medir como la distancia que existe entre lo que se dice y lo que se hace, hizo un gran daño a Podemos.
A estas alturas, cualquiera que conociera bien la organización por dentro debía recibir con desasosiego o con grandes dosis de cinismo el oír los discursos de Podemos sobre la participación, diálogo y democracia. Los mítines y charlas que antes se llenaban de una energía que hacía llorar de ilusión pasaron a sonar totalmente huecos y vacíos.
La construcción del partido en los territorios seguía igual de entorpecida y la labor de la Secretaría de Organización seguía consistiendo en marear a los militantes con iniciativas burocráticas estériles (el atarse los cordones como ejemplo paradigmático) o purgar a los que se separaran demasiado de las directrices estatales y no tuvieran un capital mediático suficiente para resistir. Pero al menos se eliminó el botón “plancha” y se dejó de enviar buena parte de la financiación que se mandaba desde los territorios hacia la organización estatal.
Tras un año de bloqueo del trabajo normal del Consejo Ciudadano Estatal, una Comisión de Garantías en la que Gloria Elizo y su marido Pablo Fernández tomaban todas las decisiones a pesar de estar en minoría y tras un año de disputas en los medios de comunicación entre “errejonistas” y “pablistas”, este enfrentamiento se fue trasladando a los territorios. Se convocó por sorpresa y de forma apresurada Vistalegre 2.
Esta segunda Asamblea Estatal tuvo como gran resultado el control total del Pablismo de todos los órganos de decisión a nivel estatal excepto la comisión de garantías. Los dos líderes enfrentados llegaron a un acuerdo para que Íñigo y su equipo se centraran en ganar las elecciones en la Comunidad de Madrid y dejaran el campo libre a Pablo Iglesias y a Irene Montero para organizar el partido como quisieran a nivel estatal.
En el primer semestre del 2017 se generó una situación curiosa: los candidatos favorecidos por el pablismo en muchos territorios perdieron en las renovaciones de los Consejos Ciudadanos Autonómicos. Así pasó en Andalucía, Región de Murcia, Comunidad Valenciana, Cataluña, Aragón, La Rioja, Asturias, País Vasco y Canarias. Mientras que las dirección política en Baleares era de relativo consenso y en Galicia había una gran división entre su Consejo Ciudadano Autonómico y la Secretaría General. Quedaban como pablistas Cantabria (que luego volvería a disolverse), Navarra por un puñado de votos, las dos Castillas y Extremadura. Y en Madrid, como habíamos visto, en principio Errejón y su equipo irían ocupando el espacio.
El modelo organizativo ganador de Vistalegre 2 no supuso un gran avance, pero sí que se daba, al menos sobre el papel, cierto margen de federalismo y autonomía territorial. Esto, unido a una Comisión de Garantías independiente, generó la posibilidad de construir en algunos territorios un Podemos que matizara el proyecto Pablista a nivel estatal y que permitiera acoger la gran diversidad existente en Podemos.
Sin embargo, no fue posible porque lejos de ver estos “cabos sueltos” en los territorios como una oportunidad, el pablismo lo vió como una amenaza a su hegemonía. Las apelaciones a la unidad y a la humildad sonaban más huecas todavía que las antiguas apelaciones a la participación y la democracia que sustituyeron. En junio, la dirección estatal envió a la Comisión de Garantías el borrador de nuevos estatutos y, tras su evaluación se declaró que esta reforma de estatutos propuesta no cumplía con lo aprobado por la Asamblea Ciudadana de Vistalegre 2. Sin embargo, unos días más tarde la dirección estatal decidió desobedecer y registrar los estatutos en el Ministerio del Interior. La solución al grave conflicto que se abrió entre la dirección estatal y la Comisión de Garantías estatal y la mayoría de comisiones de garantías autonómicas llegó un més más tarde a purgar a los miembros no controlados de la Comisión de Garantías Estatal para conseguir nuevamente el control del esencial órgano “judicial” interno.
Con los nuevos estatutos convenientemente recortados de los avances federalistas y democratizantes, junto con la purga de la Comisión de Garantías estatal, se puso otro clavo al ataúd de la esperanza de un Podemos realmente democrático que pudiera aglutinar en su seno la diversidad y potencia del pueblo transformador. Por no extendernos más, en este comunicado de Profundización Democrática, en su punto 3 se puede leer un resumen de los recortes que realizaban los nuevos estatutos, sin pasar por la Asamblea: http://profundizaciondemocratica.org/COMUNICADO-Estatutos-2…
Y así hemos llegamos a 2019 con una organización extremadamente jerárquica, centralizada y arbitraria, cuyo poder real no reside en las bases sino en el liderazgo mediático que hace y deshace según considera. De forma gradual, pero con constante aceleración, hemos pasado a convertirnos en el Partido “centrifugadora de talento”, en el que cada vez más compañeros y compañeras valiosas abandonan un proyecto que se ha quedado en una mera regeneración de lo que fue IU.
Algunas notas extra sobre la organización de Podemos: * Desarticulación organizativa; * Permanente inseguridad jurídica y ausencia de resolución de conflictos; * Democracia plebiscitaria; * Mala gestión de la diversidad e inadecuados sistemas de votaciones; * La bunkerización de Podemos.
- Desarticulación organizativa. La extrema dualidad entre “el centro” y la “periferia” del partido nos ha hecho ser un gigante mediático con pies de barro. La apuesta desde Vistalegre 1 fue sujetar con pinzas una fortaleza mediática y luego más tarde construir la organización necesaria.
En un primer momento por la sensación de urgencia, y en un segundo momento por las guerras de camarillas en torno a los liderazgos mediáticos, se generó mucha desorganización, incluso a nivel estatal donde se acumulaban todos los recursos materiales y simbólicos.
Se podría hablar de muchas cosas concretas que muestran este desinterés por la articulación organizativa de los territorios, pero me limitaré a 3:
  1. Nunca se ha querido compartir la información de qué personas están inscritas en cada lugar, datos de vital importancia para construir organización local, movilizar recursos humanos y financieros y generar una democracia interna sana.
    1. Desde el centro se ha asfixiado económicamente a los territorios, en los primeros años obligando a que todos los recursos del partido fueran a financiar la organización estatal y, tras las elecciones autonómicas, obligando además a que buena parte de los recursos de los diputados autonómicos se envíen también a estatal. En este sentido, siempre se han puesto numerosas trabas a que se elaboraran estrategias descentralizadas de captación de fondos para la organización local desde la organización local. A partir de diciembre de 2015, debió de haber existido un torrente de dinero desde estatal para permitir la creación de locales y asociaciones vinculadas a la Fundación del partido. Por muy difícil de gestionar que fuera, el futuro dependía de construir tejido social a nivel local. Sin embargo, estatal fue muy firme en sus directrices financieras que no permitían esta estrategia y a finales de 2017 (últimas fechas donde tenemos datos del portal de transparencia) Podemos tenía ya paralizado en caja más de 19 millones de euros.
    2. Desde el centro emanaban normas burocráticas e iniciativas para aparentar que se avanzaba en organización, pero mayormente han servido para mantener entretenidas a las bases y militantes más activos corriendo en círculo. Una carrera en círculo persiguiendo completar protocolos y construir procesos organizativos que luego eran reinventados y vueltos a tener que construir permanentemente. Esto fue tarea de Echenique, quien pasó de ser la esperanza de evolución y regeneración organizativa de Podemos a ejecutar la prolongación hipócrita de la estructura cerrada y vertical de Vistalegre 1, lo que pudo ser legítimo en su momento pero ya no lo era tras Vistalegre 2.
- Permanente inseguridad jurídica y ausencia de mecanismos de resolución de conflictos.
a) Por la forma de ser elegidas, las Comisiones de Garantías no eran independientes, salvo la anomalía de la comisión salida de Vistalegre 2 (que no tardó apenas en ser purgada), porque las 3 principales corrientes renunciaron a presentar listas. Esto generó que las normas se aplicaran según interesara a las direcciones políticas, especialmente de la dirección estatal, y que no hubiera un “estado de derecho” en la organización sino más bien y en todo caso un estado en que los límites los ponían las consecuencias mediáticas que pudiera tener una arbitrariedad demasiado evidente.
b) Por otro lado, como no contaban con recursos para hacer sus funciones, y nunca fue interés desde el “centro” en que se generara una estructura territorial sana, los conflictos que surgían en los círculos y las batallas de legitimidades casi nunca fueron resueltos, generando en las bases la sensación de que no servía de nada utilizar las vías internas para solucionar las disputas.
Estas dos razones han llevado a que gran parte de los conflictos de cierta entidad hayan acabado estallando en los medios de comunicación, bien por frustración o bien como estrategia de “presión”.
- Democracia plebiscitaria. Mecanismos de democracia directa limitados a meros plebiscitos. Hacer consultas vinculantes puede ser algo clave que lo cambia todo, como sucede en Suiza, pero no tiene porqué ser un gran avance democrático tal como nos muestra la historia con Napoleón o Franco, que también hacían consultas que siempre ganaban.
En los referéndums de Podemos se carece de una gestión transparente del censo de votantes y hay en general bastantes deficiencias formales como ya explicó la auditora de las votaciones de Podemos Open Kratio antes de desistir de continuar trabajando con Podemos. Pero más allá de las insuficientes garantías contra el fraude (garantías que en varios aspectos han ido a menos con el tiempo), es muy importante también garantizar la libertad del votante de formarse su propia opinión. Y aquí fallamos también en plantear preguntas claras y concretas con espacio suficiente para la deliberación. En este sentido, la organización de las consultas (y de los Vistalegres) nunca ha sido neutral en las convocatorias, además de que a menudo no parecía votarse la pregunta sino la continuidad o no del apoyo a los líderes. Un constante “o conmigo o contra mí” que ensuciaba el escenario e impedía un debate auténtico.
Hubiera sido muy diferente si, además de corregir los problemas anteriores, se hubiera tenido la posibilidad de realizar convocatorias vinculantes desde la base, al estilo de Suiza, donde con un porcentaje razonable de firmas se convoca un referéndum (actualmente en Suiza hacen 3 ó 4 convocatorias de referéndums al año, en las que responden a un total aproximado de 10-12 preguntas en total). A día de hoy en Podemos sólo hay un ejemplo en el que los círculos de Asturias convocaron una consulta sobre el sistema de votación para su Consejo Ciudadano y Secretaría General, con grandes dificultades, obstáculos y sabotajes.
- Mala gestión de la diversidad, a la vez como causa y consecuencia de los malos sistemas electorales para seleccionar representantes internos o institucionales de Podemos.
Producto en un primer momento de esa dualidad “centro-periferia” del partido, al tener muy rápidamente todo el poder “el núcleo irradiador”, este siempre ha fomentado que los sistemas de decisión y de elección de cargos fueran lo más parecido a “ratificar” sus propuestas. Y en un segundo momento, el “búnker” del Pablismo se aplicó a consolidar la forma de entender una organización política que aprendieron de su época de las Juventudes Comunistas.
Sin embargo, las fuerzas transformadoras son diversas por definición, y más en nuestra época, lo que comporta que los procesos de decisión colectiva pueden conducir a diferentes resultados u opciones, mientras que para una fuerza conservadora lo que ya existe siempre es más sencillo de consensuar. Además, Podemos. como fuerza nacida del despertar de conciencias que fue el 15M. aglutinó en su seno todo tipo de ideas. Es por ello que los recurrentes intentos de generar la disciplina necesaria para que funcione bien el “centralismo democrático” repetidamente han fallado. Podemos necesitaba de una organización deliberativa, que complementara el uso de un populismo mediático para conseguir los votos, con una concreción pausada y en común de los detalles del proyecto político transformador.
Los sistemas electorales en Podemos siempre han tenido un sesgo mayoritario con una gran tendencia a distorsionar los resultados para beneficiar a las opciones más votadas, generando la tendencia a que los votantes se disciplinen y traten de localizar a las opciones más “relevantes” que son las únicas que tienen alguna opción de salir elegidas.
Este aprendizaje se extiende además a las personas más comprometidas que se deciden en un momento dado a dar ese paso y presentarse a cargos y responsabilidades en el partido. Pronto se descubre que, aunque las primarias sean abiertas, en realidad si no estás en la lista “adecuada” no tienes ninguna opción. El sistema fomenta que los militantes más activos deban “encuadrarse” en listas potentes, por lo que los equipos que configuran el orden de las listas “ganadoras” son los que realmente eligen quien será elegido o no.
Además, estos sistemas mayoritarios como el DesBorda (que es menos proporcional que D’hont para las elecciones generales), o mayoritarios puros supervitaminados como eran las listas plancha, generan la sensación de que los equipos que ganan, lo ganan todo, y los que pierden lo pierden todo, con lo que las batallas electorales han generado una gran polarización en todas partes y una gran pérdida de diversidad y falta de representatividad de los órganos.
La militancia se vió obligada a conformar equipos fuertes para tener alguna opción de influir en el resultado, equipos que luego fueron asociados (con mayor o menor justicia) a alguna de las 3 corrientes principales. El sistema de votaciones ha polarizado y distorsionado la organización, generándose un frentismo en todos los niveles. Nuevamente, ante la ausencia de espacios orgánicos diversos y proporcionales a las sensibilidades presentes en la organización, se generó una inevitable tendencia a llevar los debates y los conflictos a los medios de comunicación.
- La Bunkerización de Podemos.
Durante el año y medio previo a Vistalegre 2, pero consolidado con su resultado, se generó un “búnker” en el que se metió Pablo Iglesias acompañado de su entorno más cercano (Irene Montero, Rafa Mayoral, Juanma del Olmo…). El aislamiento de la dirección del partido respecto a las propuestas y a las críticas del resto de territorios, de las bases y de la sociedad en general probablemente fue un proceso gradual pero de tremendas consecuencias.
Los procesos de bunkerización son algo habitual para las personas poderosas, que se van aislando de lo que consideran amenazas. Por eso es tan importante la diversidad, la rotación y el depender de otros. Mi intuición me dice que este Bunker del Pablismo se construyó aceleradamente por cuatro factores: acoso mediático constante y sin piedad; ruptura Íñigo-Pablo y las batallas de la imposición del Pablismo contra el sentir del resto de la organización; cultura política de las juventudes comunistas y el centralismo democrático; control absoluto de los órganos estatales por parte del mismo grupo.
Desde Vistalegre 2, el pablismo tiene todo el poder orgánico a nivel estatal (en un partido, como ya hemos dicho, altamente centralizado y vertical), pero este apoyo a Pablo Iglesias no significa un apoyo a sus propuestas. Me explico con un ejemplo: en diciembre de 2016, Iglesias y Echenique convocaron a una consulta para elegir el sistema de votación que se usaría en Vistalegre 2. Desde la sede de Princesa, en rueda de prensa oficial, se hizo una propuesta orgánica, cuando se debió ser más neutral. No hubo ninǵun espacio de debate y deliberación oficial en igualdad de condiciones y, finalmente, se decidió usando una votación por mayoría simple que tuvo como ganadora la propuesta “oficialista”. Sin embargo, cuando vamos a la suma de votos que sacaron las propuestas que planteaban repartos proporcionales, resulta que fue mayor que la suma de votos que presentaban propuestas de reparto mayoritario, como el desBorda que ganó, y otras. La gente quería proporcionalidad frente a un sistema mayoritario. Lo que quiero decir es que, aunque en Podemos la gente vote a Pablo Iglesias, “el traje organizativo” que nos obliga a ponernos nos pica y nos molesta… y claro, nos quejamos. Y desde el “centralismo democrático” no se entienden estas quejas, porque “para eso hemos votado” y pretenden, a base de votaciones rápidas y mal planteadas, cerrar debates. Pero no funciona y los debates siguen abiertos, por lo que la “solución” es encerrarse en el Bunker y no escuchar las críticas y las propuestas, porque son propuestas de “enemigos internos” que no saben perder.
Las consecuencias de la bunkerización se materializan en que cada vez se cometen más errores. Desde los relativamente poco trascendentes como el cartel del “vuELve” en la semana del 8 de marzo o los más graves como pedir que no se vote a Carmena la víspera del cierre de campaña.
Y también tenemos errores tremendamente graves, como fue que Pablo e Irene se compraran un Chalet en Galapagar. Como ya dije en el anterior capítulo, supuso un error comunicativo enorme, que por sí solo es un síntoma de su bunkerización, del gran aislamiento que tienen Pablo e Irene con el resto del mundo. Dado el constante ataque mediático y nuestros discursos previos sobre políticos que no viven como el Pueblo al que representan, ¿no se dieron cuenta de que gran parte de su electorado no lo iba a entender? ¿Nadie les dijo que si estaban recibiendo tanta presión mediática y necesitaban un espacio más privado, quizá deberían alquilar algo por un tiempo hasta que abandonaran la política? Bien sea porque nadie del núcleo duro se atrevió a decírselo (síntoma de la enorme homogeneidad y formas organizativas del “conmigo o contra mí” características del pablismo) o bien porque se lo dijeron pero no quisieron escuchar, el chalet de los Iglesias-Montero se ha convertido en el mayor síntoma y consecuencia del Búnker pablista.
Para rematar el tema, decidieron plantear un plebiscito a la organización convirtiendo un asunto personal (esa era la mejor defensa) en un asunto político. Con los Iglesias-Montero, definitivamente lo personal es político, así que nos obligaron a ir a votar sin un debate posible (porque los partidarios del NO en redes eran considerados traidores que querían derribar a la líder pareja), y ningún líder territorial, aparte de Kichi, se atrevió a criticar públicamente el fallo estratégico que privadamente casi todos reconocían. Pero un error no se cura con otro error.
¿Queda mucho margen para más errores?
Mi próximo y último texto de la serie será para mostrar mis reflexiones sobre la situación actual, las perspectivas de las fuerzas del cambio, los distintos escenarios y líneas de acción que podríamos afrontar
submitted by PabloOlmos to podemos [link] [comments]


2019.05.31 10:12 satuqqpoker1 Poker Online Situs Merenungkan

‘Sementara saya merenungkan hal-hal ini, perhatian saya tertarik oleh Situs Poker Online Penglihatan yang sangat kecil, seperti sumur di bawah cungkup. Saya berpikir dengan cara sementara tentang keanehan sumur yang masih ada, dan kemudian melanjutkan utas spekulasi saya. Tidak ada bangunan besar menuju puncak bukit, dan karena kekuatan berjalan saya ternyata ajaib, saya saat ini dibiarkan sendirian untuk pertama kalinya. Dengan rasa kebebasan dan petualangan yang aneh, aku mendorong ke puncak.
‘Di sana saya menemukan tempat duduk dari logam poker online yang tidak saya kenal, terkorosi di tempat-tempat dengan semacam karat berwarna merah muda dan setengah disiram dengan lumut lembut, sandaran tangan dilemparkan dan dimasukkan ke dalam kemiripan kepala griffin. Saya duduk di atasnya, dan saya mengamati pemandangan luas dari dunia lama kita di bawah matahari terbenam hari yang panjang itu. Itu adalah pandangan yang manis dan adil seperti yang pernah saya lihat. Matahari sudah pergi di bawah cakrawala dan barat menyala emas, disentuh dengan beberapa batang horisontal berwarna ungu dan merah. Di bawahnya ada lembah Sungai Thames, di mana sungai terbentang seperti sekumpulan baja terbakar. Saya sudah berbicara tentang istana-istana besar yang tersebar di antara tanaman hijau yang beraneka ragam, beberapa di reruntuhan dan beberapa masih ditempati. Di sana-sini muncul sosok putih atau keperakan di taman sampah bumi, di sana-sini muncul garis vertikal tajam dari beberapa kubah atau obelisk. Tidak ada lindung nilai, tidak ada tanda-tanda hak milik, tidak ada bukti pertanian; seluruh bumi telah menjadi taman.
‘Jadi, menonton, saya mulai menempatkan interpretasi saya pada hal-hal yang telah saya lihat, dan ketika itu membentuk dirinya bagi saya malam itu, interpretasi saya adalah sesuatu dengan cara ini. (Setelah itu saya mendapati bahwa saya hanya memiliki setengah kebenaran — atau hanya sekilas tentang satu segi kebenaran.)
‘Tampak bagi saya bahwa saya telah terjadi pada situs poker yang semakin berkurang. Matahari terbenam yang kemerahan membuatku berpikir tentang matahari terbenam umat manusia. Untuk pertama kalinya saya mulai menyadari konsekuensi aneh dari upaya sosial di mana kita saat ini terlibat. Namun, kalau dipikir-pikir, itu adalah konsekuensi logis yang cukup. Kekuatan adalah hasil dari kebutuhan; keamanan menetapkan nilai pada kelemahan. Pekerjaan memperbaiki kondisi kehidupan — proses peradaban sejati yang membuat hidup lebih dan lebih aman — terus menuju klimaks. Satu kemenangan kemanusiaan yang bersatu atas Alam telah mengikuti yang lain. Hal-hal yang sekarang hanyalah mimpi telah menjadi proyek poker online yang sengaja dilaksanakan dan dijalankan. Dan panenlah yang kulihat!
‘Bagaimanapun, sanitasi dan pertanian saat ini masih dalam tahap yang belum sempurna. Ilmu pengetahuan di zaman kita telah menyerang tetapi sedikit departemen di bidang penyakit manusia, tetapi meskipun demikian, ia menyebarkan operasinya dengan mantap dan terus-menerus. Pertanian dan hortikultura kita menghancurkan gulma di sana-sini dan mengolah skor tanaman-tanaman sehat yang ada, meninggalkan jumlah yang lebih besar untuk memperjuangkan keseimbangan semampu mereka. Kami meningkatkan tanaman dan hewan favorit kami — dan seberapa sedikit jumlahnya — secara bertahap dengan pembiakan selektif; sekarang buah persik baru dan lebih baik, sekarang anggur tanpa biji, sekarang bunga yang lebih manis dan lebih besar, sekarang jenis ternak yang lebih nyaman. Kami memperbaikinya secara bertahap, karena cita-cita kami tidak jelas dan sementara, dan pengetahuan kami sangat terbatas; karena Alam juga pemalu dan lamban di tangan kita yang canggung. Suatu hari semua ini akan lebih terorganisir, dan masih lebih baik. Itu adalah arus dari arus terlepas dari pusaran. Seluruh dunia akan menjadi cerdas, berpendidikan, dan bekerja sama; segala sesuatu akan bergerak lebih cepat dan lebih cepat menuju penaklukan Alam. Pada akhirnya, dengan bijaksana dan hati-hati kita akan menyesuaikan kembali keseimbangan hewan dan sayuran untuk memenuhi kebutuhan situs poker online.
submitted by satuqqpoker1 to u/satuqqpoker1 [link] [comments]


2019.02.19 13:26 linggarensia Perempuan Ini Bernafsu TINGGI Saat Berperan Menjadi Bayi, Gimana Sih AKSINYA ?

Berita Akurat – Fetish adalah hal yang dimana seseorang akan merasa terangsang terhadap suatu hal atau cara yang berbeda dengan yang lainnya. Tingkat rangsangan seseorang juga sangatlah berbeda dan tidak akan mudah untuk diketahui.
Ya, sebut saja mereka yang punya fetish dengan mata kaki, leher belakang, atau juga ketiak. Tapi, itu semua tidak bisa dianggap salah, karena ketertarikan seseorang pada satu hal yang dia sukai memang berbeda.
Nah, perempuan yang menamainya Picky Princess punya fetish yang terbilang aneh. Dia akan sangat bergairah ketika berperan sebagai bayi. Jadi, saat “nafsunya” tinggi, dia akan mengenakan pakaian bayi, ngedot, dan berpenampilan seperti bayi yang masih sangat kecil. Hal ini dia akui sebagai fetish-nya.
Kisahnya dibagikan ulang Okezone dari Daily Star. Perlu diketahui sebelumnya, akun Instagram-nya kini sudah punya pengikut sebanyak 20 ribu orang. Jika dilihat dari apa yang diposting, Picky Princess memang senang dengan peran sebagai bayi.
Perempuan berusia 20 tahun ini juga sering berbagi gambar intim bersama pacarnya, yang dia sebut sebagai “ayah”. Di beberapa Klip pendek, terlihat dia mem-flash popok dari bawah bajunya. Dengan kata lain, dia memberi lihat tubuh bagian bawahnya dengan suka cita.
Tapi Instagram-nya juga menunjukkan bagaimana dia bukan satu-satunya orang yang mendapatkan sensasi dari mengenakan pakaian aneh. Di Klip lainnya, terlihat di sana dia bergabung dengan beberapa teman wanita yang semuanya mengenakan popok. Dan tampaknya pacarnya menyukai pakaian yang tidak biasa itu.
“Terkadang yang dibutuhkan seorang gadis hanyalah sedikit cinta yang kuat,” caption di gambar tersebut.
Hal yang mesti diketahui, fetish Picky Princess disebut infantilisme paraphilic. Hobi regresif usia umumnya dicap ketegaran seksual, meskipun, bertentangan dengan kepercayaan populer, itu sering dilihat sebagai mekanisme koping.
Fetish dikatakan menawarkan “ruang kecil” yang bebas dan damai bagi mereka yang membutuhkan istirahat dari tekanan sebagai orang dewasa.
Mereka yang suka berperilaku seperti ini kadang-kadang menyebut diri mereka sebagai “anak kecil” dan orang penting lainnya dikenal sebagai “Mommy” atau “Ayah”.
Bintang Instagram itu bahkan telah mendirikan perusahaan boneka dan popok dewasa bernama littleslaboratories, sehingga setiap pengikutnya dapat mengambil bagian dalam aksinya. Jadi apakah kalian tertarik ?
submitted by linggarensia to u/linggarensia [link] [comments]


2019.02.14 03:42 Cid5 El próximo domingo jugamos contra el América.

Y sé que tenemos el corazón (y el ano) aún dolido, no vamos a mentir. Esos desgraciados no sólo nos golearon, nos humillaron, nos arrastraron por el campo y ahora se pavonean con el título frente a nosotros.
Como si se tratara de una exnovia, he evitado a toda costa mirar los juegos de Pumas esta temporada; no soy capaz de verlos jugar porque mi corazón roto aún no sana. Fue un golpe muy duro cuyas heridas sigo curando.
Y este domingo (oh maldito día tenías que llegar), este domingo, como la inevitable cita con esa exnovia para recoger las cosas que dejaste en su casa, nos volveremos a ver las caras con los pedantes canarios.
Y no, no es miedo lo que me genera, tampoco es tristeza. Cuando vi el calendario y supe que este domingo jugamos contra el América la primera palabra que me vino a la mente fue venganza. Quiero venganza, quiero ver sangre, quiero tirarles esa sonrisa burlona con seis goles directo a los dientes. Quiero escupir sobre su cadáver después de barrer la cancha con ellos, quiero que acabando el juego los otros equipos nos tengan miedo, que sepan que no somos gatitos y en CU a Pumas se le respeta.
El próximo domingo cobraremos venganza.

¡MÉXICO! ¡PUMAS! ¡UNIVERSIDAD!

submitted by Cid5 to PumasUnam [link] [comments]


2018.09.10 21:59 _Irk [ESCHATON] The Wild Dreaming

Commission for the Investigation of Terrestrial Abnormalities

Unauthorized Communication
CITA has become smaller and smaller after being pushed underground by the Directorial Council. Leakers and defectors are being killed off as fast as they emerge. There's a schism between those that want to save as much of humanity as possible and those that think only a small core can be rescued at all. The former have apparently found a way, but they say it'll take time.
I'm not sure what I think.

MEXICO

March of the Psychopomp
 
By the time that Northern Union, Japanese, and Anglish forces were in position it became apparent that the Psychopomp in Mexico was not moving towards Templo Mayor as many had hypothesized. While displaying Aztec imagery according to many onlookers, the apparition had also taken on the shape of other beings of myth and an Aztec connection, while presumed, may not have been entirely correct. There have been connections between the murder of Nahua people on Mars and the emergence of the Psychopomp in Teotihuacan, and the Mexican government (stuck observing due to its dilapidated military) has drawn on these bits of information to formulate an alternative hypothesis backed up by the apparent direction taken by the apparition.
Teotihuacan is not an Aztec pyramid, but instead assumed to have been established by other Nahua groups, or perhaps a multiethnic collective. The southerly direction of the Psychopomp has been associated not with Templo Mayor but with the Pyramid of Cholula, which was likely built by those that built Teotihuacan. It remains unclear why it was moving in the direction of the Pyramid of Cholula, largely because of what happened shortly after the Mexican government drew these conclusions.
The Northern Union attempted to keep the Psychopomp busy by continuously firing on it with various UAV platforms or with standoff microwave missiles, which proved to be largely ineffective. Not because the apparition was necessarily immune to these munitions but because its true stature was completely unknown, and even attempts to create a general picture of the entity's frame has apparently failed to create an accurate target. Munitions simply appeared to pass through as if it were a holographic projection. This changed once the Spellmight arrived in Mexico.
While rightfully confident about the Spellmight's abilities, Eno's general battle plan surrounding the Psychopomp was founded in incomplete information. After the Spellmight's wizards landed around the entity, they began to cast their confinement spell, hoping to prevent it from moving towards Templo Mayor before it could "open a new Hellmouth" according to allied analysis.
Once the incantations of the spellmight finished, the Psychopomp froze in place and took on an appearance visible to all, that of a great angel with star-speckled skin standing over 100 meters in height. The sudden adjustment of the entity to a single uniform appearance provided the necessary updates to Northern Union targeting systems. Followers had been scattered to within about a hundred meters by microwave irritation and screamed throughout the entire process about something they called "the defense mechanism."
Almost immediately after the entity's unveiling, dozens of NU aircraft fired on the apparition in a final sweep, which is when things went horribly wrong. The last salvo to strike the Psychopomp did so at the base of its neck, traveling straight through and severing its head from its shoulders.
As the apparition was decapitated, the shouts of the followers changed, demanding that they "give it back its head!" in increasingly panicky tones. The reason for this panic would soon become clear as the angel fell forward on to its hands and knees, its neck-stump oozing a black, translucent fluid. At first appearing dead, the angel's starry skin and wings began to shed themselves, falling away to reveal a jet black body. Standing up once more, the Psychopomp continued to bleed from its neck-stump, oozing ever-greater volumes of viscous, black discharge, and stretched, reaching up towards the sky and enlarging itself. From 100 meters to 150, from 150 to 250, from 250 to 500. From 500 meters to 1,000, towering over the landscape and pouring millions of gallons of fluid from itself.
The apparition has turned from its previous direction, and begun to slowly march towards Mexico City. Those that touch the liquid it has bled immediately die. The blast upon blast of the Great Wizard Eno's lightning has had no effect, and attempts to open a portal to the fairy-realm have failed. A great metaphysical dampening surrounds the apparition, weakening conventional magic. It has pushed through the arcane barrier established by the Spellmight, shattering it like glass. Most dramatically, a great font of black-blood has begun to flow upwards into the atmosphere from the original site of decapitation, spreading across the sky and dissipating throughout the atmosphere. It has been reported that the cloud is preventing connection with satellites and in-space communication networks. The current projections suggest that within a week, large portions of the Western hemisphere may be blocked from their in-space assets and signals, placing conventional military assets in great peril.
On the outskirts of the mire of Psychopomp blood, the Martian waits, holding the head of its liege. It stands tall, with eyes like searchlights and onyx skin. Around it have congregated the Psychopomp's following, who have been weeping endlessly.

SYRIA

Hellmouth Abel
 
Operations around Hellmouth Abel came in two varieties: those that sought to capture anything they could, and those that seek to "hold the line." The first proved to be "successful" in that they returned some potentially valuable information regarding the nature of invading entities. The latter proved to be "successful" in that the entities did not move outside of Syria. Both would come at deep costs.
Japanese, Northern Union, and Russian operations focused on Damascus, which was assessed to be relatively defensible. Once preliminary bombing runs began, however, the Horsemen leveled a unique form of air defense consisting of a colossal, anomalous swam of locusts enveloping Damascus airspace. NU and Russian ground forces were able to enter in time, but missiles, bombs, and drones flown into the locus cloud were consumed and increase the cloud's density. None reached the city, which has been consumed within a matter of hours. Demonic forces have torn through buildings and civilians without any interest in their own casualties or the casualties of any human or human settlement. Rough reconnaissance suggests that thousands are still pouring from the Hellmouth, casualties appear not to be a factor at this stage.
Russian and NU forces resolved to move out of the city as quickly as possible, taking what they could. Entities were not organized into homogeneous classes but instead appeared to occupy roles based on their capabilities. The first that were encountered were dedicated to ground combat, and did so by leveraging impossible resilience to pain, supernatural invulnerability, and titanic strength. Often, it was more prudent to flee than to engage them in combat, which would provide the time necessary for more to show up. They could be killed, but the supernatural properties of their corpses appeared to vanish upon death. The working theory is that there is a spirit possessing flesh constructs that are then simply regrown in the Hellmouths. Corpses slowly dissolved into worms.
Large portions of both groups were wiped out by a pair of oversized (~1m in diameter), floating compound eyes which caused the hearts of those who met their gaze to vanish from their bodies. It is unclear where the hearts are being moved to, and Indian memetic shielding has been useless as AIs are unable to figure out what counts as a memetic hazard or cognitohazard to human intelligence. Fortunately, neither of these entities pursued allied forces as they moved through the city.
While traveling, 4 Syrian army officials were picked up, claiming they had valuable information and relics. Other finds included an eyeless baby whose screams turned skin to paper (found terrorizing Syrian civilians), a glass war hammer that seems to preserve its victims' mental state as an accessible spiritual wisp, a mute yet telepathic civilian who claims to be able to speak into the minds of thousands contemporaneously, the skin of a demon covered in Koine Greek, a disembodied hand that continues to move and whose gestures appear to cause kinetic fluctuations in space, and an extremely pale naked man whose eyes are stitched shut and claims to be able to see the world "free of the wretched eye-curses" of the entities.
Throughout this process, soldiers are picked off left and right. Plucked into the sky by an invisible creature, shredded into pieces by razor-thin perforations in space-time, consumed by demons disguised as doorways, having their veins filled with sand with a gesture from a rolling ball of arms, growing live insect heads from all their pores after being bled on by a barely-defeated skittering monstrosity, and a thousand other incomprehensible fates. Commanders are merciful, taking the lives of those who would otherwise transform into an immobile yet sentient sphere of flesh or have their insides slowly filled up with writhing, 6-inch maggots.
By the time they make it to extraction points, losses for both teams are at about 60%. Just as they're making it back home, they hear news of the attempted Japanese bombing Hellmouth Abel. As Japanese hypersonic bombers approached the gap in space, six great, translucent arm sprang forth and grabbed them from the sky, yanking them into the portal in the blink of an eye. They hope that what they collected will help turn the tide.
Meanwhile, UKA forces attempt to surround the invading entities. Those in the South have no issue, though attempts to attack Hellmouth Abel with trebuchets have no effect. Demonic forces have not traveled South. As UKA forces consolidated their position in the North they received news of the fall of Damascus, which was relegated to a smoking ruin. The forces from Hellmouth Abel turned their attention to the North and routed the combined UKA-Syrian force with an overwhelming stampede of hundreds of thousands fleshly bodies. Their direction is clear and precise: they are moving towards Derbent. This first push brought them just north of Palmyra, and it is clear that further thrusts through Syria will be trivial. The SAA is scattered, and UKA forces have retreated quickly through Jordan. Kurdish regions and Syrian government officials have collaborated to drop disputes for the time being.
Indian attempts to contain the situation have resulted in an even more dramatic response. UIF forces moving into the mountains were met by a single Horseman of the Apocalypse who must have been waiting for them. The Horseman's scythe was raised, impossibly large, looming over the horizon and its blade obscured by the clouds above. As Indian forces moved to engage, the Horseman brought down its weapon, cleaving the Earth in a single blow. Where once there was Southern Lebanon there was now a great gap that the sea would soon fill. Indian avatars managed to escape, and noticed that the Horseman had shrunk substantially in stature as it returned in the direction of Hellmouth Abel. Battle reports from the Syrian front report seeing only three of the four apparitions designated as Horsemen.
In now-ruined Damascus, a great font of dark smoke has begun flowing into the sky, affecting communications in the same way that the blood of the fallen Psychopomp in Mexico has. It is expected that the combination of these two fonts will shortly envelop most of the world, completely disrupting satellite communications and space-based signals infrastructure. The religious support deployed by the UKA has pointed to one of the major signs of the Eschaton being a cloud of black smoke that will grow to envelop the Earth.
 

Sidebar: Tel Megiddo

In Tel Megiddo, both Indian and UKA forces surrounded the sinkhole, in apprehension of an attack from underground. These suspicions proved to be correct, as the Northern Union's exploratory efforts appear to have awakened an entity that appeared underneath Tel Megiddo recently.
The Beast from the Earth is now shifting below Tel Megiddo, and initial estimates suggest that it will cause the sinkhole to expand to multiple kilometers in diameter as it claws its way to the surface. It is unclear if even the hundreds of thousands of soldiers in the area will be of much utility against the entity.
Heralding its rise, several in outlying Palestinian towns have begun preaching a memetic scripture calling for individuals to prostrate themselves to the Beast. They have been swiftly arrested, but have raised concerns that the Beast may present memetic or cognitohazardous threats in addition to its (apparent) great strength.

YEMEN

Sheban Hellmouth
 
Contrary to initial expectations, the Queen of Sheba did not begin to move towards Sana'a and instead focused on consolidating her position around the Sheban Hellmouth, which made things remarkably difficult for UKA and UIF forces that had expected an offensive. Spread out across several kilometers, the primary prey of the Sheban Hellmouth consisted of smaller settlements whose occupants were consumed by the Sheban horde. Unlike the forces around Hellmouth Abel, the entities pouring from the Sheban Hellmouth were more or less uniform: humanoid, some 3 meters in height, marble-white skin, no facial features. Each of these soldiers boasted enormous, but not insurmountable, strength and endurance. Pouring thousands of rounds of ammunition into their pale hides caused them to eventually crumble as if they were made of stone, their flesh hardening after death.
Closer observation has revealed details of note. When "consuming" a human, Sheban soldiers would lift them to where their mouths might be before the individual simply vanishes. Time leaps forward in the moment of consumption, and onlookers are left with a sense of discomfort that is difficult to place. It seems that the act of eating is completely expunged from the minds of witnesses, leaving only unease and a brief period of "lost time." Attempts to record these events and then view them have met similar failures. Despite the fact that the act of consumption clearly appears to have been recorded, it immediately slips the mind of any organic or artificial intelligence. More importantly, the chest of every Sheban soldier is imprinted with a complicated rune, which when viewed causes thick veins of marble flesh to burst from the pores of the subject, enveloping them in a shell of hard, white flesh. These shells are similar in appearance to Sheban soldiers, but subjects are not aggressive, or in fact mobile at all. Once the runic symbol is visually sensed, the subject undergoes a physical change and enters apparent mental catatonia. Vivisections have found that the initial subject cannot be found inside of the body that grew from them. Their new flesh is the same consistency all the way through, without any identifiable organs. Despite this, subjects appear to be breathing at a steady pace post-transformation.
"Safe" encounters with Sheban soldiers took place on the outskirts of the Queen of Sheba's domain. As UKA forces pushed deeper towards the Barran Temple, they found that the Queen of Sheba was leveling a new sort of mental weapon. When they reached within about a kilometer of the Temple, many began to feel a "presence" brushing at the peripheries of their consciousness, not speaking to them but instead just transferring information directly to them. Many troops refused to advance further towards Barran Temple, and those that did only made it about a dozen meters further.
Those that moved further into the Queen of Sheba's "area of effect" advanced with increasing strain, until they simply stopped moving entirely, as if they were paralyzed. Field commanders attempting to open communication received a single message from a fireteam leader: "don't let her tell you secrets."
Putting together the scant information available, UKA field commanders have decided that the brush with a great telepathic presence presents a potential information hazard if they proceed to a place where the connection can be made more solid. It is unknown what sort of "secret" or information was imparted to the initial fireteams, but enhanced viewing of trapped forces showed UKA soldiers being torn apart as if something was crawling out from inside of their bodies. No entity was seen exiting their corpses. Some suggest this is merely a gruesome hemorrhage. Others worry that there could be something invisible planted inside the people who listen to the Queen of Sheba.
Out of concern that this effect could extend upwards, combat flights over the area of effect have been limited.
Even with these bizarre occurrences, things seemed to be going fairly well. The Sheban Hellmouth was relatively well contained, Sheban soldiers could be killed, and Sana'a was not under immediate threat. Then something odd happened.
While UIF forces started to consolidate their positions, they noticed an apparent organizational error. Indian Army Groups are roughly standardized in terms of troop size with some fluctuation in the amount of equipment each receives, particularly when divided like the 4th Army Group. However, the 2nd Army Group has discovered a discrepancy in its organizational structure: it is approximately 20% smaller than it should be. Looking through military records, it is consistently recorded as 20% smaller than every other Army Group, but there is no reason found for why this would be. The 2nd Army Group is receiving the same funding as any other Army Group, but there is no stated reason as to why a smaller force would be receiving the same amount of funding. Taxation and military budgeting records are in concordance regarding the amount of funding collected and raised, but it's completely unclear how this came to be.
UIF forces were deployed to Sana’a, Baraqish, Ataq, and Al Abr District as planned, but nothing has been able to explain this curious discrepancy.

CHINA

Cathay Hellmouth
 
Chinese forces were in a deep state of disrepair at the beginning of the Eschaton. By the time they had mobilized to the Pearl River Delta in totality, entities from the Cathay Hellmouth had fully secured the megacity and begun butchering its inhabitants, leading the region to receive "Pearl River Abatoir" as a colloquial name. Recognizing their vast inadequacy in the conventional and supernatural realms, Chinese forces relegated themselves to evacuating Chinese civilians in outlying regions, moving millions over a period of days. Chinese forces have assembled north of the megacity, in preparation to coordinate with allied forces.
The UIF's response to the situation in China was perhaps the riskiest: an amphibious landing into a megacity filled with a powerful, unknown enemy. Both Macau and Hong Kong were smoking ruins by the time UIF had landed with marines. Apparitions were nowhere in sight, and no living civilians were present. Corpses were in abundance. Millions of dead bodies littered the ruined cityscape, painting a grim picture of what the situation would look like deeper into Guangzhou. Bodycount started to fall as they pushed deeper into both SARs. By the time they reached the border of the mainland, practically no bodies were in sight. As they prepared to radio in to offshore forces, things started to go wrong.
Noticing a survivor shambling towards the group and crying out for help, a pair of marines ran to offer them support. Video footage gets fuzzy, but after-action analysis makes it seem like a set of large, arachnoid limbs unfurled from behind the "survivor," snatching both marines into the air and messily pulling them apart. The civilian displayed outward signs of death, and its mouth moved independent of the sounds being produced.
All around both divisions of the marine corps, speaking corpses lofted by spidery legs crawled from burned-out buildings, finally answering why so few corpses were present deeper into both cities. Making a slow retreat, they noticed how the corpses they had previously passed by had been moved or were now "waking up," thin, arachnoid legs sprouting from their backs. From every mound of bodies and broken window a new chorus of voices could be heard begging for help from anyone and everyone. Accelerating in their retreat, marine commanders were able to keep casualties low. Shooting at the corpses does not prevent them from being mobile or emitting mimic-noises. Spider legs can be severed, but still don't prevent locomotion and are much more difficult to aim at. Reaching their initial beachheads, marines made contact with UIF forces waiting offshore. There are millions of "dead civilians" in both cities, which has changed the situation.
On board sealift vessels, the new information is processed as UIF marines further reinforce their beachheads. The following is organized as a timeline with information drawn from security cameras and eyewitness reports.
  • At about 1100 hours, an Indian Sub Lieutenant was seen to be vomiting over the side of one of the cargo vessels carrying elements of the 3rd Army Group. He then travels to the makeshift medical bay onboard the vessel.
  • The medical officer assigned to that ship reports that "it appeared as though his face were protruding an inch or two from his skull, pushed out by a strange, gelatinous strip of flesh. He reported great pain, and I prescribed some medication, assuming it was just an unusual swelling pattern."
  • The Sub Lieutenant collapses on the top deck, screaming and holding his face in his hands.
  • Other sailors, rush to offer him help. When he pulls his hands away from his face, it looks like his face has been pushed 6 inches out of his skull, and is attached to a large, fleshy protuberance growing out of his face.
  • His screams are abruptly cut off as his face is pushed 1 foot out of his skull like so. The medical officer suggests that the nervous connections to his brain have been severed, as he continues to gesticulate after the screaming stops.
  • The fleshy protuberance doubles in length, then doubles again, and again, and again, thickening all the while. It begins to shed the Sub Lieutenant's skull and body. Military is called to dispatch the strange mutation.
  • Before they can do so, the fleshy protuberance completely ruptures the Sub Lieutenant's corpse, and quickly darkens, taking on the form of an enormous serpent. It rapidly increases to nearly 25 meters before falling overboard.
  • After a brief moment of respite, the entity explodes from the water, now hundreds of meters long and much thicker. Its tail wraps around the cargo vessel, crushing it down into the water, and bringing it with it almost all those on board.
In response, UIF naval forces begin to coordinate defensive operations, launching UUVs for search and destroy efforts. Over the course of several hours, dozens more sealift vessels are consumed by the ever-growing serpent and over one hundred UUVs are swallowed whole. Tentacles sprouting from the serpent's hide destroy a pair of Shivalik-B frigates and remaining surface combatants converge around the carrier and begin launching ASW operations. After rending the Indian fleet the entity appears to have vanished, drawing comparisons to the Lotan subtype initially recorded by UNCITA. Approximately 30% of the Army Group is lost during this confrontation.
In the center of Guangzhou, another fountain of black smoke begins to sputter into the air. Very soon, space-based communication will be spotty and unreliable on a global scale.
submitted by _Irk to worldpowers [link] [comments]


2018.09.05 06:53 _Irk [CRISIS] The Eschaton

United Nations Commission for the Investigation of Terrestrial Abnormalities

Majestic 12 Initiative
Report: Mar. 2071
Overseeing Directors: N/A

UNCITA Final Report: Omnihallucinative Event

This will be the final report from UNCITA, detailing the Omnihallucinative Event that took place worldwide on the Ides of March (date determined to be relevant to anomalous events based on data collected from memetically-infected subjects) during the "Witching Hour" (informal chronal designation, determined to be of significance based on observational data collected during long-term study of Anglish supernatural defenses) [15/03/2071, 3:00 AM GMT]. Previous efforts to contain the spread of memetically-induced F24 cases have been determined to be a failure and Neurathian Bootstrap Protocols have been unsuccessful in bringing about recovery in subjects following the Event. After the disbursal of this report, UNCITA will be dissolved under the unanimous order of all acting UNCITA directors and the Majestic 12 Initiative shuttered. UNCITA personnel will be actively sequestered in order to provide a skilled and diverse core of individuals who will survive the oncoming events and prevent the extinction of humanity during the projected omnicide.
 
On March 15th 2071, every individual on Earth experienced a simultaneous hallucination, awakening those who were asleep, in comas, or otherwise preserved in a state of unconsciousness. This Ominhallucinative Event has been determined to have been the result of an immense occult pressure on the Universe, localized in certain regions on Earth and manifested as pinpricks in space-time transmitting memetic signals that "latched on" to the human zeitgeist. UNCITA multireality scouts employing thaumaturgic techniques and DMT meditation have made brief mental forrays into the dimension exerting these pressures, and scant data has been collected before each scout suffered brain death. The available information paints a picture of a deep, throbbing, metaphysical abyss of pain and vice that seeks to expel its subjects into our own reality and colonize it for their own use. Theological, historical, and supernatural evidence has suggested that this is not the first time contact has been made between this reality and that of these malevolent entities. How they were sealed into what some in UNCITA have dubbed a "prison dimension" is currently unknown. The mechanisms of the Caspian Gates are likewise currently unknown.
Below is an informational account of the hallucination (which primarily took the form of rapid visual and auditory inputs), as experienced by humanity.
Four Horsemen,
one of pestilence atop a white steed,
one of war atop a red steed,
one of famine atop a black steed,
and one of death to represent the collapse of a great empire.
 
Now: a figure erecting a great wall to contain a horde of demons headed by titanic avatars, Gog and Magog. Derbent, but ancient, hosting colossal gates, locked with arcane expertise as a seal on those that would invade and conquer human civilization. The gates stretch some thirty feet in height. It is long past the era of the figure that first built the walls, but they remain secure. Protecting, ever-watchful.
 
Once more, the setting shifts. The Haifa Disaster. Then, we travel. We see the epicenter, 30 kilometers southeast, the city of Tel Megiddo. We see below, below the layers that have been uncovered, deep underneath, a pulsing sphere of nothingness, a maw into another space. It beats, heartlike, and grows in size, cracking the stone that the city was built on.
 
The world is burning. Millions of indistinct, bestial soldiers march across the landscapes of Earth. Humanity seeks refuge in death, a psychopomp sprung forth from human consciousness and made manifest with an offering from its herald.
 
Religiosity is upended. There is no God or Heaven to point to, no ultimate supernatural savior descending from above.
There is only Hell.

SCENE CHANGE/INTERMISSION

Listen, folks. Let’s be straight with each other. We all knew that there was some zany shit going on from the get-go. If you move through the source material with a toothbrush-fine comb, it’s clear that ever since the beginning of what was billed as “A Normal Day”, the abnormal has reigned supreme.
  • Kidnapped by dark forces, Camille is immediately able to glean that one of her captors has a “thick French accent”, despite the fact that she herself is French and they are speaking French. Once she flees the dungeon, she is immediately able to tell that she’s in Italy due to the presence of “mountains” and “yellow buildings”, neither of which are specific indicators of the Italian peninsula. Now, this could be taken as a lucky guess...but what if the truth was something darker? What if, from the start, Camille had been psycho-prepped by a group far more sinister than a cabal of international art thieves?
Let’s move onto [the second installment - A Normal Day Part II.
  • Immediately after exiting the lair of (probably) Elmyr de Hory, Camille encounters Ferdinando for the first time, moseying along the streets unaccompanied, despite apparently being over a century in age. Ferdinando immediately presses Camille to go the police station where his grandson works, jumping ahead of her in the conversation several times.
  • Camille enters the "police station" and gets the "feeling she is being watched." In the entire police station there is only one officer, whose name is Luca Delucci. Despite clearly being overworked and stuck in an understaffed precinct, Luca performs no paperwork, calls for assistance from no other police officers (Again, as there seemingly are none), shoddily takes down Camille’s account of events while displaying a remarkably carefree attitude and remaining nonplussed as Camille recounts stabbing her assailant right in the eye. Officer Delucci then whisks Camille away in his car, which is “not the best condition” with “ripped leather, trash on the floor.” It is clearly not an official police vehicle, as the PD would never allow one of their squad cars to deteriorate so badly. In fact, Luca could expect to be reprimanded and sanctioned for destruction of police property.
  • Luca and Camille return to the scene of the crime, which has mysteriously been scrubbed clean and fixed-up in the half-an-hour since she stumbled out of it. Instead of investigating further, and instead of putting her up in official accomodation, Luca decides to drop Camille off at his grandfather’s apartment. His grandfather? The one person who was around the crime scene after Camille - Ferdinando, who sent Camille to the police station in the first place. what is of more interest is where he brings her next: his grandfather's apartment.
What happens next?
  • Camille heads up the stairs to Ferdinando’s apartment. Notably, there’s no mention of any kind of elevator or stair-chair system that a man of Ferdinando’s advanced (100+) age would definitely need if he was to live in an above-ground apartment. The interior of the apartment is - just like Luca’s car- extremely messy. The paint on the walls has begun to chip, and it - probably - smells like old clothes. Ferdinando owns a television set from the 40s. Could this be taken as the 2040s? Yes, however television technology has not advanced enough between the 2040s and the 2060s for this to be at all notable. It can be concluded that Ferdinando’s television set is from the 1940s, making it one of the oldest in the entire world, and preceding Ferdinando’s birth by several decades. Archaic to be sure.
  • Camille enquires about the fate of Luca’s parents while the sprightly Ferdinando mixes sauce. He immediately stops mixing and stares at the floor for a solid 5 seconds, perhaps a short amount of time in Minecraft, but an age in actual conversation. Shortly thereafter, he stammers out that they died in a plane crash. Perhaps the memory of their loss was a painful one, but time heals all wounds and Mr. and Mrs Delucci had been dead long enough for Ferdinando to “practically raise” the adult Luca by himself.
  • As an aside, Ferdinando informs Camille that she “looks like an iKaajan child”. Not only is this weight-shaming (Camille is probably a perfectly healthy weight for her body-type and even if she wasn’t, it’s not his place to comment), it’s also extremely racist and misinformed, because famine isn’t exactly a common occurrence in modern South Africa. Ferdinando was born in the mid-60s and came of age in the 1980s, so what’s his excuse for being so bigoted?
  • Luca soon arrives. After verifying his age, Camille immediately asks him if he’s single, a sharp turnaround from her earlier thought that “[he was] kind of cute but it doesn’t matter.” Again folks, psycho-prepping goes a long way.
  • Ferdinando reveals that Luca lives across the hall from him and has an extra room, leaving us all to wonder why Luca didn’t leave Camille off to his apartment in the first place and dropped her off with his grandfather. Camille journeys to his apartment and conveniently encounters a shirtless Luca, who she is immediately overcome with lust for. Luca’s apartment is in a sorry state, though not as bad as Ferdinando’s, who is here described as his “father”, perhaps hinting at a stranger relationship than previously established.
  • The room that Camille is sent to only has a bed. There are no other furnishings. It’s four walls and a frame-supported mattress. The only people who generally have rooms like this are at risk of suicide and have recently been discharged from mental hospitals.
  • A mysterious assailant appears in Camille’s room in the middle of the night. She screams, and immediately the 100-year old Ferdinando, who doesn’t live in the apartment, rushes in with a handgun and unloads it right between the man’s eyes. How did he get there so quickly? Accusations are tacky, but maybe - just maybe - he was waiting? Ferdinando then leaves his apartment and gets his phone, telling Camille at the police are on their way. At no stage does he actually ring it.
  • Luca is soon found in his bedroom with a “massive bruise”, which has formed unnaturally fast. The cops eventually arrive in the form of a single officer called Mario, who recognises Luca, asks him to confirm that he’s Luca, and is then informed by Luca that he’s Luca, recognises Luca for a second time, and expresses concern for him. Mario could be mentally retarded, or he could just be having trouble remembering his lines. Mario also recognises Camille as “that Camille” after being told about her kidnapping, despite Luca having filled out no paper-work on the subject.
  • Camille eventually expresses surprise that Luca owns a car, despite having been in it earlier. Perhaps the food that Ferdinando gave her was drugged, or perhaps she was drugged from the start. Maybe she never left France. Maybe she’s never been to France, which would explain the accent issue.
So, what’s going on?
Everything that’s happened has simply been part of Camille’s ‘testing’ by a trio of occult priests in the service of dark forces. Ferdinando, symbolically, is the ‘Father’, Luca is the ‘Son’, and Mario is probably the ‘Spirit’, forming an unholy trinity that forms the core of all dark magic cells. We don't read about the strange supernatural paraphernalia lying about Ferdinando's apartment or his unusual getup. Nor do we read about the ways that Ferdinando ensures Camille never leaves his sight. By the time that Camille returns to Paris, the capstone to a dark scheme launched by Ferdinando and by the design of the Dark Lord Jimmy Page has already begun to gestate.
On the Ides of March, Camille is once again kidnapped and taken to a long-forgotten altar in the center of Tel Megiddo. It is there that she gives birth to the antichrist, the package of energies that bring an end to the process started by the horsemen years ago within the interstice. As death claims Camille, its attentions are already turning to the rest of us. The end of the world has started.

Back to our regularly scheduled programming:

Following the so-called "Omnihallucinative Event," nearly every country suffered some form of panic. Riots and looting motivated by religion across the UKA and its proxies, mass conversions across North America accelerating the process that began in the United States, stock market drops in the face of collapsing expected revenues, and so on. Anyone could be a demonic agent, a memetic zombie, or some sort of satanic cultist aligned against humanity as a whole.
Some attempted to rationalize the Event, and maintained that the events shown in the "Great Dream" were simply impossible, and that any abnormalities (if they existed at all) were based entirely in energies already found within the Universe. As trickles from UNCITA reports and Derbent experiments began to make their way into the news cycle though, these viewpoints were consigned to a dwindling minority.
In secular countries, protests were focused on pressuring the government to make preparations for whatever event would be coming in the wake of the Event. Individual citizens practiced doomsday prepping en masse and local governments were the quickest to react. However, even with their best efforts, there wasn't enough time to erect barriers against what would be taking place.
[Geological Survey of Palestine, 16/03/2071 3:00 AM]
[Notable seismic shocks have been detected in the epicenter of the Haifa Earthquake, identified as Tel Megiddo national park. Approx. 30 minutes into the continuous seismic disturbance, on-site observers reported the emergence of a sinkhole in Tel Megiddo, consuming the entire city. Depth cannot currently be gauged. A thin fissure has been observed spiking Northwards from the site. Drone reconnaissance has shown that it is extending as far as Southern Syria.]
 
Open Statement from the Syrian Government to the Nations of the World
Within one day of the Omnihallucinative Event, Syria has been brought to the brink of state collapse. Critical government and military personnel have been relocated to Northern governates. Contact with Damascus has been lost, though the city has not yet fallen. Nearly the entirety of Rif Dimashq Governorate has been consumed by extrareality entities that the Syrian military has been unable to effectively combat.
Entities have emerged from a "three dimensional hole" centered on Nabi Habeel Mosque, a suspected site of occult significance. Estimated enemy combatants numbering from the hundreds of thousands to the low millions and growing. This is a request to any and all fellow nations for any military aid possible.
Early reports from Syrian intelligence have identified four entities that are larger than others in the theater and that appear to be actively coordinating combat activities.
 
Synthesis of Available Data on the Pearl River Delta Megacity Attacks
In the Pearl River Delta Megacity, thousands have been killed in an ongoing genocide by malignant entities spilling forth from a point near the center of Guangzhou. Eyewitness reports have described a large, black blot hovering in space which appears to be the source of the invaders, as laid out in the Great Dream. Drone footage has captured a particularly large entity idling near the core of these events. A nude woman approximately 3 meters in height is suspended above even some buildings by seven arachnid limbs sprouting from her back. Comparisons are being drawn between this entity and that spotted in Mongolia several years ago.
Entities have been sighted even in the outskirts of the Pearl River Delta Megacity, and much of the region's urban area is saturated with demonic combatants.
 
Open Statement from the Yemeni Government to the Nations of the World
Yemeni essential government personnel have been evacuated to secure positions. A tear in space-time has emerged in the the Barran Temple as in Syria and Southern China. The entities emerging from this tear are led by a figure that has self-identified as the "Queen of Sheba," who is capable of layering her vocalizations with memetic triggers inducing compulsion in a subject. It is suspected that the emergence of the Queen of Sheba is directly connected to the events that transpired in Sana'a in 2068.
Ma'rib Governate will likely soon fall. Yemen is requesting immediate military aid from any and all nations.
 
Deep in Mexico, the God of Death has begun to move South, bringing it with it a contingent of thousands of devotees who seek its protection. Its movement is slow and deliberate. Folk Catholics are drawn to the entity in great masses, sacrificing themselves, or falling into the wake of its followers.

United Nations Commission for the Investigation of Terrestrial Abnormalities

Unauthorized Communication
Current UNCITA (or now just CITA) intelligence has pointed to the establishment of three "Hellmouth" type space-time tears: Hellmouth Abel, the Cathay Hellmouth, and the Sheban Hellmouth. The apparitions emerging from these "war portals" will be exceedingly numerous. Their capabilities are broadly unknown, and their intentions are decipherable only on a surface level. It is suspected more Hellmouths will open as time proceeds. CITA is attempting to develop any and all solutions it can, but paramount among those is the preservation of the Commission.
Humanity shall not be snuffed out. Today, we reverse the Eschaton.

FAQ

Q: How does this work exactly?
A: This is like a normal war, except one side has some weird magic-y shit. How do you get magic-y shit? By capturing their dudes/equipment/ideas and reverse engineering them and combining them with your tech to create new weaponry and strategies to fight this new threat. Ping me on efforts to do this kind of reverse engineering and I will express the results of that research.
Q: Will the magic thing I did have any effect on this?
A: With very few exceptions, no. Some things were incorporated as build up for this.
Q: Is this the season ending?
A: idk probably.
Q: Is this kind of event going to be the norm for seasons going forwards?
A: Probably. I messed up with this one and delayed things too much. Practice makes perfect I guess.
Q: Did IIIII inspire part of this?
A: No, it was genuinely an accident if anything in these posts matched up to shit you were doing. It's also a coincidence if this matches up with something you expressed on the discord.
Q: What's the deal with the camille bit?
A: Roy helped. Thanks Roy.
Q: I do not like this.
A: Then I'd just leave tbh, I sort of just do things I want to do regardless of how it impacts the game.
submitted by _Irk to worldpowers [link] [comments]


2018.09.03 17:12 JorgeGilManager ¿Cómo crear una app móvil y Ganar Dinero con Android o iOS?

¿Cómo crear una app móvil y Ganar Dinero con Android o iOS?

En muchas ocasiones, durante charlas con colegas o amigos ha surgido una pregunta constantemente “¿cómo crear una app móvil generar dinero con el desarrollo de aplicaciones para Android e iOS en general?”. Qué pregunta tan específica :) ¿no crees?.
Seamos realistas, en el mundo digital es cada vez más evidente que para una buena estrategia de marketing digital o de community management es importante incluir una aplicación móvil para el negocio en cuestión.
Esta realidad nos lleva a otra cuestión, ¿y si fuéramos nosotros los encargados de sacar provecho de esa necesidad del mercado?, es decir, ¿y si para cubrir una necesidad real decidimos crear aplicaciones para ganar dinero?.
Pues bien, por lo que he estado investigando esta es una situación que ya está sobre la mesa, de hecho hay muchas personas ganando dinero en Android e iOS a través del desarrollo de apps y si estas buscando como ganar dinero con aplicaciones en este post vas a descubrir exactamente cómo hacerlo.
Así que me decidí a escribir este post para darte una idea más clara de cómo están haciendo otros (y yo también, he de admitir) para ganar en Google Play, iOS u otros marketplaces con la creación de aplicaciones móviles.

¿Cómo ganar dinero en Google Play e iOS?

Lo cierto es que hay más marketplaces además de Google Play e iOS, sin embargo, estos dos son los más rentables y en donde más descargas va a conseguir tu aplicación. Antes de continuar me gustaría matizar que para aprender cómo crear una app y ganar dinero con Android o iOS puedes hacerlo de varias maneras, las dos principales si no tienes un negocio online previamente, es decir, si estas empezando de cero, son:

1- Crear aplicaciones de negocios que puedas vender:

No es tan complejo como parece, si se te dan bien las ventas estoy seguro de que puedes conseguir grandes beneficios, al fin y al cabo es un servicio muy demandado y rentable.
Por ejemplo, en España (donde yo resido) una aplicación móvil sencilla para una empresa puede costar entre 2.000€ (2.350$) y 4.000€ (4.700$) y no estamos hablando de nada extremadamente complejo. así que imagina el potencial.
Otra forma de ganar dinero creando apps rentables es:

2- Crear aplicaciones móviles sencillas pero útiles y monetizarlas:

Personalmente, esta es la vía que yo utilizo, además la plataforma con la que lo hago es intuitiva y fácil de usar. Como te estaba diciendo, si lo que buscas es como ganar dinero con aplicaciones esta es otra forma de monetizar tu tiempo y trabajo en el desarrollo de apps, consiste principalmente en crear aplicaciones móviles que no tengan precio para el usuario, es decir, gratuitas y monetizarlas de otra manera.
Existen dos maneras de monetizar una aplicación móvil gratuita exitosamente:

Compras In App

📷
Es decir ofreciendo productos dentro de tu app, upgrades, actualizaciones, etc. Lo malo es que te obliga a crear más contenido por lo que será realmente complicado conseguir crear un sistema en torno a este modelo de negocio.

Publicidad

📷
Así es, la publicidad también es una opción cuando estás buscando como ganar dinero con android e iOS con el desarrollo de aplicaciones hablamos. En este caso, probablemente ya habrás imaginado donde aparecen los anuncios (¿Acaso no tienes alguna app con anuncios? :)).
¿Pero sabes como conseguir anunciantes para tu app?
Si tu respuesta fue no, atento al siguiente punto porque va a resolver tu duda rápidamente.
Haz clic aquí para conocer la plataforma de creación de apps que yo estoy utilizando

¿Cómo ganan dinero las apps gratis? ¿Donde consiguen los anunciantes?

Pues bien, respondiendo a la pregunta (que espero que sea la que te has hecho tú también), la respuesta es relativamente sencilla.
Las aplicaciones móviles gratuitas consiguen sus anunciantes de distintas redes de publicidad que se especializan en la promoción de anuncios de distintas marcas en dispositivos móviles (recuerda que las aplicaciones también pueden ser usadas en una tablet).
Esto resulta muy conveniente para los creadores de una app para ganar dinero y para los anunciantes. Para los creadores porque nos permite tener anuncios que mostrar en tu aplicación y para las empresas porque pueden conseguir que sus anuncios lleguen a grandes audiencias.
Existen infinidad de redes de publicidad para móviles, sin embargo, muchas de ellas son solo engaños y después de has generado dinero con ellos se rehúsan a pagarte, otras son sencillamente malisimas y son detectadas como virus por los marketplaces principales.
Afortunadamente papá Google tiene su representante en este rubro. Google creó hace varios años AdMob, su red de publicidad para dispositivos móviles siguiendo el mismo modelo que con Adsense, clicks en tus anuncios igual a dinero para ti.
Déjame decirte una cosa, si crees que monetizar un blog puede ser rentable. Entonces tienes que probar la creación de aplicaciones móviles para ganar dinero…
El gran beneficio radica en que con las aplicaciones para Android e iOS es mucho más rápido, en gran medida porque, aunque ya está en el mercado hispano, es una estrategia que aun no esta totalmente popularizada por lo que la competencia no es desmesurada. Lo que al final significa que tus aplicaciones móviles van a conseguir muchas descargas con lo que tus anuncios van a recibir muchos clics.
En definitiva, el modelo de negocio es similar a si tuvieras un blog con la diferencia de con la plataforma de agarrar y soltar que te enseñaré más abajo, vas a poder crear apps más rápidamente que blogs.
Estoy convencido de que te estás preguntando...

¿Cómo crear una aplicación móvil realmente rentable?

Hay muchos tipos de aplicaciones móviles que pueden generar bastante dinero, puedes crear aplicaciones para escuchar música, sobre consejos, sobre horóscopos y muchas otras, pero en cualquier caso, si estás intentando descifrar cómo se gana dinero con una app.
Dejame decirte lo siguiente, una buena aplicación debe tener los siguientes 7 factores en cuenta para ser exitosa, de otra manera te aseguro que no va a funcionar. ¡Atento!

1. Tu aplicación móvil debe ser eficaz.

📷
Lo primero es lo primero: los grandes desarrolladores de una app para ganar dinero son efectivos en lo que hacen. Por ejemplo, algunos de los desarrolladores más efectivos y exitosos en Google Play trabajan bajo la metodología de SCRUM, lo que significa que tienen como objetivo crear un producto de valor moderado, dentro de un período de tiempo corto y mejorarlo después del lanzamiento.
Esto te va a permitir lanzar tu app rápidamente y comenzar a monetizarla mientras la mejoras. Ten en cuenta que al final tu app debe tener muy buena calidad, no vale dejarla a medias solo para sacarle algo de dinero.

2. Enfócate en el usuario.

📷
Quizás estés pensando que es obvio, pero muchos creadores de aplicaciones móviles no lo tienen en cuenta, por eso es importante que orientes tu aplicación hacia la usabilidad de tus usuarios, de esa manera vas a conseguir una aplicación que guste y te genere descargas e ingresos.
También es recomendable que investigues que es lo que le lama la atención a los usuarios de la app, por ejemplo ¿que colores le gustan?, ¿puedes usar estos colores dentro de la app?.
Si tus usuarios encuentra útil tu aplicación móvil volverán y ese es un factor importante para los marketplaces.

3. Se creativo.

📷
La creatividad es indispensable para una buena aplicación móvil, no quiero decir que tengas que crear una aplicación totalmente nueva y que nadie haya creado jamás, sin embargo si es de vital importancia que la estética de tu app sea llamativa para tu usuario.
¿Sabías que de media los usuarios descargamos 8.8 aplicaciones móviles por mes?. Precisamente por eso debes diferenciarte con una estética llamativa y elegante para tu público.

4. Ten en cuenta los cambios.

📷
Cada poco tiempo es importante que te informes sobre los cambios en las políticas de los marketplaces y cómo pueden afectar a tu aplicación. En mi caso, la plataforma que utilizo me notifica de estos cambios, además, al tratarse de una comunidad tan compacta y unida siempre estamos intercambiando nuestras impresiones al respecto.

5. Debes ser determinado.

📷
Esta característica como ya habrás deducido va más orientada a ti que a tu aplicación. Si realmente quieres aprender cómo crear una app y ganar dinero con android e iOS entonces debes ser determinado. No basta con crear una sola aplicación (o a lo mejor si, luego te cuento).
La idea es que crees varias aplicaciones que te permitan obtener ingresos recurrentes y sin apenas supervisión, es totalmente posible, pero lógicamente no sucede de la noche a la mañana. Tenlo en cuenta.

6. Tu app móvil debe ser flexible.

📷
Tu aplicación debe ser flexible, es decir, si tu mercado o el grupo de personas que esta descargando tu aplicación móvil te pide una mejora o un cambio, asegúrate de que la estructura de tu aplicación lo soporta sin convertirse en demasiado complicada para tus usuarios.
de esta manera vas a conseguir que tu app móvil sea mucho más rentable al transmitir esa sensación de renovación constante y de qué escuchas lo que tus usuarios dicen.

7. Tu aplicación móvil debe ser multiplataforma.

📷
Esto es fundamental si realmente quieres crear una app para ganar dinero y publicarla en Google Play o iOS. Como seguramente sabrás, tanto Google Play como iOS usan archivos de aplicación totalmente distintos (si, así es :)).
Es por eso que tu aplicación debe poder descargarse en ambos tipos de archivo para poder aparecer en los dos marketplaces más rentables,
Por fortuna, este proceso es relativamente automático cuando trabajas con plataformas de creación de apps móviles que saben lo que hacen.
Como ves, aprender como ganar dinero con android e iOS y hacer una app que reúna los requisitos para hacerlo, no es complejo, sin embargo, si requiere de tu atención. La buena noticia es que cuando la crees y la posiciones vas a recibir ingresos recurrentes de ella durante mucho tiempo.
Quizás quieras saber cuánto dinero puedes ganar realmente con una aplicación móvil, si es así ¡no te pierdas el siguiente apartado!

¿Cuánto gana una aplicación android por publicidad?. Realmente ¿Cuánto se gana con una app?

Pues bien, lo cierto es que se puede ganar mucho dinero online con el desarrollo o creación de aplicaciones. Podría hablarte de cifras sin más, sin embargo me gustaría que leyeras de forma resumida el siguiente caso de estudio donde Roi nos muestra cómo consiguió llevar una aplicación móvil de 0 a 120€ en solo 14 días y lo que es más importante, el cómo.

Caso de estudio: De 0€ a 120€ en 14 días

Hay muchos más casos de estudio pero para que te hagas una idea, el CPM medio (Coste por mil impresiones) que paga Admob a sus anunciantes según tipo de anuncio y plataforma es.

Android

iOS

Quizás pienses que se trata de poco dinero, pero una buena aplicación puede conseguir miles de descargas en un dia y a diferencia y cada una de esas descargas puede ver tus anuncios varias veces. Ahora imagina cada vez que decidan regresar…
Cómo ves el potencial es enorme.

¿Te gustaría saber cuánto puedes ganar con tu app?. Calculadora de ganancias

Calcula la cuánto dinero puedes ganar con tu aplicación móvil rápidamente con nuestra calculadora de ganancias. Solo rellena los datos y asómbrate con las cifras!
[CP_CALCULATED_FIELDS id="6"]
Como te digo, no es una ciencia exacta, pero sin duda los beneficios que puedes obtener se aproximan mucho a la realidad.
¿Tienes una gran idea y solo necesitas aprender cómo hacer una app Android o iOS y como publicarla? ¿Estás buscando una buena idea y un lugar donde desarrollar tu app?
Entonces estoy convencido de que los dos siguientes apartados de este post te van a encantar. ¡No te los pierdas!

Buenas ideas para crear una app o apps rentables y aplicaciones móviles exitosas.

Ahora que ya estás convencido de que rer tu propia appa para ganar dinero en Android e iOS llega un momento decisivo. Buscar una buena idea para crear una app rentable.
Pues bien, hay muchas formas de encontrar grandes ideas para apps rentables pero en este apartado quiero compartir contigo las principales 7 formas principales para conseguir buenas ideas para crear una app que yo personalmente he usado, en gran medida usó esta forma de obtener ideas porque me permite fijarme en app para ganar dinero real que no resulte difícil de hacer a través de la plataforma que yo uso y eso al final significa que consigo crear un buen producto en poco tiempo y monetizarlo antes.
¡Comencemos!

1. Resuelve un problema.

📷
Como en todos los mercados realmente hambrientos, siempre hay personas buscando desesperadamente una solución a su problema. Algunos quieren adelgazar, otros quieren poder escuchar música desde su móvil rápidamente, otros quieren conocer su horóscopo y así muchos otros problemas “menores” que pueden ser solucionados rápidamente con una app móvil,
Podrías crear una aplicación que le sirva para hacer determinados cálculos (lo cual sería solo un excel) o una aplicación que le enviara frases motivadoras todos los días. ¿Entiendes lo que quiero decir?. No se trata de que crees aplicaciones móviles complejas sino que resuelvan un problema “menor”.

2. Haz que sea una lista.

📷
esta es una fórmula realmente útil y rápida de aplicar. ¿Qué te parecería crear una aplicación con recetas sanas de comida?. Basta con que busques artículos interesantes en internet en forma de lista, algo así:
¡Así de sencillo!. Incluso, si tienes un blog, puedes convertir tus artículos en una aplicación. Fácil ¿verdad?.

3. Mejora una aplicación móvil existente.

📷
Algunas veces no es necesario inventar nada nuevo. Puedes buscar aplicaciones que ya existen y pensar en formas de mejorarlas. Simplemente ve a Google Play o iOS y navega un poco por las categorías de aplicaciones gratuitas. Encuentra alguna que pueda ser mejorada. Descárgala para estudiarla y mejorarla.
Quizás puedas mejorar la interfaz, ofrecer mejor contenido, simplificar el acceso a la información en la app. Ninguna app es perfecta y siempre hay margen de mejora.
No necesitas copiar nada (de hecho, no te lo recomiendo) pero siempre puedes encontrar aplicaciones para Android e iOS en las que inspirarte.

4. Explota una tendencia.

📷
Así de sencillo, a lo mejor esta app solo te generará dinero durante un periodo corto de tiempo pero seguramente te hará ganar más dinero en ese periodo corto que otras que lo hagan en un periodo más amplio.
Las redes sociales son una buena manera de descubrir tendencias, yo personalmente utilizo también Google trends pues me permite ver tendencias recurrentes, es decir, si en verano de 2017 y 2018 algu fue tendencia ¿por qué no debería serlo en verano de 2019?.

5. Usa un software de analitica de aplicaciones moviles.

📷
En ocasiones, las ideas para crear una app realmente rentable no vienen por ninguna parte. Afortunadamente incluso para esa situación hay una solución. en esos casos siempre puedes consultar los datos de los software de análisis de aplicaciones, de esta manera vas a ver cuales son las principales aplicaciones en una categoría, es decir, no solo la que están en los primeros puestos sino las que están escalando hacia ellos.
App Annie, por ejemplo, es una plataforma de métricas de aplicaciones móviles y marketplaces que te puede brindar muchos datos sobre el mercado, la app móvil o el marketplace en cuestión.

6. Hazlo gracioso o interesante (¿o ambos?)

📷
Piensa en ideas para aplicaciones móviles divertidas. ¿qué es lo que a las personas mas nos gusta disfrutar y compartir con nuestros móviles?. ¿Frases, chistes, memes, videos graciosos?. ¿que tipo de citas nos gusta compartir? ¿Que tipo de videos graciosos?.
Cómo puedes comprobar en Google Play las aplicaciones de frases son un éxito.
Puedes ser mas especifico a la hora de crear tu app para que de esta manera encaje bien en una categoría. Solo necesitas pensar que encuentra la gente interesante y centrarte en ello. Lógicamente no le parecerá interesante a todos pero cuando consigas el interés de un público objetivo podrás comenzar a trabajar en otro.

7. Simplemente… ¡pregunta!.

📷
A veces la manera mas facil de saber algo es preguntando. Quizás muchas ideas para apps rentables están justo delante tuyo. Pregúntale a tus amigos, conocidos, familiares y si no eres una persona tímida sal a la calle y pregunta a las personas que encajen con tu público qué tipo de app les gustaría.
¡Y ya está! Ahora que tienes muchas grandes ideas para crear una buena app para ganar dinero real en Google Play e iOS es hora de comenzar a crear aplicaciones. Pero espera… A lo mejor no sabes por dónde empezar ¿verdad?.
Como puedes ves hay muchísimas maneras de conseguir buenas ideas para aplicaciones móviles y así crear aplicaciones móviles rentables. Ahora bien, no siempre es tan fácil encontrar donde crearlas y que sean profesionales.
Si estás pensando en crear tus propias aplicaciones móviles para ganar dinero y no sabes por dónde empezar entonces el siguiente apartado es para ti.
Te voy a presentar la plataforma que yo personalmente uso y con la que estoy consiguiendo buenos resultados a pesar de no estar dedicando una gran cantidad de tiempo al desarrollo de apps para emprendedores o para ganar dinero con aplicaciones Android e iOS.
Antes que nada, me gustaría dejarte claro que en este caso se trata de un link de afiliado por lo que yo podría recibir algo por tu recomendación, sin embargo, en ningún caso estoy intentando que adquieras algo que no te resulta útil.
Si conoces otra plataforma que valga la pena no dudes en compartirla y si ves que la franquicia para ganar dinero con aplicaciones rentables que yo uso no encaja en lo que tu buscas, sencillamente no le prestes mayor atención.
Pero si todo lo que he escrito en este post y los resultados que te he mostrado te llaman la atención.
¡Entonces no debes perderte este último apartado!

¿Cómo adquirir una franquicia para ganar dinero con aplicaciones rentables?

Lo cierto es que existen multitud de aplicaciones para crear aplicaciones móviles que sean rentables y yo personalmente he utilizado un par, con resultados muy dispares debo decir.
El gran problema de muchas de las plataformas es que no te ofrecen ningún tipo de guía o formación para monetizar las apps móviles gratuitas y específico gratuitas porque si fueras un desarrollador de aplicaciones capaz de crear aplicaciones muy complejas entonces no recurrirías a este tipo de plataformas.
En cualquier caso, como te comentaba antes aunque algunas de estas plataformas ofrecen formación sobre el uso de herramientas no lo hacen sobre las estrategias necesarias para saber como como ganar dinero con android, es decir ganar dinero real en Google Play e iOS con aplicaciones moviles gratis, por lo que al final te encuentras un poco abandonado en ese aspecto.
A continuación te dejo una lista de algunas con las que he trabajado y al final te hablaré de la que personalmente utilizo ahora mismo y me está trayendo buenos resultados, aunque, como te comenté más arriba, actualmente no estoy dedicando mucho tiempo para ganar dinero con aplicaciones Android e iOS o apps para emprendedores. En cualquier caso, estoy ganando dinero.

Mobincube

No es una mala plataforma, sin embargo no es la mejor, te ofrece determinada cantidad de MAUs a lo largo del mes en base a la cuota que pagues, sin embargo, se queda con parte de los beneficios por publicidad y lo que es más preocupante, incluye los softwares de algunas plataformas de publicidad de anuncios en dispositivos móviles que son consideradas como virus por algunos antivirus y marketplaces.
Así que tu aplicación móvil puede llegar a ser detectada como virus en muchos casos.

AppNet

Esta plataforma no esta nada mal, aunque desafortunadamente está claramente orientada a la creación de aplicaciones de negocios o para terceros y no para ganar dinero con ellas con publicidad.
Si estás interesado en ese modelo de negocio, AppNet te puede resultar interesante. Sus servicios resultan bastante asequibles. Ahora bien, si lo que quieres es adquirir una franquicia para ganar dinero con aplicaciones gratuitas. Esta definitivamente no es la mejor opción. Te lo digo por experiencia.

Apps Rentables 2.0

Esta es la plataforma que yo personalmente utilizo, resulta bastante asequible teniendo en cuenta la cantidad de aplicaciones que nos permite crear. Nos permite monetizar con Admob y quedarnos con el 100% del dinero y lo más importante, nos da formación sobre como ganar dinero creando aplicaciones móviles.
Para mi personalmente es importantísimo que ofrezca una formación sobre como ganar dinero con Android o iOS, al fin y a al cabo este método de hacerlo es relativamente nuevo en el mercado hispano y hay mucha información que podemos no conocer.
Te recomiendo que le eches un vistazo a este webinar en donde explican a grandes rasgos la plataforma y cómo sacar beneficio.
Si finalmente te gusta lo que ves, te recomiendo que aproveches esta oferta si te parece que te funcionara mejor para ti. Como te comente antes, en ningún caso quiero venderte nada. Si Apps Rentables funciona para ti. ¡Genial!.
Bien esto es todo por ahora. Espero de verdad que este articulo te resulte útil, si fue así. Compartelo, esos 30 segundos son tu mejor gracias.
submitted by JorgeGilManager to u/JorgeGilManager [link] [comments]


2018.04.09 13:56 Nofapmx31 ETS.. otro riesgo de la calentura no controlada

Los deseos sexuales no controlados te siegan. Te hacen pensar de manera acelerada. Tomas desiciones estúpidas. No te fijas con quien te metes...
En cierta medida el fap te ha salvado...
La cantidad de ETS que hay...
Lo peligroso que es incluso sin penetracion...
Los peligros del sexo oral (la gonorrea oral es superdificil de tratar porque los medicamentos no llegan ahi) La gonorrea se ha declarado incurable.
http://www.m.e-consulta.com/nota/2018-02-13/entretenimiento/sexo-oral-una-puerta-para-desarrollar-peligrosa-gonorrea-incurable
La sifilis vuelve siendo mas resistente a antibioticos...
https://m.eldiario.es/sociedad/bacterias_resistentes-enfermedades_de_transmision_sexual-salud_0_553995157.html
En fin... valoren las relaciones personales. Familares... amistades...
El cortejo.. las citas.... Todo eso se hizo para conocer a la persona...
Darte cuenta incluso si no esta sana, o cuerda.... pero si andas ahi de apresurado y caliente... es lo que menos te importa... eso te puede hacer caer en ETS... dejen el Fap...
Agradezcan que estan sanos... por favor.
Y no enfermen mas a causa de este mal... que los deja sin energias creativas... que los deja tan satisfechos, que no hacen nada mas por sus vidas p las de otros....
submitted by Nofapmx31 to NoFapES [link] [comments]


#17 Episod Cita Cita  Didi & Friends - YouTube Dios sana toda enfermedad  Citas William Marrion Branham Mensajes Sana tu orgullo herido, Contacto Cero la mejor venganza a ... Gente Regia - 'Cita de control de niño sano' cita. dos - YouTube //Cita a ciegas// ღ•Sana_Chan_uwu•ღ - YouTube MÚSICA CRISTIANA DE ADORACIÓN PARA LLORAR  ALABANZAS ... YouTube

SANNA Web

  1. #17 Episod Cita Cita Didi & Friends - YouTube
  2. Dios sana toda enfermedad Citas William Marrion Branham Mensajes
  3. Sana tu orgullo herido, Contacto Cero la mejor venganza a ...
  4. Gente Regia - 'Cita de control de niño sano'
  5. cita. dos - YouTube
  6. //Cita a ciegas// ღ•Sana_Chan_uwu•ღ - YouTube
  7. MÚSICA CRISTIANA DE ADORACIÓN PARA LLORAR ALABANZAS ...
  8. YouTube
  9. ღ•Sana_Chan_uwu•ღ //cita a ciegas parte 2// - YouTube
  10. 24 HORAS COMIENDO ROSA RETO SandraCiresArt All Day ...

Enjoy the videos and music you love, upload original content, and share it all with friends, family, and the world on YouTube. Sinopsis Seronoknya main berlakon. Didi jadi bomba, Nana jadi doktor, Jojo jadi jurutera dan Happy Bear jadi pelukis. Apa cita-cita kawan-kawan? Cerita-Cerit... Citas románticas: #parejas #amistad #Tips #lifestyle #amor #love ️ videos y entretenimiento. ... Neia Gomes Evoluciona Ama y Sana - Channel Subscribe Subscribed Unsubscribe. SERGIO MORRAL - Channel Enjoy the videos and music you love, upload original content, and share it all with friends, family, and the world on YouTube. Es Dios que sana, pues Él dijo: “Yo soy el Señor que sana todas tus dolencias”. Así es que todo debería funcionar en armonía, y los hombres en los diferentes ministerios deberían obrar ... Gente Regia - Cita prenatal con el pediatra - Duration: 3:48. Televisa Monterrey 50,314 views. 3:48. The Family: Hospital Visit from The Carol Burnett Show (full sketch) - Duration: 14:31. Enjoy the videos and music you love, upload original content, and share it all with friends, family, and the world on YouTube. Si sientes que tú orgullo herido te impide pasar página. Si tienes una fuerte sed de venganza, en este vidrio quiero ayudarte a lidiar con estas emociones qu... Suscríbete y Nunca Más Estarás Triste! → http://bit.ly/28Xu4WO Hoy hacemos el Reto de 24 HORAS COMIENDO ROSA! Se ha puesto muy de moda y trending el Challeng... MÚSICA CRISTIANA DE ADORACIÓN PARA LLORAR ALABANZAS CRISTIANAS VIEJITAS Lista de canciones: 00:00 Alaba A Dios – Danny Berrios 05:18 El Digno Dios – Alfare...